22 March 2020, 12:09 WIB

SCI Usulkan Sistem Logistik saat Tanggap Darurat  Covid-19


Dwi Tupani | Ekonomi

CHAIRMAN Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan untuk menekan penyebaran wabah Covid-19, pergerakan barang dan manusia memang harus dibatasi sekaligus dikendalikan. Hal ini baik pada wilayah yang telah maupun belum/tidak menetapkan status tanggap darurat bencana.

Namun, barang kebutuhan pokok tetap harus terpenuhi sehingga diperlukan sistem logistik yang menjamin pendistribusiannya dengan meminimalkan potensi penyebaran wabah.

"Pengendalian pergerakan ini dilakukan dalam proses pengiriman barang dari sumber pasokan ke dalam kota maupun dalam penyampaian barang ke pelanggan," ujar Setijadi dalam keterangan resmi, Minggu (22/3).

Setijadi menyatakan bahwa langkah awal dalam membangun sistem logistik tanggap darurat bencana ialah pemetaan rantai pasok, baik permintaan maupun pasokannya.

"Frekuensi pembelian dan pengiriman dapat dikurangi dengan volume pemesanan yang tinggi. Namun harus dipertimbangkan kemampuan penyediaan pasokan. Jika stok terbatas, volume pembelian justru harus dibatasi," tuturnya.

Penentuan volume pembelian ini juga harus mempertimbangkan kelompok masyarakat yang terbatas dananya. Pertimbangan lain adalah kapasitas penyimpanan rumah tangga dan ketahanan bahan pangan, seperti sayur, juga terbatas.

Membangun sistem logistik baru membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang berikut pendanaan yang besar. Sebaiknya, upaya itu dibarengi pemanfaatan sistem distribusi yang sudah berjalan, misalnya sistem distribusi pasar modern.

Baca juga: Atasi Covid-19, PMI Bangun Gudang Logistik Tambahan

Selain itu, Setijadi menjelaskan bahwa sistem logistik itu harus meminimalkan kedatangan, pertemuan, dan kerumunan pembeli di toko ritel (minimarket dan supermarket) yang berpotensi meningkatkan penyebaran wabah Covid-19.

"Sistem ini memposisikan jaringan toko ritel sebagai pusat distribusi di masing-masing wilayahnya dan menjalankan proses konsolidasi dan in-transit mixing. Toko ritel beroperasi seperti gudang tanpa kedatangan pembeli dengan driver transportasi online sebagai kurir," tambahnya.

Minimalisasi interaksi juga harus dilakukan dalam proses penyerahan barang kepada pemesan. Misalnya, driver cukup menaruh barang belanjaan di teras rumah pemesan.

Proses pengiriman barang harus memperhatikan keamanan operator pengiriman (supir truk, driver transportasi online, dll.) dari risiko penularan wabah. Mereka harus dilengkapi masker, hand sanitizer, dan bahan pembersih armada dan barang bawaan.

"Keamanan operator pengiriman ini sangat penting tidak hanya untuk mereka namun juga bagi petugas toko ritel, konsumen pembeli, dan masyarakat umum," ulasnya.

Sistem pembelanjaan online ini dapat mengurangi potensi penularan wabah terhadap pegawai toko ritel. Sistem ini juga akan dapat mengurangi penurunan pendapatan driver transportasi online akibat penurunan jumlah penumpang karena dampak wabah ini. (RO/A-2)

BERITA TERKAIT