20 March 2020, 07:50 WIB

Perlu Keteladanan Tokoh Agama


Indriyani Astuti | Humaniora

SEJUMLAH pihak menyambut positif fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dengan pengaturan aktivitas peribadatan yang melibatkan orang banyak setelah wabah korona merebak.

Gelaran Ijtima Dunia 2020 Zona Asia di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang sedianya berlangsung kemarin dibatalkan. Ribuan peserta yang berdatangan sejak Selasa (17/3) dipulangkan bergelombang.

"Alhamdulillah. Tim medis siap melakukan tes kesehatan di lokasi sebelum peserta pulang," kata Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan.

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Fadjroel Rachman, menyampaikan apresiasi Presiden Jokowi kepada semua pihak yang tulus membatalkan Ijtima Dunia tersebut.

"Hal ini sesuai dengan imbauan pemerintah agar kita lebih banyak berada di rumah dan melakukan social distancing untuk menangkal covid-19," ujar Fadjroel.

Dalam konferensi pers virtual di Graha BNPB kemarin, Ketua Majelis Fatwa MUI, Asrorun Ni'am Sholeh, menjelaskan fatwa itu bukan untuk melarang orang beribadah atau menjauhkan umat dari masjid.

"Kita bertanggung jawab mencegah penyebaran covid-19, tidak bisa dibebankan kepada pemerintah tanpa partisipasi publik. Ada sembilan poin yang menjadi satu kesatuan di dalam Fatwa MUI," ujar Ni'am Sholeh.

Pengelola Masjid Istiqlal Jakarta juga mengikuti Fatwa MUI yang dirilis Senin (17/3) itu dengan meniadakan ibadah bersama selama dua pekan.

"Mengingat perkembangan covid-19 di Jakarta dan instruksi imam besar kami memutuskan tidak melaksanakan salat Jumat selama dua minggu," ungkap Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal, Asep Saepudin.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya bersama wakil Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Keuskupan Agung Jakarta, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia menyeru para tokoh agama hingga pengurus masjid untuk meniadakan salat Jumat dan meniadakan ibadah bersama demi mengurangi paparan wabah korona.

Ketua PGI Jakarta Manuel Raintung memutuskan agar para pelaksana peribadatan meniadakan ibadah bersama selama dua pekan. "Untuk membantu Indonesia bebas dari wabah covid-19."

Kenyataan sebaliknya terjadi di Ruteng, Manggarai, NTT, kemarin. Penahbisan Uskup Siprianus Hormat tetap dilakukan di tengah pandemi covid-19.

Menurut Kabiro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Jelamu, penahbisan dihadiri puluhan uskup dari seluruh Indonesia, Dubes Vatikan, dan ribuan umat. "Seluruh hadirin menjalani pemeriksaan suhu tubuh dan ruangan sudah disemprot disinfektan."

Tadi malam, peringatan Isra Mikraj 1441 Hijriah di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin, Kalsel, juga tetap berlangsung dihadiri ribuan jemaah.

Ketua Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin, KH Darul Quthni, menegaskan pengelola masjid telah melakukan pembersihan ruangan dan karpet, serta menyediakan thermal scanner dan hand sanitizer.

Keputusan bijak

Dalam penilaian ahli tafsir Al-Qu'ran Quraisy Shihab, para ulama mengeluarkan fatwa karena covid-19 membahayakan jiwa manusia. "Nah, semua sepakat virus korona membahayakan jiwa manusia. Maka, ulama memberi fatwa tidak dianjurkan bagi mereka untuk hadir dalam salat-salat berjemaah, bahkan salat Jumat," ujar Quraisy dalam cuplikan video call yang diunggah Najwa Shihab di akun Instagram-nya, kemarin.

Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Adi Prasojo, mengatakan para tokoh agama bersama-sama menyikapi pandemi korona dengan bijak, terutama soal penyelenggaraan ibadah.

"Kita membutuhkan ketenangan dan kesucian hati. Para tokoh agama perlu bergandengan tangan menyikapinya. Saya yakin tokoh agama sudah mengambil keputusan bijak," tandas Adi. (Put/Ind/Dhk/Mal/LN/PO/DY/X-3)

BERITA TERKAIT