18 March 2020, 17:51 WIB

Belajar di Rumah Bukan Bebani Siswa dengan Tugas


Syarief Oebaidillah  | Humaniora

KEBIJAKAN pemerintah menutup sekolah dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di rumah atau home learning dan online learning diartikan sebagian guru dengan memberi tugas secara online dan mengumpulkannya pun online, dinilai kurang tepat.

" Alhasil para siswa dan orang tua mengeluh. Seiring libur sekolah, ternyata tugas siswa makin menumpuk-numpuk. Lebih mending sekolah normal, tugasnya tak sebanyak sekarang. Begitulah para guru memahami "pembelajaran online" yaitu pemberian tugas secara daring. Hanya itu, ' kata Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, Rabu (18/3).

Menurut dia, seharusnya bukan sekedar tugas yang membebani siswa, melainkan guru dan siswa berinteraksi secara virtual. Adanya interaksi seperti hari-hari biasa normal. Bedanya, interaksinya sekarang ini secara virtual.

''Para guru.belum kreatif memanfaatkan media pembelajaran online, bahkan sekedar memanfaatkan media sosial (medsos) pun belum optimal.Misal guru mengajar di rumah menggunakan Aplikasi LIVE Instagram, atau Live Facebook,'' ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI ), M Ramli Rahim mengutarakan belajar di rumah masing-masing siswa secara online dengan guru sesungguhnya bukan barang aneh buat guru-guru IGI, setiap saat guru IGI dilatih dan melatih guru memanfaatkan segalanya untuk pembelajaran kelas maya.

"Tak perlu Platform Pendidikan macam-macam seperti Ruang Furu, Quipper, Zenius atau sejenisnya karena memang guru IGI dilatih untuk itu, bahkan guru IGI sudah mampu membuat platform seperti itu meski dengan skala kecil, " ujarnya

Dikatakan bagi guru yang terbiasa seperti guru-guru IGI, tentu saja tak ada masalah.Tetapi bagi mereka yang tidak terbiasa apalagi baru belajar hari ini tentu saja masalah besar apalagi sudah tidak lagi bertemu langsung dengan siswa.

" Ini jika di daerah dengan sinyal bagus,kalau jaringan internet yang bermasalah tentu saja semuanya tak memungkinkan, "imbuhnya.

Ramli menegaskan tidak sependapat dengan menyodorkan start up atau platform pendidikan karena justru menunjukkan ketidakmampuan guru. "Mereka tidak punya kemampuan bahkan tak pernah menjalankan kelas jauh, tentu saja itu masalah," pungkasnya.(OL-2)

BERITA TERKAIT