19 March 2020, 19:05 WIB

Khawatir Covid-19, Orang Kaya Ramai-Ramai Pakai Jet Pribadi


Nur Aivanni | Internasional

Karena penerbangan komersial dilanda pusaran pandemi virus korona, maka ada sektor industri lain yang disukai orang kaya yang kemudian berkembang, yakni jet pribadi.

Richard Zaher, CEO dari perusahaan sewa jet pribadi (Paramount Business Jets) yang berbasis di AS mengatakan bahwa email dan panggilan telepon terus masuk ke perusahaannya. Dia mengatakan terjadi peningkatan permintaan 400%, sementara pemesanan naik sekitar 20%-25%.

"Ini sepenuhnya (karena) virus korona," katanya, seperti dikutip dari AFP, Kamis (19/3). "Kami melihat klien jet pribadi reguler kami terbang seperti biasanya. Namun, kami memiliki gelombang klien yang datang dan mayoritas dari mereka tidak pernah terbang secara pribadi," tambahnya.

Baca juga: Untuk Pertama Kali, Orang Kaya di Tiongkok Lampaui AS

Di seluruh dunia maskapai penerbangan telah memangkas kapasitas akibat para penumpang membatalkan rencana perjalanan mereka karena negara-negara memblokir kedatangan untuk membendung penyebaran covid-19.

ForwardKeys, sebuah perusahaan analisis perjalanan, memperkirakan sebanyak 3,3 juta kursi pada penerbangan yang melintasi Samudra Atlantik menghilang.

Zaher mengatakan banyak pemesanan baru berasal dari klien yang memiliki keadaan darurat dan tidak dapat menemukan kursi di rute penerbangan komersial atau tidak mau mengambil risiko.

Satu pemesanan baru-baru ini datang dari seorang perempuan yang menerbangkan ibunya yang sudah tua melintasi Amerika Serikat. "Ibunya menggunakan oksigen dan perlu diterbangkan dari pantai ke pantai," kata Zaher.

Biaya sewa jet pribadi sangat bervariasi, tergantung pada jenis pesawat, wilayah, jumlah penumpang, dan durasi penerbangan.

Untuk perjalanan pergi-pulang dengan pesawat 12-kursi dari London ke New York biayanya bisa sekitar $150.000. Sementara rute Hong Kong ke Jepang biayanya sekitar $71.000 sekali jalan.

Di Asia, sebuah perusahaan sewa pesawat mengatakan dua bulan terakhir telah melihat peningkatan berkelanjutan dalam hal pelanggan baru, ketika orang-orang yang melarikan diri dari virus pada Januari kembali pada Maret dari tempat-tempat yang sekarang mengalami epidemi.

Penerbangan komersial ke dan dari Tiongkok telah menurun sekitar 90% dalam dua bulan terakhir.

Seorang juru bicara Air Charter Service di Hong Kong mengatakan bahwa mereka telah melihat peningkatan 70% dalam pemesanan tetap dari pusat keuangan Shanghai dan Beijing pada Januari dan Februari. Terjadi lonjakan 170% pelanggan baru selama periode yang sama.

"Ini adalah orang yang cukup kaya, tapi yang belum tentu mencarter, yang mungkin mencarter hanya sekali," kata James Royds-Jones, direktur eksekutif jet Air Charter Service untuk Asia Pasifik.

Satu pekerjaan baru-baru ini melibatkan keluarga yang pindah dari Hong Kong ke kota Chiang Mai, Thailand. "Orang-orang hanya berusaha mengemas rumah mereka menjadi jet pribadi. Saya rasa satu-satunya hal yang baik tentang sisi jet pribadi, Anda bisa membawa hewan peliharaan Anda," tambahnya.

Daniel Tang, dari perusahaan sewa pesawat yang berbasis di Hong Kong, MayJets, mengatakan ia menerima jumlah permintaan lima kali daripada biasanya dengan pemesanan tiga kali lebih banyak sejak wabah muncul.

Para klien memilih untuk menyewa karena mereka tidak ingin terkurung dengan ratusan orang dengan riwayat perjalanan yang 'tidak diketahui'. Selain itu, penumpang pribadi biasanya melewati bea cukai dan imigrasi terpisah dari terminal bandara utama yang ramai.

"Keduanya itu merupakan keuntungan terbang dengan jet pribadi dan itulah keuntungan yang sangat berharga untuk menyewa jet pribadi selama masa-masa yang tidak pasti ini," katanya.

Namun Tang mengatakan bahwa kondisi perjalanan yang semakin ketat pada akhirnya akan berdampak pada perjalanan pribadi. "Karena semakin banyak negara memperketat perbatasan mereka, maka akan menjadi semakin sulit untuk terbang, bahkan untuk jet pribadi," katanya. (AFP/Nur/OL-14)

BERITA TERKAIT