21 March 2020, 02:20 WIB

Siswa MAN Kebanjiran Order Sanitizer


(DW/AD/LD/OL/YP/WJ/JS/YH/YK/HS/SS/AT/MT/RF/JI/RZ/HIN-3) | Nusantara

CAIRAN pembersih tangan yang mengandung antiseptik (hand sanitizer) saat ini sulit didapat. Harganya pun melangit. Padahal, hand sanitizer dibutuhkan warga untuk melindungi diri dari penularan virus korona.

Persoalan itu kemudian diatasi sejumlah kelompok masyarakat dengan memproduksi hand sanitizer sendiri. Seperti di Palembang, Sumatra Selatan, para siswa MAN 3 Palembang berinisiatif membuat hand sanitizer secara mandiri.

Seorang guru MAN 3, Suprihatin, bersama para siswa membuat sanitizer berstandar WHO dengan dibantu Tim Club Kimia MAN 3, di antaranya Adila Reva dan Lutfia Mutmainah.

Menurut Suprihatin, pembuatan hand sanitizer tersebut telah dimulai sejak Senin ((16/3). "Awalnya kami membuat ini karena kesulitan mencari hand sanitizer. Lalu kami mencoba mencari alternatif untuk membuat sendiri. Ide ini muncul dari siswa," ungkapnya, kemarin.

Kini, sanitizer produksi para siswa MAN 3 Palembang banyak diincar konsumen dari para guru, madrasah lainnya, juga kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat. "Total ada 1.000 orderan yang kami peroleh," jelas Suprihatin.

Kepala MAN 3 Palembang, Komariah Hawa, menyatakan bangga atas inisiatif para siswa dalam membuat hand sanitizer. "Hasilnya sudah kita pakai di sekolah, bahkan banyak yang memesan produk kami," tuturnya.

Upaya membuat hand sanitizer secara mandiri juga dilakukan staf, dosen, dan para mahasiswa Program D-3 Farmasi Stikes Muhammadiyah Ciamis, Jawa Barat. Mereka membuat hand sanitizer secara mandiri untuk membantu warga yang membutuhkan.

Tunggu pemkab

Di Banyumas, Jawa Tengah, ratusan perajin ciu di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, bersiap mengubah minuman keras jenis ciu menjadi bahan hand sanitizer. Namun, mereka meminta bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas untuk merealisasikan hal tersebut.

Kepala Desa Wlahar, Narsim, mengungkapkan di Wlahar terdapat sekitar 400 perajin ciu yang setiap hari mampu memproduksi 10-30 liter.

"Dengan adanya wacana dari Pemkab Banyumas yang akan meminta perajin mengubah ciu menjadi alkohol dengan kadar 80%, perajin sangat mendukung. Apalagi, produksi ciu di Wlahar telah menjadi bagian dari kehidupan warga secara turun-temurun," jelas Narsim.

Dia melanjutkan, sejauh ini sudah ada perajin yang telah mencoba memproduksi alkohol dari ciu, dan ternyata berhasil dengan kandungan sampai 80%.

Sementara itu, Pemerintah Kota Denpasar, Bali, memesan 1.000 alat rapid test dan 700 alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di kota itu. Hal Serupa dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatra Utara. (DW/AD/LD/OL/YP/WJ/JS/YH/YK/HS/SS/AT/MT/RF/JI/RZ/HIN-3)

BERITA TERKAIT