21 March 2020, 07:00 WIB

Sepak Bola di Ujung Tanduk


Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

AKHIR tahun lalu manajemen Manchester United menggambarkan prospek bisnis yang optimistis. Kepada pelaku pasar modal, mereka menyampaikan bahwa pendapatan perusahaan pada 2020 akan bisa mencapai 560 juta pound sterling hingga 580 juta pound sterling. Adapun keuntungan sebelum pajak dan depresiasi (EBITDA) berada pada kisaran 155 juta pound sterling hingga 165 juta pound sterling.

Dengan jumlah fan mencapai 1,1 miliar di seluruh dunia, ‘Setan Merah’ merupakan salah satu klub sepak bola paling menguntungkan di dunia. Mereka salah satu klub sepak bola yang mencatatkan saham di lantai bursa London.

Manchester United mengandalkan pendapatan pertama-tama dari pertandingan yang dimainkan. Dengan tidak berlaga di Liga Champions, tahun lalu penerimaan dari hak siar televisi memang menurun 9,9 juta pound sterling menjadi 32,9 juta pound sterling. Namun, penerimaan dari penyelenggaraan pertandingan di Liga Premier naik sebesar 5,8 juta pound sterling menjadi 22,1 juta pound sterling.

Kehadiran bintang baru asal Sporting Lisbon Bruno Fernandes menjadi modal bagi ‘Setan Merah’ untuk bisa menangguk pendapatan. Apalagi Fernandes mencuat sebagai idola baru. Penampilan yang menawan membuat orang menunggu penampilan bintang asal Portugal itu.

Fernandes diprediksikan menjadi Cristiano Ronaldo baru bagi Manchester United. Kostum nomor 18 menjadi incaran pendukung fanatik ‘Setan Merah’. Apalagi ia terpilih sebagai pemain terbaik bulan Februari karena bisa menyumbangkan tiga gol bagi Manchester United dan membuka banyak peluang bagi rekan-rekannya.

Set-piece indah yang dilakukan bersama Anthony Martial saat menaklukkan Manchester City 2-0 masih menjadi pembicaraan pecinta sepak bola. Bagaimana Fernandes bisa memberikan umpan yang begitu terukur sehingga bisa jatuh persis di depan Martial yang sedang berlari dan kemudian melakukan tendangan voli yang gagal ditahan kiper Ederson.

Semua harapan untuk bisa menangguk keuntungan dari kehadiran Fernandes kini tiba-tiba meredup. Keputusan Football Association dan pengelola Liga Premier untuk menghentikan kompetisi akibat merebaknya virus korona mengakibatkan roda bisnis benar-benar terhenti.

Pelatih Ole Gunnar ­Solskjaer sejak awal pekan lalu memutuskan untuk tidak lagi melakukan latihan bersama. Setiap pemain diminta menjaga kebugaran di tempat masing-masing. Semua pemain mengalami isolasi mandiri dan tidak boleh berhubungan dengan yang lain.

Virus korona menjadi ancaman yang menakutkan. Apalagi pelatih Arsenal Mikael Arteta sudah dinyatakan positif terjangkit virus korona. Hal yang sama dialami penyerang Chelsea Callum Hudson-Odoi.
Belum bisa dipastikan kapan kompetisi musim ini akan digulirkan kembali. Dengan semakin merebaknya penyebaran, rencana penghentian selama dua pekan harus ­diperpanjang. Liga Premier tidak mau kerumunan penonton dalam jumlah besar akan jadi sumber penyebaran penyakit yang lebih mematikan.

Ancaman bangkrut
Terhentinya roda kompetisi secara tiba-tiba menjadi sebuah malapetaka. Para pemain sepak bola yang biasanya setiap pekan menerima gaji ratusan ribu pound sterling, tiba-tiba kehilangan pendapatannya.

Padahal, gaya hidup para pemain sepak bola membuat profesi ini menjadi impian banyak anak muda Inggris. Mereka rela untuk mengikuti akademi sepak bola di tengah keharusan menyelesaikan bangku sekolah karena iming-iming gelimangan uang sebagai pemain sepak bola.

Memang dengan tabungan yang dimiliki, para pemain pasti masih bisa bertahan. Akan tetapi, bagi mereka yang hidup sebagai pendukung kegiatan pertandingan, kondisi sekarang ini benar-benar sebuah malapetaka.

Petugas penjaga tiket, petugas pengawas lapangan, tukang potong rumput, pedagang makanan di dalam stadion, benar-benar terpukul dengan keadaan sekarang. Dengan tidak adanya pertandingan praktis tidak ada pekerjaan yang memungkinkan mereka untuk bisa memperoleh gaji mingguan.

Klub-klub tidak bisa lagi diandalkan sebagai penopang karena mereka pun terancam bangkrut. Utang mereka kepada perbankan tidak bisa terbayarkan karena tidak ada pemasukan dari pertandingan. Apalagi, kontrak dengan sponsor juga terancam dihentikan karena force majeure.

FA kini terpaksa berjuang untuk pertama-tama menyelamatkan keberadaan klub-klub. Terutama klub-klub kecil yang pendanaan keuangannya terbatas tidak bisa dibiarkan gulung tikar. Itu karena mereka mempunyai sejarah yang panjang, bahkan tidak sedikit yang sejarahnya sama dengan sejarah FA.

Chief Executive FA Mark Bullingham mengatakan, pihaknya terus berkomunikasi dengan pemerintah Inggris untuk mencari jalan guna menghindarkan klub-klub Inggris dari kebangkrutan.

"Apabila dilihat sebagai piramida, yang paling perlu mendapat perhatian adalah mereka yang ada di bagian bawah. Mereka jumlahnya banyak dan mereka yang paling kesulitan," ujar Bullingham.

Menteri Keuangan Inggris Rishi Sunak sudah mengeluarkan paket kebijakan sebesar 330 miliar pound sterling untuk menyelamatkan bisnis di negara yang terimbas virus korona. Bullingham berharap, paket kebijakan itu berlaku juga bagi industri sepak bola yang juga terpukul oleh virus yang menjadi pandemi itu.

Sepak bola Eropa
Ketidakpastian tentang kelanjutan kompetisi membuat masa depan sepak bola Eropa juga menjadi tidak menentu. Kalau musim ini tidak berlanjut, musim mendatang kompetisi antarklub Eropa tidak bisa digelar. Pasalnya, tidak tahu siapa yang berhak tampil di Liga Champions dan siapa yang akan bermain di Liga Eropa.

Untuk menjaga kelangsungan masa depan sepak bola Eropa, mulai ada pemikiran untuk melanjutkan kompetisi, tetapi tanpa penonton. Dalam jangka pendek, langkah ini memang merugikan karena klub-klub tidak bisa mendapatkan pemasukan dari pertandingan. Namun, di masa depan mereka bisa mengompensasi melalui kompetisi Eropa yang bisa diputar.

Potensi pendapatan dari kompetisi Liga Eropa memberi kontribusi yang signifikan kepada keuangan klub. Bagi klub-klub papan atas, mereka mendapatkan jaminan untuk memperoleh pendapatan dari dua ajang kompetisi. Belum lagi kompetisi atarklub yang diselenggarakan asosiasi sepak bola, seperti Piala FA di Inggris.

Asosiasi Sepak Bola Eropa sudah pasrah dengan penyelenggaraan Piala Eropa yang seharusnya digelar Juni mendatang. Mereka merasa tidak mungkin kejuaraan antarnegara digelar tahun ini karena dua kemungkinan.

Pertama, kalau virus korona bisa dikendalikan, semua negara pasti akan fokus menyelesaikan terlebih dahulu kompetisi di negaranya. Kedua, kalau virus korona masih merebak, tidak mungkin Piala Eropa 2020 ini bisa digelar.

Oleh karena itu, keputusan yang diambil ialah mengundurkan penyelenggaraan Piala Eropa menjadi tahun depan, meski konsekuensinya setahun kemudian negara-negara Eropa harus mengikuti Piala Dunia 2022 di Qatar.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengapresiasi sikap asosiasi-asosiasi sepak bola yang bersama-sama berupaya mencari jalan keluar dari kesulitan ini. Ia berharap kompetisi antarklub di setiap negara bisa diselesaikan sebelum 30 Juni, meski harus dilakukan tanpa penonton.

Bullingham masih akan membahas masalah ini dengan semua klub di Inggris.

"Kita memang baru pertama kali mengalami situasi seperti sekarang. Kami belum mengambil keputusan untuk melanjutkan kompetisi tanpa penonton, tetapi tidak ada salahnya menjadi salah satu solusi," kata petinggi FA itu.

BERITA TERKAIT