19 March 2020, 03:00 WIB

Dana Asrama Haji Jadi Bancakan


MI | Nusantara

PARA pengemplang uang rakyat terus memenuhi kamar-kamar di bui. Yang terbaru, M Tahir Rahman, koruptor dana revitalisasi dan pengembang­an Asrama Haji Jambi, yang harus menginap hingga lima tahun ke depan.

Saat menilap uang negara, Tahir tercatat sebagai Kepa­­la Kanwil Kementerian Agama Jambi. Dana yang ia gunakan untuk kepentingan pribadinya mencapai Rp1 miliar lebih.

Kemarin, hukuman 5 tahun penjara dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jambi. Vonis itu lebih ringan daripada tuntutan jaksa yang meminta terdakwa dihukum 8,5 tahun penjara.
Proyek Revitaliasi dan Pengembangan Asrama Haji Jambi ditalangi dana APBN 2016. Nilai proyeknya mencapai Rp51 miliar.

Pekerjaan proyek itu sempat mangkrak dan diusut Polda Jambi. Selain Tahir, jaksa juga menyeret sejumlah rekanan, di antaranya Tedrisyah, subkontraktor yang mengerjakan proyek.

Kemarin, ia divonis 6 tahun penjara. Kerugian negara akibat ulahnya mencapai Rp2,3 miliar. Terdakwa lain ialah Bambang Marsudi yang divonis 6,5 tahun, juga Johan Arifin Muba serta Mulyadi yang sama-sama dihukum 5 tahun 10 bulan.

Di Palembang, Sumatra Se­­latan, kasus suap mantan Bupati Muara Enim, Ahmad Yani, berlanjut di pengadilan negeri, kemarin. Dua saksi di­­ajukan terdakwa, yakni Iwan Kurniawan, seorang relawan dan Dodi Hamidi, anak buah sang bupati.

Ahmad Yani ditangkap KPK setelah satu tahun duduk sebagai bupati. Ia diduga menerima suap untuk proyek  pada dinas pekerjaan umum. Saat menangkap Yani, petugas KPK menyita uang tunai sebesar US$35 ribu.

Dalam kesaksiannya, Dodi meringankan posisi bosnya. “Tidak pernah ada orang yang memberikan kardus ber­­isi uang.”
Iwan juga menyatakan Yani tidak pernah memakai fasilitas kantor untuk kegiatan partai. (SL/DW/N-2)

BERITA TERKAIT