18 March 2020, 21:10 WIB

Menjinakkan Covid-19 dengan Plasma


Saefuddin Aziz Mahasiswa doktoral Universitas Tubingen, Jerman, Dosen Fakultas Biologi Unsoed | Opini

GAYUNG bersambut setelah wabah korona secara resmi dideklarasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai ancaman untuk seluruh dunia (pandemi). 

Pemerintah Indonesia pun menginstruksikan jajarannya untuk meningkatkan langkah-langkah ekstra dalam menangani pandemik global ini. Saat ini, Indonesia sudah melaporkan sebanyak 227 kasus positif korona, 19 pasien di antaranya meninggal dan 11 orang dinyatakan sembuh (Wordometer). Berada pada peringkat 39 besar dari 168  negara yang tertular virus korona, perhatian penuh dicurahkan pemerintah untuk menjaga 272 juta lebih warganya.  

Banyak aktivitas di kantor, sekolah, univeritas dan pabrik dihimbau untuk diliburkan. Kegiatan belajar mengajar menjadi bersifat jarak jauh. Transportasi udara dari dan ke beberapa negara ditutup. Masyarakat diminta tetap tinggal dirumah dan tidak berkerumun, serta tetap menjaga kebersihan diri juga senantiasa memanjatkan doa.

Keadaan yang dialami Indonesia juga dialami di beberapa negara lainnya saat ini, terkecuali Tiongkok. Negeri tempat virus ini berasal sebelumnya harus merelakan lebih dari 3 ribu jiwa nyawa warganya melayang, dari sekitar 80 ribu orang yang terinfeksi dalam kurang waktu sekitar 3 bulan. Namun saat ini, semua kondisi menuju ke normal. Kantor-kantor sudah mulai buka, anak-anak mulai pergi kesekolah. Demikian pula pasar dan supermarket sudah mulai aktif seiring dibukanya kembali jalur-jalur transportasi yang tadinya dibekukan. 

Tindakan represif
Apa rahasia besar sampai Tiongkok mampu keluar dari krisis korona? Berawal dari upaya represif pemerintah Tiongkok yang berusaha membungkam pemberitaan negatif tentang wabah korona, hingga sang peniup peluit Dr Li Wenliang (34) seorang ophtalmology– dokter spesialis mata- dicap sebagai penyebar keonaran, saat dia di grup dokter di pertengahan Desember 2019 mengingatkan koleganya akan potensi berbahaya seperti wabah SARS 17 tahun silam.  

Akhirnya kehawatiran sang dokter akan berjangkitnya wabah terbukti nyata (South Morning China Post 6/2). Maka dengan terpaksa, terhitung sejak 23 Januari 2020 pukul 10.00 waktu setempat, pemerintah memberlakukan lockdown secara menyeluruh Kota Wuhan, kota besar di Provinsi Hubei yang berpenduduk 11 juta jiwa, akibat semakin banyak penularan asymptomatic-  penularan virus dari pasien yang membawa virus tapi tidak menunjukkan gejala sakit ke orang sehat. (CGTNAmerica 28/2).

Sekalipun lebih dari 20 ribu tenaga medis seantero Tiongkok dikerahkan ke Wuhan bahkan jam kerjanya diperpanjang, rumah sakit darurat Houshenshan dibangun dalam hitungan hari (New China TV 3/3), stadion olah raga dan pusat pameran disulap jadi tempat perawatan sementara (KompasTV 6/2), berbagai kombinasi obat dicobakan. Namun laju jumlah penderita semakin membludak tak seimbang dengan jumlah yang sembuh.

Kondisi kalut di seantero Wuhan membuat makin tingginya tindakan 'sensor' oleh pemerintah Tiongkok untuk warganya yang ingin curhat di media sosial.

Gunakan plasma
Namun situasi berbalik sejak 14 Februari 2020 atau sekitar tiga minggu sejak lockdown Kota Wuhan. China National Biotech Group mengumumkan bahwa penggunaan plasma convalescent –plasma dari pasien yang sudah sembuh- efektif untuk menyembuhkan pasien kritis akibat virus korona.

Dengan semangat, Dr Liu Bende yang menjadi kepala pencegahan dan penanggulangan korona Distrik Jiangxia mengatakan, "Terapi plasma saat ini adalah jalan keluar terbaik." Dialah orang pertama menyarankan penggunaan plasma convalescent. Dialah orang yang sudah berpengalaman menghadapi wabah virus di Tiongkok sebelumnya, SARS di 2003 (CGTN 16/2).

Komponen darah berbentuk cair dan berwarna kuning yang menjadi medium sel-sel darah, dalam dunia medis dikenal sebagai plasma darah atau orang sering menyebutnya dengan plasma saja. Bila darah kita diambil, sekitar setengah dari darah itu (55%) adalah plasma. 

Itu karena kandungan plasma sebagian besarnya adalah air (90%), maka plasma berperan dalam mengisi ruangan pembuluh darah, sehingga darah dapat diedarkan ke seluruh tubuh. Sisanya, sekitar 10% di dalam plasma terkandung zat-zat lain termasuk imunoglobin– antibodi-, elektrolit,  protein, dan gula. 

Melalui sentrifugasi – diputar dalam mesin untuk mengendapkan materi yang berat-, plasma dapat dipisahkan dengan komponen darah lainnya, sehingga mudah diambil (wikipedia). 

Dr Shen Yinzhong dalam siaran TRT World 14 Februari 2020 berujar, "Penggunaan plasma dari orang yang sudah sembuh korona relatif aman. Pasien yang kritis membaik setelah 24 jam pemberian plasma ini." 

Saat itulah gerakan menyumbang plasma disuarakan dan ratusan orang secara sukarela ikut andil jadi pendonor. Sejak itu, metode infus plasma menjadi metode standar untuk penyembuhan pasien covid-19 di Tiongkok (CGTN 16/2). 

Dalam publikasi di jurnal The Lancet pada 27 Februari 2020 yang berjudul Convalescent plasma as a potential therapy for COVID-19, Long Chen dan kawan kawan dari Congqing Medical University menyatakan bahwa penggunaan plasma convalescent sebenarnya telah dipakai di 2014 untuk terapi virus Ebola dan bahkan sudah menjadi rekomendasi WHO. Selain itu, juga pada 2015 dalam menangani MERS.  

Mortalitas turun
Kasus influenza A di 11 tahun silam yang disebabkan virus H1N1 pdm09 dengan terapi plasma, berhasil menurunkan angka mortalitas hingga 20%. Salah satu penjelasan keberhasilan penggunaan plasma convalescent yaitu antibodi dari plasma dapat menekan varaemia

Antibodi dari plasma dapat menghambat lepasnya virus dari sel tubuh (free viral clearence), mencegah infeksi baru masuk ke sel serta meningkatkan daya pembersihan sel dari virus (cell clearence) yang sebelumnya terinfeksi virus. 

Pasca infeksi, pasien umumnya mampu membuat respons imun primer setelah 10-14 hari yang diikuti dengan pembersihan virus dari sel-sel tubuh. Mereka menyimpulkan, plasma convalescent dari pasien yang sudah sembuh dapat digunakan sebagai terapi tanpa menunjukkan gejala efek negatif, dan penggunaan plasma ini juga bisa diberikan diawal terjadinya infeksi (sebelum munculnya simtom). 

Namun demikian, kajian keselamatan dan keamanan pada pemakainan plasma convalescent masih perlu dilakukan lebih dalam. Dalam laporan tersebut mereka juga tidak secara detail menjelaskan cara pengambilan plasma dari donor dan pemberian plasma kepada pasein.

Belajar dari kasus SARS yang masih segolongan dalam virus korona, wabah SARS dua dekade silam tiga kali lipat lebih mematikan dibandingkan covid-19 saat ini, dilihat dari fatality rate.-perbandingan jumlah orang yang meninggal dengan orang yang terinfeksi.

Y Cheng dan kawan-kawan melaporkan kisah suksesnya menggunakan plasma untuk menangani pasien SARS di RS Prince of Wales, Hong Kong dalam publikasinya di European Journal of Clinical Microbiology and Infectious Desease di 2005. Sebanyak 339 pasien yang diduga terkena SARS, 80 orang di antaranya diterapi dengan plasma convalescent, sedangkan sisanya diberi terapi dengan steroid– methylprednisolone

Sebanyak 43 pasien perempuan dan 37 pasien laki-laki dengan usia antara 21-82 tahun suka rela berpartisipasi dalam penelitian ini. Mereka diberi transfusi plasma convalescent dari pasien yang sudah 14 hari sembuh dari SARS.

Plasma diperoleh dari para pendonor yang sudah sembuh dan lolos cek kesehatan, serta dipastikan tidak memiliki penyakit lain seperti hepatitis, HIV, dan sifilis. Pendonor juga harus telah terdeksi memiliki antibodi (seropositif) untuk virus korona dengan kadar yang cukup.   

Pendonor yang lolos seleksi, diambil darahnya untuk diekstrak plasmanya. Para pendonor tetap dipantau dan dijaga kesehatannya dan dari seorang pendonor, bisa didapat minimal 600 ml plasma. Plasma yang diperoleh lalu di bagi-bagi dalam wadah berukuran 200-225 ml dan disimpan di suhu -70 derajat celcius agar tahan lama.

Hasil menggembirakan ditunjukkan dari seluruh pasien setelah diberi transfusi plasma, angka mortalitas turun hingga rata-rata 12.5%. Angka mortalitas bahkan semakin kecil  (6.3%)  jika pasein berada di masa awal  terkena SARS (sebelum 14 hari). 

Dr Cheng menyatakan pemberikan plasma tidak menimbulkan efek buruk pada pasien SARS selama dalam masa terapi. Bahkan tingkat kesembuhan pasien tidak berbeda antara pasein yang mendapat plasma dalam jumlah sedikit (160 ml), dengan pasien yang mendapat  plasma 4 kali lipat jumlahnya. 

Dia sangat menyarankan agar terapi plasma ini diberikan seawal mungkin saat infeksi SARS terjadi. Untuk menambah aman, plasma convalescent sebaiknya ditreatment inaktivasi virus terlebih dahulu sebelum diberikan ke pasien. 

Belajar dari penanganan kasus SARS tersebut, terapi plasma convalescent kembali menunjukkan prestasi yang gemilang di Tiongkok untuk covid-19. Mengubah tangis, frustasi, hujatan dan umpatan pada pemerintah oleh warganya sendiri maupun dari negara lain, menjadi senyum dan pujian. 

Seorang warga Wuhan yang baru sembuh dari korona berkata dalam siaran TRT World 14 Februari 2020, "Kini saatnya kita yang telah merasakan penderitaan untuk menolong sesama dengan menyumbang plasma. Ini adalah keinginan kami dan ini cara kami membayar kebaikan kepada negara dan masyarakat yang selama ini telah membantu kami."
  
Mengintip keberhasilan Tiongkok seorang petinggi bidang kesehatan Amerika yang ikut serta dalam rombongan WHO saat sudah diizinkan masuk ke Wuhan sampai terpukau. Dia bertanya apakah ada pasien yang terjangkit lagi setelah diberi vaksin. Dan dijawab 'tidak'. Lalu dia menyimpulkan adanya potensi untuk dirakit vaksin. (CNN, 11/2).

Kini setelah sekitar sebulan berlalu sejak terapi plasma convalenscent, di Wuhan tiap hari diadakan perayaan penutupan rumah sakit darurat. Angka penderita baru hanya mencapai puluhan dan bisa ditangani di rumah sakit setempat. Bahkan para tenaga medis melakukan perayaan penutupan rumah sakit sementara yang terakhir dengan senyuman, sambil membuka masker mereka. (Independent, 15/3).

Namun demikian Tiongkok masih bersiaga dengan datangnya virus impor. Pada Selasa (5/3), dari sejumlah 6.728 turis mancanegara ada sebanyak 76 orang yang positif virus korona dan 779 orang masih suspect. Kebanyakan berasal dari expatriat yang tinggal di Italia (CNN, 5/3).

Kehawatiran ini sangat beralasan, mengingat virus korona yang materi genetikanya RNA mudah sekali bermutasi. Sangat besar peluangnya virus korona pertama dari Wuhan berubah susunan genetiknya dengan virus korona yang mewabah di negara lain, sekalipun masih bernama covid-19. 

Tercatat hingga 22 Januari 2020, Laboratorium di Tiongkok dan Thailand telah berhasil mendapatkan informasi genetik (whole genome sequence) lebih dari 20 strain corona virus yang menginfeksi manusia (Natur, 22/1). Adanya epicenter baru- lokasi di mana penyakit tertentu paling banyak ditemukan- di belahan dunia lain seperti Italia, Iran, Korea Selatan, Jepang, dan lainnya, berpeluang sangat besar butuh antibodi baru untuk menangkalnya.

Penawaran pengobatan
Korea Selatan, Jepang, Hong Kong dan juga negara-negara lain saat ini berusaha mengikuti langkah Tiongkok dengan mengaplikasikan plasma untuk warganya yang terkena covid-19. Tentunya Indonesia dengan gugus tugas percepatan penanganan covid-19 yang didukung laboratorium serta lembaga-lembaga riset di bawah Kementerian Kesehatan, Kemenristek maupun universitas, bisa saling bahu membahu mengatasi wabah. Terutama pada wilayah penyediaan plasma convalescent yang aman, murah dan mudah serta tepat waktu. 

Terapi plasma convalescent tentunya hanyalah salah satu tawaran untuk pengobatan, selama vaksin atau obat yang spesifik belum ditemukan atau belum pernah dicobakan ke pasien dalam skala besar (seperti di Wuhan). Apalagi jika digabung dengan kemampuan mengetahui dan mendeteksi adanya varian baru melalui whole genome sekuensing, serta didukung data riwayat penderita, akan sangat membantu dalam penyediaan beragam varian plasma convalescent.  

Kombinasi varian plasma dengan strategi lain seperti membiasakan cuci tangan, asupan gizi yang baik, banyak minum air putih, istirahat cukup dan lainnya, sebagai langkah preventif untuk mencegah penularan virus bagi diri pribadi dan juga melakukan pembatasan sosial untuk sementara sebagaimana anjuran pemerintah, ditambah tidak panik dan tetap terus berdoa, menjadi kunci percepatan penanganan wabah covid-19 di Indonesia.

Tentu perlu skrining bagi calon pendonor secara ketat jika ingin menggunakan metode terapi plasma convalescent, dan juga berpulang lagi pada kesediaan mencoba jalur alternatif plasma. Di samping tetap mengikuti irama badan kesehatan dunia. Kerelaan pasien yang sudah sembuh untuk membantu sesama dengan menyumbang plasmanya menjadi harga mati bagi penyelamatan negeri. Kini saatnya saling peduli.

Bisa jadi terapi plasma mampu memutar anggapan negatif terhadap wabah itu sendiri atau pun orang yang terkena covid-19, menjadi sebuah harapan selayaknya 'beternak angsa bertelur emas'. Mengubah kebencian jadi pujian, kekalutan jadi ketenangan, tangisan jadi senyuman, antipati jadi menyayangi, rasa minder jadi percaya diri. Bahkan terbuka peluang bisnis yang sangat menguntungkan, tanpa harus merugikan sesama atau memaksakan kehendak.   

BERITA TERKAIT