18 March 2020, 14:47 WIB

Kasus DBD di NTT Tertinggi Kedua, Kemenkes Sebut Jumlah RS Cukup


Ihfa Firdausya | Nusantara

NUSA Tenggara Timur (NTT) menjadi wilayah dengan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi kedua setelah Jawa Barat. Dalam data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 17 Maret 2020, jumlah kasus DBD di NTT mencapai 3.407, sedangkan Jawa Barat mencapai 4.102 kasus.

Namun, NTT menempati urutan tertinggi untuk jumlah kasus kematian. Hingga 17 Maret, sebanyak 39 orang meninggal akibat DBD di NTT.

Ketersediaan rumah sakit-rumah sakit untuk menangani penyakit ini, terutama di wilayah timur, pun harus menjadi perhatian.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyebut ketersediaan rumah sakit di NTT sudah mencukupi. Menurutnya, untuk penanganan DBD, tidak diperlukan rumah sakit dengan tipe kelas yang tinggi atau tipe A.

"Karena kan DBD bisa ditangani mulai dari puskesmas sampai dengan RS. Untuk RS tidak perlu tipe A, cukup RS yang ada dokter spesialis anak dan dari spesialis penyakit dalam. Jadi tipe C saja cukup sesuai dengan syarat RS tipe C," jelas Nadia saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (18/3).

Dalam Pusat Data dan Informasi Pusdatin (Pusdatin) Kemenkes, tercatat ada 48 rumah sakit dengan 44 rumah sakit umum dan 4 rumah sakit khusus di NTT.

"Di Sikka saja ada tiga rumah sakit dengan puskesmas kalau tidak salah 20," kata Nadia.

Sikka merupakan salah satu kabupaten di NTT yang memiliki angka kasus DBD tinggi. Pemerintah setempat telah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) DBD di Kabupaten Sikka. (Ifa/OL-09)

BERITA TERKAIT