20 March 2020, 21:31 WIB

Tahukah Beda Pemeriksaan Rapid Test dan PCR?


Atalya Puspa | Humaniora

PEMERINTAH akan segera melakukan deteksi virus novel korona (covid-19) menggunakan alat rapid test. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi secara cepat pasien yang berpotensi terpapar covid-19.

Lantas, apa bedanya deteksi covid-19 menggunakan alat rapid test dengan PCR yang selama ini telah digunakan?

Juru Bicara Nasional untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebut, metode yang digunakan dalam rapid test akan berbeda dengan PCR.

Dalam rapid test, diagnosa akan dilakukan lewat pengambilan sample darah. Sementara pemeriksaan menggunakan alat PCR selama ini dilakukan dari sample usapan rongga mulut dan rongga hidung.

"Metode pemeriksaan massal berbeda denngan metode yang selama ini kita tegakan untuk melakukan diagnosa. Diagnosa adalah pemerikasaan molekuler yang kita dapatkan dari usapan dinding hidung belakang menggunakan alat bernama PCR. Sedangkan pada pemeriksaan massal kita lakukan pemeriksaan melaui darah. darah diambil sedikit, dan diperiksa, dan dalam waktu kurang dari dua menit akan kita bisa selesaikan hasilnya," kata Yurianto dalam telekonfrensi dari Graha BNPB, Jakarta Timur, Jumat (20/3).

Dari segi waktu, pemeriksaan menggunakan alat rapid test memang lebih singkat dibandingkan PCR yang membutuhkan waktu 3-4 hari. Namun, pemeriksaan menggunakan alat rapid test memiliki tingkat sensitivitas yang lebih rendah.

Pada pemeriksaan PCR, material genetika yang dibaca berupa RNA yang akan disamakan dengan model Covid-19 sehingga memiliki tingkat akurasi tinggi. Sementara, dalam pemeriksaan rapid test akan mengidentifikasi imunoglobulin yang merupakan antibodi dalam tubuh seseorang.

Yuriato menyebut, besar kemungkinan orang yang positif terinfeksi Covid-19 menunjukkan hasil negatif, dan orang yang telah sembuh dari Covid-19 menunjukkan hasil pemeriksaan positif.

"Kalau positif kita akan lanjutkan ke pemeriksaan PCR. karena kalau positif, bisa saja orang yang sudah terinfeksi dan sembuh, hasilnya positif. Karena dasarnya zat imunoglobulin secara alami sebagai respon adanya virus dalam tubuhnya. kalau kasusu sembuh positif.

Kalau kasus terinfeksi negatif, ini disebabkan respon imunoglobinnya belum terbentuk. Ini dibutuhkan waktu 1-6 hari," tutur Yurianto.

Dirinya menegaskan, bukan berarti semua orang bisa menjalani rapid test ini. Hanya orang-orang berisiko yang nantinya akan diperiksa. Berdasarkan hitungan sementara yang telah disusun, sebanyak 600 ribu hingga 700 ribu orang yang memiliki risiko terpapar Covid-19 akan mengikuti rapid test.

"Gak semua orang harus diperiksa. kalau ada orang dirawat positif, dimana dia berada sewlama 14 hari itu kita lacak. Misalnya dia ada di rumah, di rumah semua diperiksa, di kantor semua diperiksa," jelasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT