20 March 2020, 19:57 WIB

Pandemi Korona Momentum Teliti Curcumin secara Ilmiah


Mediaindonesia.com | Humaniora

PANDEMI Covid-19 atau virus Korona sejatinya dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk lebih fokus meneliti khasiat obat herbal, khususnya yang mengandung curcumin, secara ilmiah. Sebab, meski obat-obatan herbal kebanyakan hanya untuk antibodi, namun setidaknya bisa menenangkan masyarakat.

Apt Rekayasa Obat dari Bahan Alami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr rer nat Chaidir mengungkapkan, Indonesia sebenarnya sudah sejak 1990-an memiliki visi untuk membangun industri bioteknologi, yang salah satunya mengembangkan obat antibiotik.  Alhasil, Indonesia punya tenaga ahli yang cukup, selain juga memiliki keaneragaman hayati yang melimpah.

Baca juga: Ilmuwan UI-IPB Ungkap Jambu Biji Berpotensi Jadi Antivirus Korona

“Tujuannya untuk mengatasi situasi seperti ini (pandemi Covid-19). Kita harus mampu memberikan respons secara saintifik menciptakan obat atau vaksin,” ujar  Chaidir di Tangerang Selatan, Banten, Jumat (20/3).

Dia menyebut obat herbal sejatinya memang lebih difokuskan untuk meningkatkan imunitas tubuh. Misalnya dalam kasus Covid-19 terjadi radang paru-paru, masyarakat dapat menggunakan obat herbal yang mengandung curcumin dalam rempah-rempah, seperti kunyit dan temulawak.

Hal itu mungkin dapat mengatasi inflamasi dan meningkatkan daya tahan tubuh dalam tahap tertentu. Akan tetapi, ia mengingatkan bukan berarti obat herbal mampu menyembuhkan penyakit Covid-19. 

“Curcumin dalam temulawak dan kunyit bukan untuk mengobati infeksi tapi mencegah penyakit dan meningkatkan daya tahan tubuh. Namun jangan dikonsumsi secara berlebihan,” kata dia.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Muhammad Hanafi menambahkan, selama ini curcumin dikenal punya banyak manfaat. Misalnya, pengobatan hepatitis B.

Hanya, tidak mudah membuat obat medis dari curcumin herbal-kunyit. Menurut Hanafi, untuk menguji curcumin agar menjadi obat bisa dilakukan dengan cara mengujinya ke binatang yang disuntikkan terlebih dulu dengan virus Korona.

Lalu binatang tersebut diberikan curcumin murni. Pemberiannya diberikan tergantung dosisnya seperti penggunaan obat untuk satu penyakit. Sayangnya, para peneliti tersebut belum memiliki sampel virus Korona yang kini masih berada di rumah sakit rujukan.

Peneliti LIPI lain, Dr Akhmad Darmawan, menjelaskan, obat tradisional biasanya hanya untuk meningkatkan imunitas tubuh tapi tidak begitu berpengaruh kepada aspek resepstor penyakit. "Pada dasarnya tubuh kita bisa membuat antibodi sendiri dan dibutuhkan waktu 7 hari dalam membentuk antibodi," tuturnya.

Ketika ada virus yang sama masuk ke tubuh, antibodi tidak butuh waktu lama untuk menangkal virus. Kesimpulannya, kata Akhmad, kita harus membiasakan diri hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi dan sehat, olahraga, dan minum vitamin. (Ant/A-1)

BERITA TERKAIT