20 March 2020, 05:00 WIB

Warga Diimbau Beribadah di Rumah


(Put/Medcom/J-3) | Megapolitan

PEMERINTAH Provinsi DKI dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta sepakat meniadakan kegiatan keagamaan atau ibadah bersama selama dua pekan. Hal itu bertujuan menekan penyebaran virus korona baru (covid-19) di Ibu Kota.

Informasi tersebut merupakan hasil pertemuan antara Gubernur DKI Anies Baswedan, Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana, Panglima Kodam Jaya Mayjen Eko Margiyono, dan FKUB Jakarta, kemarin.

Hadir pula sejumlah pemuka agama, seperti Ketua MUI DKI Munahar Muchtar, Ketua DMI DKI Makmun Al Ayyubi, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah DKI Pendeta Manuel Raintung, Romo Suyadi dari Keuskupan Agung Jakarta, I Nengah Dharma dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DKI, dan Pendeta Liem dari Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) DKI.

Anies menyebut pertumbuhan kasus positif covid-19 di DKI paling tinggi jika dibandingkan dengan di daerah lain di Tanah Air. Hingga kemarin sore, tercatat ada 208 kasus positif korona di Ibu Kota.

"Kita sepakati akan secara serius melakukan pembatasan interaksi di dalam seluruh komponen kegiatan-kegiatan peribadatan yang diselenggarakan secara bersama-sama di rumah ibadah untuk ditunda hingga kondisi memungkinkan," kata Anies.

Untuk umat Islam, terang dia, salat Jumat akan ditiadakan selama dua pekan di seluruh masjid di Jakarta. Demikian pula dengan kebaktian Minggu bagi umat Nasrani.

"Untuk kegiatan Nyepi, unsur umat Hindu yang hadir menyampaikan bahwa kegiatan Nyepi sudah diputuskan tidak dilakukan dengan keramaian," papar Anies.

Anies menegaskan Pemprov DKI akan melakukan sosialisasi secara masif melalui kerja sama dengan berbagai unsur, seperti Polda Metro Jaya, Kodam Jaya lewat Babinsa, dan Bhabinkamtibmas.

"Jajaran akan mengawasi, mendisiplinkan. Ini harus dilakukan bila ingin melindungi saudara sebangsa. Kita di rumah kurangi interaksi. Jika tidak, akan membahayakan yang berpotensi menjangkiti," kata dia.

Ketua MUI DKI Munahar Muchtar mendukung keputusan tersebut. Ia menyebut solusi ibadah di rumah sudah dianjurkan MUI pusat dalam surat fatwanya.

"Pelaksanaan ibadah untuk saat ini karena kondisi darurat supaya melaksanakan di rumah masing-masing," kata Munahar.

Hal senada juga disampaikan perwakilan Parisada Hindu Darma Indonesia, I Nengah Dharma. Menurut dia, pihaknya telah memutuskan untuk membatasi acara keagamaan jelang Hari Raya Nyepi sebelum pertemuan dengan Pemprov DKI.

Nengah mengatakan bahwa upacara Melasti yang awalnya dilakukan pada Minggu (22/3) akan ditiadakan. Adapun acara Kaur Agung yang diadakan sehari menjelang Nyepi akan dilaksanakan terbatas di Jakarta Utara dengan jumlah tamu 10 orang.

"Sementara saat Hari Nyepi, kami akan meresapi dan mematuhi apa yang diimbau bahwa kami hanya akan tapa brata di rumah," pungkasnya. (Put/Medcom/J-3)

BERITA TERKAIT