22 March 2020, 17:05 WIB

Pemerintah Sampaikan Belasungkawa


Indriyani Astuti | Humaniora

Juru Bicara Pemerintah untuk pnanganan covid-19 Achmad Yurianto mengatakan pemerintah menyatakan keprihatinan mendalam atas meninggalnya sejumlah tenaga kesehatan di tengah pandemi virus covid-19 di Tanah Air.

"Pemerintah menyatakan keprihatinan mendalam dan duka cita yang sedalam-dalamnya atas beberapa tenaga kesehatan yang terpaksa harus menjadi korban dari penyakit covid-19," kata pria yang akrab disapa Yuri dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (22/3).

Pemerintah, lanjutnya, bersedih karena hal itu, tapi pemerintah sangat menghargai tenaga kesehatan yang sudah mendedikasikan diri pada bangsa dan negara.

"Pemerintah bersedih untuk ini, dan kami menyampaikan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya. Yakinlah kita berada dalam pengabdian yang benar, profesional dan kita berikan semuanya untuk kebaikan rakyat kita yang dicintai ini," jelasnya.

Yuri juga mengingatkan bagaimana pembatasan sosial harus dilakukan pada saat melakukan kegiatan sosial. Dia berharap hal itu bisa diimplementasikan oleh masyarakat, sampai pada tahapan setiap komunitas mampu menjaga lingkungan.

"Saling mengawasi, mengingatkan dan kemudian saling membantu, karena pada hakikatnya inilah jati diri bangsa yang selalu bergotong royong, selalu memiliki tenggang rasa sosial, bersama-sama menghadapi covid-19," terang Yuri.

Sebelumnya, sebanyak tiga dokter meninggal dunia akibat COVID-19, yakni dr Hadio Ali Khazatsin, dr Djoko Judodjoko, dan dr Adi Mirsa Putra.

Baca juga: Dokter Pelapor Pertama Virus Korona Meninggal

Sementara itu, Yuri kembali mengungkap data tambahan kasus positif covid-19 di Indonesia bertambah sebanyak 64 kasus menjadi 514 kasus dengan angka kematian bertambah 10 orang menjadi 48 orang.

"Ada penambahan kasus yang sembuh. Sudah dua kali dites hasilnya negatif sebanyak sembilan orang, menjadi 29 orang," ujar Yuri.

Penambahan sebanyak 64 kasus baru tersebut berasal dari DKI Jakarta (40 kasus), Jawa Barat (4 kasus), Jawa Tengah (1 kasus), Jawa Timur (15 kasus), Kalimantan Selatan (1 kasus), Maluku (1 kasus), dan yang terbaru adalah Papua (2 kasus).

Dia menambahkan data tersebut sudah diserahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi untuk kemudian dilanjutkan ke rumah sakit, untuk lanjutan layanan rumah sakit. Kemudian diberikan kepada dinas setempat untuk kepentingan penelusuran kontak.

"Informasi ini sudah dilaporkan kepada masing-masing kepala daerah," kata Yuri.

Dengan melihat data kasus yang terus naik tersebut, Yuri kembali mengingatkan pentingnya melakukan pembatasan sosial berbasis komunitas. Dalam hal ini pemerintah berharap masyarakat saling mengingatkan dan mengawasi. Semua harus berperan dalam penanganan pandemi ini, tidak bisa hanya pemerintah saja, melainkan butuh sinergitas dari seluruh komponen dan utamanya masyarakat itu sendiri.

Beberapa pembelajaran baik sudah didapatkan dari beberapa kasus. Pemerintah juga sedang menyiapkan rumah sakit tambahan, "screening" tes dengan menggunakan rapid test. Obat-obatan yang akan digunakan sudah dimiliki.

"Namun sekali lagi, obat-obatan ini atas resep dokter, atas indikasi yang diberikan oleh dokter. Tidak dibenarkan untuk disimpan sendiri dan diminum dalam rangka pencegahan. Karena upaya pencegahan dilakukan dengan minum obat tertentu," jelas dia.

Dia mengingatkan upaya membatasi kontak merupakan cara pencegahan terbaik. "Selain itu, jaga imunitas diri agar tetap sehat dan lakukan aktivitas di rumah. Ini penting," tandasnya. (OL-14)

 

BERITA TERKAIT