20 March 2020, 08:16 WIB

Kopi Sanger untuk Pahlawan Kesehatan Covid-19


Ferdian Ananda Majni | Nusantara

dunia tengah khawatir menghadapi pandemi virus korona atau Corona Virus Disease (Covid-19). Tidak terkecuali di Indonesia. Berbagai tindakan dilakukan, ada yang tega memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan dengan menumpuk masker dan hand sanitizer lalu dijual kembali dengan harga selangit.

Para tenaga medis yang menjadi garda terdepan penanganan Covid-19 juga berdampak. Mereka kekurangan stok alat pelindung diri (APD) untuk menangani pasien Covid-19. Di tengah kegelisahan itu, sejumlah dukungan datang untuk menyemangati para pahlawan kesehatan.

Di Banda Aceh, sebuah foto secangkir kopi dengan dua bait caption atau pesan tersebar melalui broadcast di WhatsApp grup. Isinya "Mulai tanggal 18 Maret 2020, Leuser Coffee akan memberikan kopi arabika gayo secara gratis untuk dokter dan perawat yang menangani isu virus korona saat ini hingga pada waktu pemerintah kota menyatakan berakhirnya penyebaran isu Covid-19 di Banda Aceh."

"Bagi teman-teman yang memiliki jaringan atau kenalan Pahlawan kesehatan silahkan datang dan ambil kopi jika dibutuhkan untuk asupan cafein. Semoga ini bisa membantu. Dari kami warga Kota Banda Aceh."

Baca juga: Warga Bergerak Lawan Korona

Malam itu, dua pria dengan cekatan tampak sibuk dari balik bar kopi. Ya, kedua barista itu sedang meracik kopi sanger, puluhan cup kosong tertata di atas meja. Sekejap kemudian satu persatu cup itu diisi kopi sanger panas yang siap diantar ke rumah sakit.

Adalah Danurfan atau akrab disapa Gem, pemuda yang menjadi inisiator berbagi kopi gratis ke para pahlawan kesehatan di Banda Aceh. Sebagai pemilik kedai Leuser Coffee, Gem punya kendali penuh untuk menentukan kebijakan, termasuk berbagi kopi gratis ini.

Kepada Media Indonesia, Jumat (20/3), Gem bercerita tentang awal timbul ide untuk bisa berbagi kopi kepada pahlawan kesehatan Covid-19.

Sejak kasus Covid-19 muncul pertama di Indonesia dan kemudian sejumlah suspek ditemukan di Banda Aceh, dirinya melihat perjuangan orang-orang di rumah sakit sangat melelahkan, terlebih para dokter dan perawat yang justru bertaruh nyawa demi menyelamatkan nyawa orang lain.

"Situasi sekarang ini kan sangat mengancam siapa saja, termasuk mereka di bagian kesehatan. Jadi, saya mikir apa yang bisa dibantu dari warga Kota (Banda Aceh). Saya terpikir bagi kopi secara gratis," kata Gem, Jumat (20/3).

Gayung bersambut, keinginannya berbagi kopi kepada petugas medis di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh disambut antusias. Bahkan hari pertama, ia mengirimkan pesan itu dan mendapatkan order kopi sebanyak 30 cup untuk petugas medis yang sedang bertugas melakukan pengecekan para ODP dan PDP di rumah sakit tersebut.

"Kami berikan kopi gratis ke petugas medis yang bertugas dalam penanganan virus korona ini," sebutnya.

Gem menyebut meminum kopi di sela waktu istirahat dan kemudian melanjutkan tugas sebagai seorang medis, bisa menjadi sumber energi untuk mereka agar tetap prima dan fokus bekerja.

"Bagi petugas medis yang kelelahan dan terbiasa minum kopi untuk staminanya, kami mikir bisa berkontribusi bersama mereka," ujarnya.

Permintaan kopi yang ia tawarkan gratis tidak hanya berhenti pada petugas yang shift siang. Ternyata mereka yang bertugas malam hingga piket juga menaruh minat serupa.

"Mereka bilang bagus untuk stamina mereka, ada yang bergadang karena piket, jadi bisa nambah stamina," paparnya

Hingga hari kedua, sudah hampir seratus cup kopi telah ia bagikan secara gratis dan peminatnya juga bertambah ke satu rumah sakit lainnya yang tengah disiapkan pemerintah Aceh untuk menangani pasien Covid-19.

Gem menyebut ada dua varian racikan kopi yang disediakan, yakni kopi hitam atau americano dan kopi susu atau sanger.

Menariknya, ia tidak membatasi permintaan kopi itu, selagi ada permintaan ia akan menyanggupi. Namun, jam operasional kedai kopi itu mulai pukul 12.00 WIB hingga 23.00 WIB.

"Kami ngak batasi, bisa ambil 20 cup, 50 cup ya sesuai kebutuhan mereka. Mereka biasanya sehari ada 2 atau shift jadi semua dipenuhi," lanjutnya

Penyajian kopi secara take way ini akan berakhir merujuk pada pengumuman pemerintah setempat ketika memastikan pengumuman Social Distancing selesai.

"Kami akan berhenti jika Banda Aceh dinyatakan bebas dari korona," terangnya.

Meskipun secara bisnis, aksi berbagi yang dilakukan Leuser Coffee merugi. Namun, ia lebih tersentuh pada sisi kemanusiaan ketika sekecil apapun bisa berkontribusi untuk penanganan covid-19, khususnya di Aceh.

"Kami ngak bisa ngomong soal rugi atau untung, kami ngomong soal nyawa ini. Ambil hal positif saja, rezeki itu sudah dibagi dan tidak juga bisa berdiam diri jadi apa yang bisa dilakukan pasti kami bantu," tegasnya.

Sejauh ini, belum ada imbauan kedai kopi di Banda Aceh untuk tutup sementara sejalan dengan peraturan Social Distancing selama 14 hari. Namun demikian, terjadi penurunan masyarakat berkunjung ke kedai kopi dimana mereka lebih memilih berdiam di rumah sepanjang hari.

Kebaikan Gem berbagi kopi kepada pahlawan kesehatan Covid-19, mendapatkan apresiasi dari sejumlah kalangan, tidak terkecuali dari petugas medis di RSUZA Banda Aceh.

Misalnya, salah seorang dokter di RSUZA, dr Cut Risya Firlana sangat mengapresiasi dan memuji sikap dermawan serta kepedulian Gem terhadap rekan-rekannya yang dinilai sangat butuh spirit motivasi dari semua pihak.

"Murah hati sekalai, dermawan plus kreatif dan pekerja keras," sebut dokter Acut.

Sikap kepedulian seperti memang patut dibanggakan dan diikuti semua orang, agar bisa berbagi, menghargai dan menghormati perjuangan orang lain. Apalagi ia bisa bersama-sama dengan para medis yang sepanjang waktu menangani pasien.

"Bentuk apresiasi mereka untuk orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk bantu orang lain. Kalau bisa lebih banyak yang bantu. Biar makin semangat kerja petugas kesehatannya," ungkapnya

Di sisi lain, sikap yang ditunjukkan Gem bisa menjadi semangat, motivasi emosional dan rasa penghargaan atas kerja keras serta pengorbanan petugas medis. Apapun caranya, tentu menjadi kekuatan untuk sabar bekerja.

"Muncul rasa terhormat dalam bekerja, Support emosional kayak gitu penting di bangun, biar orang ngam ngeluh dalam bekerja di kondisi gini," lanjutnya

Niscaya, kata Acut, sekecil apapun cara menunjukkan rasa penghargaan ke mereka sangat pantas diapresiasikan. Agar petugas kesehatan tahu, bahwa masyarakat menghargai pengorbanan mereka.

Bagaimana tertarik melakukan kebaikan sekecil apapun?. Tentunya pahlawan kesehatan Covid-19 tidak sendiri, masyarakat ikut bersama-sama berjuang melawan virus ini. Mari berkontribusi untuk penanganan Covid-19 di tempat masing-masing. (OL-1)

BERITA TERKAIT