19 March 2020, 14:09 WIB

Hari ini Rupiah Lunglai, Rp16.000 Per Dolar Amerika


Despian Nurhidayat | Ekonomi

NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah hari ini. Pada Kamis (19/3) US$ 1 dibanderol Rp 16.132. Hasil ini dikatakan menyentul level terlemah sejak terakhir kali terjadi pada saat krisis 1998.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mengharapkan masyarakat tidak perlu panik dan tidak bertindak spekulatif. Apalagi sebagian masyarakat memiliki pendapatan dan pengeluaran dalam rupiah sehingga tidak terpengaruh langsung terhadap masyarakat.

Selain itu, menurut Josua pelemahan bukan terjadi pada rupiah saja, tapi juga seluruh mata uang negara berkembang memang mengalami pelemahan terhadap dollar pada perdagangan hari ini menyusul kembali terkoreksi nya pasar saham AS. Di mana Dow Jones melemah signifikan sebesar 6,30% diikuti dengan pelemahan indeks S&P 500 (-5,18%) dan Nasdaq (-4,70%).

"Pelemahan indeks terjadi seiring dengan kekhawatiran akan penyebaran wabah virus korona (Covid-19) yang lebih dari 200.000 kasus di seluruh dunia dan berakibat pada melemahnya ekonomi global. Pasar keuangan regional cenderung terkoreksi karena investor global mengurangi modalnya dari pasar keuangan negara berkembang dan masuk ke safe haven asset termasuk dollar AS," ungkapnya kepada Media Indonesia, Kamis (19/3).

Lebih lanjut, Josua merasa bahwa potensi perlambatan ekonomi global yang cukup signifikan yang diikuti probabilitas pelaku pasar global bahwa resesi global mendorong investor global untuk memegang cash dollar AS.

Dia mengambil contoh pada perdagangan Asia hari ini, Nikkei turun hingga -1,73%, Hang Seng turun -4,30%, dan bahkan KOSPI turun hingga di atas -7%, sehingga menyebabkan perdagangan di bursa Korea Selatan terhenti karena sudah melewati batas bawah. Pasar saham Indonesia pun kembali turun dan kembali dihentikan sementara karena penurunannya sudah berada di atas 5%.

"Di sisi lain, Reserve Bank of Australia (RBA) menurunkan suku bunganya sebesar 25bps menjadi 0.25%. RBA bahkan menyatakan tidak akan menaikkan suku bunganya hingga kondisi ekonomi kembali membaik. Stimulus fiskal dan moneter yang dikeluarkan oleh pemerintah AS dan Fed memberi sinyal bahwa dampak Covid 19 pada perekonomian AS cukup signifikan sehingga akhirnya mendorong kebijakan moneter yang longgar dari bank sentral global lainnya," lanjut Josua.

Selain itu, Josua menambahkan Bank sentral Inggris, Bank of England (BoE) juga menurunkan suku bunganya sebesar 50bps ke level 0,25%. Beberapa bank sentral di kawasan Asia&Pasifik juga turut merespon di mana bank sentral New Zealand memangkas suku bunga acuan 75bps menjadi 0,25%, sementara bank sentral Korea memangkas suku bunga 50bps menjadi 0,75% serta bank sentral Tiongkok juga kembali mengeluarkan stimulus dengan menyuntikkan likuiditas sebesar 100 miliar yuan.

Berkaca dari hal tersebut, Josua menilai Bank Indonesia tetap berada di pasar dan secara intensif melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar spot rupiah, pasar Domestik NDF dan pasar SBN. Di tengah koreksi di pasar keuangan global di mana investor asing cenderung keluar dari pasar keuangan domestik, menurutnya Indonesia perlu mendorong agar investor domestik juga masuk ke pasar keuangan baik saham dan obligasi untuk membatasi koreksi lebih lanjut yang berikutnya dapat membatasi pelemahan rupiah lebih lanjut.

"Masyarakat dan investor domestik harus tetap tenang melihat perkembangan pasar keuangan saat ini mengingat pemerintah, BI dan OJK sudah mengeluarkan berbagai stimulus kebijakan dalam rangka mengantisipasi dan memitigasi dampak dari Covid 19 pada perekonomian domestik," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT