20 March 2020, 11:15 WIB

Pandemi Covid-19, Orang Kaya Berbondong-Bondong Sewa Jet Pribadi


Melalusa Susthira K | Weekend

Orang kaya tak ubahnya seperti orang kebanyakan, bisa sakit dan juga mati. Namun, uang memberi mereka opsi yang lebih banyak dalam menghadapi situasi pandemi covid-19.

Dengan isu penerbangan komersial yang dihantui virus SARS-CoV-2, penyebab covid-19, menyewa jet pribadi menjadi salah satu opsi yang dipilih oleh orang kaya demi mengurangi risiko terinfeksi. Imbasnya, sektor industri jet pribadi pun kini berkembang pesat.

CEO dari sebuah perusahaan penyewaan jet pribadi yang berbasis di AS, Richard Zaher, mengaku email dan panggilan telepon tak berhenti masuk. Ia menyebut bahwa perusahaannya, Paramount Business Jets, mendapati permintaan informasi penerbangan meningkat 400%, dan pesanan naik sekitar 20-25 %.

"Permintaan informasi telah melonjak sangat tinggi. Ini sepenuhnya karena koronavirus," ungkap Richard Zaher kepada AFP.

Zaher mengatakan banyak pemesanan baru berasal dari klien yang tengah dalam keadaan darurat dan tidak dapat menemukan kursi penerbangan di rute komersial ataupun tidak ingin mengambil risiko tertular covid-19 dengan mengambil penerbangan konvensional.

"Kami melihat klien jet pribadi reguler kami terbang seperti biasanya. Namun, kami mendapati gelombang besar klien yang datang dan mayoritas dari mereka (itu) tidak pernah terbang secara pribadi," terang Zaher.

Adapun Daniel Tang dari MayJets, perusahaan penyewaan jet yang berbasis di Hong Kong, mengaku perusahaannya menerima lima kali lipat lonjakan permintaan informasi penerbangan daripada biasanya, dengan jumlah pemesanan tiga kali lipat lebih banyak sejak wabah covid-19 mulai merebak.

Di berbagai negara dunia rute penerbangan oleh maskapai penerbangan konvensional telah dipangkas dan penumpang pesawat pun membatalkan rencana perjalanannya. Hal itu lantaran negara tujuannya memblokir kedatangan warga negara asing guna membendung penyebaran COVID-19.

Untuk dapat terbang menggunakan jet pribadi biayanya sangat bervariasi tergantung pada pesawat, daerah/wilayah, jumlah penumpang, dan durasi penerbangan. Perjalanan pulang-pergi dengan jet 12 kursi dari London ke New York bisa menelan sekitar US$150 ribu atau sekitar Rp 2,3 miliar. Adapun penerbangan jet dari Hong Kong ke Jepang dihargai sekitar US$71 ribu atau sekitar Rp 1,1 miliar untuk sekali jalan.

“Orang kaya sering kali dapat melakukan hal yang lebih baik daripada orang miskin ketika berhadapan dengan epidemi dan pandemi, karena mereka cenderung dapat pulih dengan pegangan sumber daya yang lebih besar,” terang Profesor Sejarah Medis dan Bioetika dari Universitas Wisconsin-Madison, Richard Keller, mengutip surat kabar The Washington Post, Kamis (19/3). (M-2)

BERITA TERKAIT