19 March 2020, 17:32 WIB

Bantah Lockdown, RS Premier Bintaro Tutup UGD dan Rumahkan Staf


Henri Siagian | Humaniora

Rumah Sakit Premier Bintaro (RSPB) menutup Unit Gawat Darurat (UGD) selama lima hari karena sedang proses disinfektan dan merumahkan beberapa pegawainya.

Hal itu diungkapkan oleh Manager Marketing RSPB Pringgondani atau yang kerap disapa Dani saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (19/3).

Dani menjelaskan, UGD akan menjalani proses disinfektan hingga 23 Maret. langkah itu dilakukan menyusul perawatan beberapa suspect penderita virus covid-19.

Baca juga: Tambah 35 Ruang Isolasi, RSPI Sulianti Minta Bantuan Tenaga Medi

Adapun karyawan yang dirumahkan, jelas dia, adalah yang pernah berinteraksi atau bersinggungan dengan para pasien suspect covid-19.  “Beberapa pasien suspect telah kami rujuk ke rumah sakit rujukan. Kami tidak ada menangani pasien yang positif covid-19,” jelas dia.

Dia mengaku ada beberapa pasien RSPB yang menjadi suspect covid-19. “Ketika kondisi thorax atau pneumonia memburuk, kami langsung rujuk ke rumah sakit rujukan.”

Akan tetapi, dia memastikan, aktivitas di RSPB tetap berjalan, termasuk untuk pemeriksaan di poli lainnya. Meskipun, sambungnya, RSPB menerapkan beberapa langkah pencegahan.

Seperti, jam besuk rawat inap ditiadakan, seluruh pengunjung dan pasien wajib menjalani pemeriksaan suhu tubuh dan gejala covid-19 sebelum memasuki RSPB. Pasien rawat inap juga hanya boleh dijaga oleh satu orang. Pasien rawat jalan juga hanya boleh didampingi satu orang.

Pengunjung juga diberi sejumlah batasan. Sehingga, bagi warga yang berkunjung ke luar negeri (daerah terjangkit covid-19) dalam 14 hari terakhir, pernah kontak dengan orang yang diketahui terinfeksi covid-19, ada keluhan batuk, pilek, flu, dan suhu melebihi 37,5 derajat celcius, dan anak di bawah 12 tahun dilarang menjadi pengunjung.

“Akses masuk juga hanya lewat pintu belakang. Bagi pasien penderita batuk, flu, dan demam juga akan langsung diarahkan ke gedung baru di belakang. Jadi tidak bias ke gedung utama.”

Yang pasti, dia membantah RSPB menerapkan lockdown seperti yang beredar di pesan berantai yang beredar di aplikasi Whatsapp. “Tidak ada lockdown. Kami tetap menerima pasien tapi hanya lewat pintu belakang,” tutup Dani. (X-15)

BERITA TERKAIT