19 March 2020, 16:05 WIB

Warga Bojonggede yang Meninggal Tertular Covid-19 dari Anaknya 


Dede Susianti | Megapolitan

BUPATI Bogor Ade Yasin membenarkan ada satu warga yang tinggal di Bogor, tepatnya di Perumahan Villa Asia di Bojonggede, meninggal karena terjangkit virus korona (Covid-19).  Korban perempuan berusia 67 tahun, meninggal pada Rabu (18/3) malam di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta.

Namun, Ade menegaskan, korban meninggal itu bukan asli warga Kabupaten Bogor. Dia bekerje sebagai akuntan yang tinggal di Bojonggede tapi masih ber-KTP (kartu tanda penduduk) DKI Jakarta.

"Dia kerja di Jakarta, anaknya kerja di Jakarta. Semua kerja di Jakarta, KTP Jakarta, cuma punya tempat tinggal di Bogor,"kata Bupati Ade saat jumpa pers usai penyemprotan di SMPN2 Cibinong, Kamis (19/3).

Ade pun membeberkan secara gamblang kronologis dari awal kasus itu muncul hingga dinyatakan positif dan meninggal. Semula ada dua orang yang diperiksa (ODP).  Pertama adalah seorang laki laki usia 35 tahun bekerja sebagai pegawai swasta. Dia adalah rentetan dari kejadian pertama yang meninggal pada saat kejadian di Depok.

Pada 25 Februari, laki- laki ini berdansa tanggo dengan guru dansa usia 33 tahun. Pada 26 sampai 28 Februari, laki-laki tersebut mulai demam dan sembuh pada 28 Februari.

Namun pada tanggal 29 Februari mengeluh tidak bisa mencium bau dengan baik. Alat penciumannya terganggu dan dia tetap masuk kerja. Dia sejak 28 Februari menggunakan transportasi umum, ojek online (ojol), KRL, MRTdan Trans Jakarta.

Singkat cerita, jelas Ade Yasin, pada 7 Maret, dia merasakan nafas berat. Kemudian pada 12 Maret, dia diperiksa darah di RS Pershabatan. Pemeriksaan berlanjut pada 14 Maret dengan pemeriksaan SWAP.

Gejala lain muncul di tanggal 16 Maret. Saat itu dia mengeluh sendi dan di tanggal 17 Maret berdasarkan masukan dari rumah sakit disarankan untuk isolasi mandiri. Sesuai edaran surat edaran dari RT bahwa dia di isolasi mandiri.

Tetapi walaupun kelihatannya sehat, dia menularkan virus kepada ibunya yang berumur 67 tahun (korban meninggal). Dia adalah karyawati swasta atau konsultan pajak.

Riwayatnya adalah pada tanggal 27 Februari penderita mengikuti seminar di Jakarta. Kemudian pada 28 Februari, korban (yang meninggal), menjenguk mantan suami ke RS Tarakan yang menderita peneomonia.

Masih pada tanggal 28 Februri atau setelah menjenguk, korban sakit diare.. kemudian di tanggal 29 Febeuari yang bersangkutan periksa ke dokter di Jakarta. Korban minum obat selama 4 hari, tapi belum sembuh. Yang bersangkutan pun memutuskan kontrol lagi dan minta dirawat ke pihak rumah sakit. Saat itu didiagnosa tipoid.

Tanggal 10 Maret, penderita dirawat di rumah sakit. Setelah dilakukan pengecekan lab dan di rontgen paru ada infeksi paru dengan diagnosa penomonia.

Kemudian korban dirujuk ke RS Persahabatan pada tanggal 14 Maret. Itu atas permintaan anaknya yang merasa ketakutan bila ibunya kena korona.

Pada saat itu atau masih Tltanggal 14 Maret, dilakukan pemeriksaan laboratorium covid swap oleh RSt Persahabatan. Keluar hasil tanggal 16 Maret via telpon oleh Sub Dinkes Jaktim dengan hasil positif kotona.

"Tadi malam penderita meninggal dunia di rumah sakit tersebut dan langsung dikebumikan di Jakarta. Jadi tidak dibawa ke Bogor, langsung dikembunikan di Jakarta,"pungkasnya. (OL-13)

Baca Juga: Perang Lawan Korona, Tenaga Medis Diberi Insentif

BERITA TERKAIT