19 March 2020, 05:00 WIB

Warga New York Andalkan Jasa Pesan Makanan


MI | Internasional

DENGAN ditutupnya restoran di New York karena pandemi virus korona, penduduk yang tidak terbiasa makan di rumah semakin mengandalkan pasukan pengantar makanan yang menggunakan sepeda berkeliling­ kota.

Sebanyak 40.000 pekerja, yang hampir mayoritas imigran tanpa asuransi kesehatan atau dokumen hukum, memainkan peran penting karena semua restoran dan bar diperintahkan untuk ditutup pada Senin hingga 1 April.

“Sementara yang lain di rumah, kami menghadapi risiko terkena covid-19. Ini benar-benar membuat saya khawatir,” kata Alberto Gonzalez kepada AFP, yang tidak memiliki cakupan perawatan kesehatan, seperti dikutip dari France24, kemarin.

Gonzalez, yang tinggal di Brooklyn dan juga bekerja dengan organisasi pro-imigran Make The Road New York, mengatakan para pengantar makanan perlu lebih banyak perlindungan.
“Tidak jelas siapa yang memiliki prioritas untuk dites dan apakah mereka yang tidak memiliki asuransi atau status hukum harus membayar untuk tes dan perawatan,” katanya.

Para pengantar makanan pun berusaha untuk menghindari risiko sebanyak mungkin sehingga mereka tidak tertular virus. “Setiap kali saya mengantarkan makanan, saya menggunakan pembersih tangan dan mengganti sarung tangan,” kata pengantar makanan, Luis Ventura, ketika ia turun dari sepeda listriknya di pusat Kota Manhattan.

Ventura terus bekerja untuk perusahaan layanan pengiriman makanan Postmates. Ia bisa menghasilkan US$9 per jam, kurang dari upah minimum New York sebesasr US$15. “Terus terang bulan ini uang itu tidak akan sampai padaku,” katanya.

Beberapa warga New York di media sosial telah meminta warga untuk meningkatkan tip kepada para pengantar makanan sebagai bentuk solidaritas.

“Pekerjaannya terlalu banyak, 70%,” kata Martin Balderas, 60, dari Meksiko, seorang pengantar untuk restoran ayam goreng di Manhattan, Atomic Wings.

Wali Kota New York, Bill de Blasio, menawarkan pinjaman tanpa bunga hingga US$75.000 untuk bisnis dengan kurang dari 100 karyawan yang membuktikan bahwa mereka kehilangan 25% dari pendapatan mereka.

Bagi Ousmane Savadogo, seorang pengantar makanan dari Pantai Gading, itu semua tergantung pada berapa lama krisis berlangsung.

“Jika ini berlangsung dua minggu, itu tidak masalah. Tetapi jika itu berlangsung lebih lama, segalanya menjadi rumit!” katanya. (France24/Nur/I-1)

BERITA TERKAIT