20 March 2020, 13:33 WIB

Kisah Jurnalis PDP Covid-19 saat Jalani Tes Pemeriksaan


Yakub Pryatama Wijayaatmaja | Humaniora

SALAH satu jurnalis yang berbasis di Jakarta berstatus pasien dalam pengawan (PDP) virus korona (Covid-19) bercerita soal pengalamannya sebelum dan selama menjalani masa isolasi.

Seorang jurnalis berinisial T, 25, merasa was-was ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi positif virus korona (covid-19), Sabtu (14/3) malam. Pasalnya, T sempat berjumpa untuk mewawancara Budi dengan jarak wawancara kurang dari satu meter, pada 3 Februari silam.

Baca juga: Terapkan Social Distancing, Layanan Pembayaran Pajak Dibatasi

T merasa cukup lega. Sebab, dirinya telah melewati masa inkubasi 14 hari terhitung sejak bertemu Budi.

Namun, T teringat dengan liputannya di Amigos Cafe, Kemang Jakarta Selatan, yang menjadi salah satu lokasi interaksi Warga Negara (WN) Jepang dengan pasien nomor 01 dan 02, sekitar 3 Maret kemarin.

Rasa lega yang dirasakan T tiba-tiba hilang dan pikiran menjadi tak menentu.

Badannya mulai lemas. Dadanya terasa berat karena adanya dahak yang menumpuk. Namun, ia optimistis lantaran tetap beraktivitas melakukan kerja-kerja jurnalistik.

Akhirnya T mencoba mendatangi rumah sakit yang tak jauh dari Kebun Binatang Ragunan untuk tes korona. Tahapnya, screening awal dengan konsultasi terlebih dahulu riwayat bertemu dengan pasien positif, cek tensi, dan cek suhu tubuh.

“Lebih kaget lagi, di sini tak ada istilah social distance, padahal ruang tunggu terbilang cukup luas.Walau semua memakai masker, banyak pasien duduk berjejer di kursi taman berkapasitas 4 orang,” ujar T.

Lalu, T diarahkan ke Poli Paru untuk berkonsultasi dengan dokter paru. Karena ada riwayat kontak dengan Menteri Perhubungan dan ke Amigos, T pun langsung dikategorikan sebagai PDP.

Setelah melalui tes rontgen, dan tes darah, T lantas dianjurkan juga untuk tes swab oleh dokter.

“Saya mengerjakan sejumlah surat persetujuan, di antaranya surat penyataan bahwa saya setuju akan di-swab dan, surat persetujuan spesimen tes swab saya akan dijadikan bahan penelitian,” ucap T kepada Media Indonesia.

Ia diminta oleh pihak rumah sakit untuk datang kembali selama 2-3 hari ke depan.

“Dokter bilang isolasi mandiri 14 hari di rumah, jangan banyak ketemu orang termasuk keluarga di rumah,” tuturnya.

Waktu untuk melakukan tes swab pun tiba. Sebelum di tes, kondisi T semakin membaik karena sudah tidak sesak nafas, namun nyeri sariawan masih menghantui.

T merasa kesigapan rumah sakit sudah maksimal. Namun, dirinya harus ekstra bersabar karena pasien yang membludak membuat antrean panjang dan bisa memakan waktu lama.

Baca juga: Pegawai Bima Arya yang Ikut ke Azerbaijan Juga Positif Covid-19

“Sudah maksimal, cuma emang harus sabar, karena pasien banyak jadi antrean lama,” tuturnya. 

Usai di tes swab pada Kamis (19/3), kini T kembali mengisolasi diri dalam rumah, sampai ada kepastian apakah dirinya negatif, atau positif terinfeksi virus korona covid-19. (OL-6)

BERITA TERKAIT