20 March 2020, 03:10 WIB

Saat Luka Anak Terasa Nyeri, Redakan dengan Komedi


Galih Agus Saputra | Weekend

Dewasa ini, barang kali sudah banyak orang yang tahu bahwa tawa menjadi salah satu obat yang cukup mujarab untuk mengatasi masalah mental dan fisik. Akan tetapi, ternyata sedikit sekali yang menelusuri utilitasnya pada anak atau remaja, khususnya saat mereka mengalami nyeri karena luka, atau saat menjalani prosedur medis seperti pengambilan darah, penanganan kanker, dan lain-lain.

Berangkat dari pengertian itu lah RX Laughter, organisasi yang didirikan Mantan Eksekutif Industri Televisi, Sherry Dunay Hilber mempromosikan penggunaan humor dalam proses penyembuhan pasien yang mengalami luka. Dalam prosesnya, RX Laughter bekerjasama dengan para peneliti University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat dan didanai oleh perusahan Televisi Kabel, Comedy Central.

Dalam uji coba itu, Penulis Makalah sekaligus Anggota Penelitian dari UCLA, Dr. Margaret Stuber menjelaskan bahwa sejumlah anak sehat diminta untuk mengikuti tes. Mereka diminta meletakkan tangan di air es (untuk merangsang rasa nyeri), dan pada saat yang sama diminta untuk menonton film komendi klasik hingga kontemporer.

“Hasilnya, kelompok menunjukkan toleransi rasa sakit yang lebih besar dan signifikan saat melihat acara lucu,” tutur Stuber, seperti dilansir Sciencedaily.

Stuber selanjutnya menjelaskan bahwa penelitian ini melibatkan 18 anak yang terdiri dari 12 laki-laki dan enam perempuan. Usia mereka 7 hingga 16 tahun atau jika dirata-rata menjadi 12 tahun. Peti yang dipakai untuk merendam tangan peserta dilengkapi dengan kasa plastik, sebagai pemisah antara tempat bongkahan es dan air es. Pada kesempatan tersebut, peserta merendam tangan di air dingin di kedalaman dua inci hingga tiga menit.

Selama jalannya uji coba, tim peneliti lantas mendokumentasikan penilaian peserta terhadap rasa sakit yang mereka alami. Selain itu, mereka juga memeriksa kaitannya dengan indikator humor, seperti berapa kali anak tertawa atau tersenyum, termasuk bagaimana penilaian anak terhadap kadar lucu pada film yang ditonton.

"Meskipun mereka merendam tangan mereka lebih lama di air, akan tetapi toleransi itu tidak mengubah peringkat keparahan sakit yang dialami. Mereka tidak menganggap rasa itu sebagai tidak menyakitkan. Namun, ini mungkin berarti bahwa hanya butuh waktu lebih lama agar mereka merasakan sakit yang ada di tangan mereka,” imbuh Profesor Psikiatri, Ilmu Saraf, dan Perilaku Manusia, UCLA, Jane dan Marc Nathanson.

Temuan para peneliti ini juga pernah diterbitkan dalam jurnal Element-Based Complementary and Alternative Medicine, pada Oktober lalu. Dalam kesimpulannya mereka mengatakan bahwa humor dapat digunakan untuk ‘menggoda’ anak dan remaja saat menjalani menangani serangkaian prosedur atau pertolongan medis yang menyakitkan. (ScienceDaily/M-2)

BERITA TERKAIT