22 March 2020, 13:52 WIB

Apindo: Covid-19 Sebabkan Banyak Perusahaan Tutup


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

ADANYA pembatasan aktivitas sesuai dengan seruan Pemerintah pusat dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah dijalankan kalangan pengusaha. Sebagian besar perusahaan membatasi atau menghentikan aktivitas mereka.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani, mengatakan kalangan pengusaha telah menilai wabah virus korona (Corona-19) dengan lebih pragmatis karena penyebarannya yang sangat berbahaya.

"Ternyata virus ini memang mematikan. Perusahaan mulai berpikir untuk membatasi penularan itu. sehingga perusahaan responnya cukup bagus dan menyadari itu tentu dengan konsekuensi-konsekuensi juga berat," kata Hariyadi saat dihubungi, Minggu (22/3).

Menurutnya perusahaan sudah menghentikan aktivitas karena dilai sudah tidak lagi efektif. Jika aktivitas perusahaan diteruskan, perusahaan justru akan merugi.

Dirinya juga mencontohkan perusahaan manufaktur yang mengambil bahan baku dari Tiongkok. Saat ini bahan baku asal negeri tirai bambu tersebut sulit didapat karena virus korona.

Baca juga: SCI Usulkan Sistem Logistik saat Tanggap Darurat Covid-19

Selanjutnya, bisnis di bidang restoran dan perhotelan paling terdampak dari awal Januari yang mulai mengalami penurunan konsumen. Pemulihannya pun paling lambat. Masing-masing bidang usaha memiliki karakter dan masalah sendiri-sendiri.

"Contohnya hotel jika okupansi sudah single digit mending tutup saja. Kalo hotel okupansi memang susah drop kalau dibuka malah tambah rugi. kalo manufaktur ketidakadaan bahan baku penjualannya juga menurun," jelasnya.

Apindo sendiri memikirkan tiga hal yang dikhawatirkan oleh perusahaan akibat kondisi saat ini. Pertama, berapa lamanya penyebaran wabah virus korona ini akan sangat berpengaruh pada produktivitas dari perusahaan.

Kedua, selama adanya wabah berapa biaya yang harus ditanggung perusahaan, sementara sebaliknya pendapatan sangat minimal. Dalam hal ini, setiap perusahaan memiliki komitmen biaya terutama biaya karyawan meski tidak masuk kerja.

"Terakhir, bagaimana juga jadi pemikiran pemulihannya bagaimana. Pasti cadangan dananya juga berkurang drastis itu di luar pada kondisi umum. Saat ini sudah bicara penularan, bukan bisnis lagi," ucapnya. (A-2)

BERITA TERKAIT