19 March 2020, 00:45 WIB

PM Malaysia Serukan Warga Diam di Rumah


MI | Internasional

PERDANA Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin menyerukan kepada warga Malaysia agar menaati Perintah Kawalan Pergerakan (Movement Control Order) mulai Rabu (18/3) hingga Selasa (31/3). Warga Malaysia diminta berdiam diri di rumah.

“Hari ini terdapat 117 kasus baru yang menjadikan jumlah keseluruhan kasus positif covid-19 sebanyak 790. Ini bukanlah perkembangan yang menggembirakan kita. Langkah-langkah tegas perlu terus diambil untuk membendung wabah ini agar tidak terus merebak,” ujar Muhyiddin pada pidato khusus covid-19 di Kantor Perdana Menteri, Rabu (18/3).
Karena itulah, ujar dia, perintah melaksanakan Perintah Kawalan Pergerakan mulai berlaku pada hari ini.

Muhyiddin menjelaskan, tujuan pemerintah melaksanakan perintah ini. “Kenapa sekolah, universitas, dan sebagian kantor, tempat pernia­gaan, dan pabrik ditutup. Tujuannya ialah supaya saudara-saudari tidak perlu bergerak ke sana-sini. Saudara-saudari tidak perlu bersesak-sesak dalam LRT, MRT, atau bus untuk ke tempat kerja,” katanya.

Sementara itu, banyak bagian dari ibu kota Kuala Lumpur sepi ketika pembatasan dimulai, ada tanda-tanda tidak semua orang menganggapnya serius.


Pulang kampung

Alih-alih tinggal di rumah untuk menghindari risiko infeksi seperti yang direkomendasikan pihak berwenang, banyak orang dilaporkan melakukan perjalanan keluar dari ibu kota ke kampung halaman mereka, secara efektif memperlakukan penutupan itu sebagai hari libur.

Sementara itu, restoran seharusnya terbuka untuk takeout, pelanggan terlihat malah nongkrong di beberapa restoran, dan ada laporan orang-orang berjalan-jalan di taman yang telah resmi ditutup.

“Tujuan dari pembatasan bukan untuk kembali ke kota asal Anda, pergi berbelanja di supermarket, berjalan-jalan di taman, atau berlibur,” kata Muhyiddin.

Wabah virus korona yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok­, akhir tahun lalu, dengan cepat menjalar di seluruh dunia, menginfeksi hampir 200 ribu orang dan menewaskan lebih dari 8.000 orang. (AFP/I-1)

BERITA TERKAIT