20 March 2020, 07:55 WIB

Korona, Antara Takdir dan Ikhtiar


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Humaniora

VIRUS korona hari-hari terakhir ini tiba-tiba menjadi isu teologis. Ada yang menganggap pandemi korona (covid 19) sebagai azab Tuhan untuk menghukum anak manusia yang sudah melampaui batas. Semula, alam semesta begitu setia tunduk dan patuh kepada manusia sebagai pemimpin (khalifah) untuk alam semesta.

Allah SWT menundukkan alam semesta kepada manusia. Allah SWT menegaskan, "Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Manusia," (QS al-Hajj/22:65).

Namun, ketundukan alam semesta bukannya tanpa reserve. Alam akan tunduk sepanjang manusia menjalankan kapasitas kekhalifahan dengan benar. Misalnya dalam menjalankan kapasitas kekhalifahan, manusia tidak melampau batas (QS al-Rum/30:41) yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri (QS al-Rum/30:41).

Ketika manusia tidak lagi mengindahkan ketentuan Allah SWT, misalnya, penguasa tidak lagi memihak kepada keadilan dan kemaslahatan umat, mengabaikan akal sehat dan hati nurani, para pebisnis tidak lagi mengindahkan etika bisnis, para ulama dan ilmuwan sudah kehilangan pertimbangan objektivitas, para buruh dan karyawan sudah kehilangan rasa ketulusan, maka ketika itu bencana demi bencana senantiasa mengintai di masyarakat.

Al-Qur'an menginformasikan kepada kita bahwa wabah dan bencana sering kali diawali terjadinya berbagai penyimpangan perilaku dalam masyarakat. Perilaku alam raya makrokosmos sering kali berbanding lurus dengan perilaku manusia mikrokosmos. Misalnya, umat Nuh yang keras kepala (QS 53:52) ditimpa bencana banjir (QS 11:40), umat Syu'aib yang korup (QS 7:85;11:84-85) ditimpa gempa mematikan (QS 11:94), serta berbagai contoh lain.

Alam pun berubah perangai. Hujan tadinya menjadi sumber air bersih dan pembawa rahmat (QS 6:99) tiba-tiba menjadi sumber malapetaka. Angin yang tadinya berfungsi dalam proses penyerbukan tumbuh-tumbuhan (QS 18:45) dan mendistribusi awan (QS 2:164) tiba-tiba tampil ganas (QS 41:16). Dalam berbagai anomali itu muncul korona.

Dalam konteks ini ada kelompok yang memandang cara mengatasi korona tidak cukup melakukan tidakan preventif dan pengobatan medis, tapi perlu diiringi juga pertobatan kolektif. Umat beragama pun disarankan lebih mengintensifkan diri ke rumah-rumah ibadah untuk memohon doa dari Tuhan Yang Mahakuasa.

Kelompok lain menganggap virus korona ialah bagian musibah biasa yang diturunkan Tuhan untuk memberi pelajaran dan kesadaran global manusia agar tidak melampaui batas. Kelompok ini tidak mengingkari disrupsi sosial yang menurunkan kualitas alam semesta dan berakibat munculnya wabah dan penyakit. Namun, kelompok ini optimistis bahwa segala penyakit pasti mempunyai obat (likulli dain dawa').

Korona pun tak perlu menimbulkan kepanikan dan ketakutan berlebih. Masih banyak ikhtiar yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Termasuk menghindari pertemuan banyak orang seperti menunda kegiatan yang mengundang kerumunan orang. Seperti salat berjemaah, termasuk salat Jumat.

Tokoh agama dan masyarakat diharapkan memberikan teladan. Kelompok ini sangat besar arti dan perannya dalam mengeliminasi perkembangan pandemi.

Keteladanan lebih efektif daripada khotbah. Tak ada guna saling menyalahkan. Lebih tragis lagi jika ada yang memolitisasi.

Keterbukaan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, khususnya pemimpin umat beragama, diharapkan dapat meminimalisasi dampak negatif pandemi ini.

Pembatasan jemaah ke masjid dan rumah-rumah ibadah lainnya serta ke tempat-tempat hiburan, termasuk pasar-pasar, diharapkan bisa melokalisasi dan pada akhirnya membatasi perkembangan mewabahnya virus ini.

Takdir memang tidak bisa dihindari oleh umat manusia, tetapi Tuhan bisa memberikan takdir baru kepada hamba-Nya sesuai dengan upaya aktif hamba-Nya.

Nabi juga pernah mengingatkan untuk tetap berikhtiar menyelesaikan setiap persoalan, termasuk menghindar dari musibah.

Allah SWT pernah menegaskan: Nabi sendiri pernah menyatakan: Doa seorang hamba bisa mengubah takdir. Kita harus optimistis, dengan doa dan usaha manusia pasti akan berhasil mengatasi seluruh persoalannya. Insya Allah.

BERITA TERKAIT