21 March 2020, 20:40 WIB

Setumpuk Drama Siswa saat Belajar di Rumah


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

SUDAH hampir seminggu lamanya sejumlah sekolah meniadakan kegiatan belajar mengajar secara langsung/tatap muka sebagai antisipasi penyebaran virus corona (Covid-19), sesuai instruksi pemerintah. Sebagai gantinya, para guru menggelar kegiatan belajar mengajar di rumah dengan memanfaatkan teknologi digital.

Rupanya metode ini membuat sejumlah siswa dan orang tuanya kewalahan. Mesya misalnya, ibu dari dua orang anak yaitu Satrio yang duduk di kelas 1 SMP dan Elsya di kelas 3 SD di kawasan Pondok Cabe Tangerang Selatan mengaku kewalahan dengan tugas yang diberikan oleh guru anaknya.

Dia menjelaskan, setiap hari Satrio, putranya harus sekolah online pada pukul 07.10-14.50 WIB. Tugas yang diberikan oleh gurunya pun bermacam-macam, ada yang memanfaatkan video conference, dialog interaktif melalui grup, dan ada pula yang hanya menugaskan tanpa memberi penjelasan.

“Tugasnya dalam sehari bisa empat sampai lima mapel (mata pelajaran). Setiap mapel dikasih tiga sampai lima soal tapi dalam bentuk esai,” kata Mesya saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (21/3).

Tidak jarang Satrio baru menyelesaikan tugasnya menjelang Maghrib. Sebab, tugas yang diberikan pada hari itu harus langsung dikumpulkan, jika tidak maka akan menumpuk keesokan harinya.

Dia pun merasa kewalahan karena ada beberapa mata pelajaran yang harus dikerjakan dalam waktu yang cukup singkat.

“Belum selesai tugas mapel pertama, eh sudah muncul tugas mapel kedua, ketiga, dan seterusnya. Anak jadi stres mana yang mau dikerjain duluan,” ujarnya.

Sedangnya Elsya yang duduk di kelas 3 SD melakukan sekolah online pada pukul 10.00-12.00 WIB dengan melalui dialog dalam forum. Dalam forum tersebut, akan memberikan penjelasan kemudian memberi tugas berupa soal esai. Ada pula guru yang memberikan soal multiple choice dengan menggunakan Google.

Terkadang anak-anak merasa kesulitan karena sang guru justru hanya mengirimkan tugas tanpa memberi penjabaran. Selain tugas yang banyak dan minimnya penjelasan dari guru, siswa dan orang tua juga kerap menemui kesulitan dalam menggunakan aplikasi digital.

“Cara kirim soalnya ribet. Ibu-ibu di grup pada bingung karena tidak bisa kirim (tugas). Banyak ibu yang tahunya Cuma pakai WA grup tidak tahu Google Classroom dan lain-lain,” ujarnya.

Mesya mengaku kerepotan untuk mendampingi anak-anaknya belajar di rumah, sebab sebagai seorang karyawan dia pun harus menyelesaikan pekerjaannya.

“Anakku yang kelas 1 SMP bilang, enaknya sekolah daripada daring. Aku lihat (anak-anak stres) sampai nangis yang SD,” ungkapnya.

Kesulitan yang sama juga dialami oleh Indri, ibu dari siswi kelas 1 SD di Tangerang bernama Nana. Meski putrinya masih mendapatkan tugas dalam batas wajar, namun Indri kerepotan mendampingi sang putri karena tugas tersebut harus dikerjakan sesuai jadwal.

Padahal, dia yang merupakan seorang karyawan juga harus mengerjakan pekerjaannya.

“Yang repotnya kalau orang tuanya kerja. Sementara gurunya minta agar schedulenya disesuaikan, misalnya jam 8 pagi mengaji, terus bikin jurnal, yang repot kalau ibunya lagi mantau live streaming,” tuturnya.

Kegiatan Nana pun harus dilaporkan setiap hari kepada sang guru dengan menggunakan Google Form.

“Setiap hari gurunya pantau dari jam 8-10 pagi lewat WA grup. Bagaimana hari ini, jurnal pagi sudah dibikin belum, nanya-nanya begitu,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim telah meminta Dinas Pendidikan ataupun Pimpinan Perguruan Tinggi dapat memberikan pedoman atau prosedur teknis pelaksanaan pembelajaran daring dengan mengacu pada kebijakan bekerja dari rumah yang ditetapkan pemerintah.

"Ini kan kewenangan masing-masing Dinas Pendidikan ataupun Perguruan Tinggi. Bisa diatur lebih lanjut detil prosedurnya, mekanismenya. Apa-apa saja yang menjadi hak dan tanggung jawab masing-masing. Sehingga ada kejelasan dan tidak terjadi kebingungan. Pemda perlu konsisten memberikan arahan mengenai hal ini,” terang Nadiem.

Dia menambahkan, pedoman tersebut juga harus memerhatikan situasi, kondisi, juga tantangan setempat, sehingga diharapkan tidak menjadi beban tambahan dalam implementasinya.

"Bisa jadi pedoman tersebut tidak sama untuk antarjenjang, antarprogram atau antarwilayah," ujarnya.

Nadiem memahami perubahan pola pembelajaran yang mendadak tidak mudah dilakukan. Bahkan, bagi beberapa pihak hal ini masih sangat baru. Namun, ia mendorong semua pihak merespons situasi saat ini dengan bijak.

"Saya tahu ini tidak mudah bagi semua pihak, tetapi kita harus mencoba. Tujuan utamanya adalah memastikan hak memperoleh pendidikan tetap berjalan, sesuai anjuran Bapak Presiden untuk bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah di rumah," katanya.

"Tidak harus selalu memakai peralatan yang canggih, tetapi bisa juga dilakukan dengan metode sederhana. Yang paling penting adalah komunikasi," imbuhnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT