18 March 2020, 04:30 WIB

Social Distancing Semu di Trans-Jakarta


Tri Subarkah | Megapolitan

BUS Trans-Jakarta mulai kemarin kembali beroperasi normal pascapembatalan kebijakan pemangkasan rute dan jam pelayanan terkait penyebaran covid-19. Meski demikian, ada beberapa rute yang belum beroperasi.

Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas PT Transportasi Jakarta Nadia Diposanjoyo menyebut penyesuaian rute diperlukan untuk membuat social distancing di dalam bus Trans-Jakarta.

Untuk menjaga social distancing baik di dalam bus maupun halte, PT Transportasi Jakarta menambah frekuensi dan jumlah bus hingga dua kali lipat dari frekuensi normal. Dengan begitu, diharapkan jumlah penumpang yang naik di dalam satu bus bisa diminimalkan.

Nadia mengatakan kapasitas penumpang dalam rangka social distancing untuk bus gandeng menjadi 60, bus besar 30, bus sedang dan Royaltrans 15, dan Miktotrans 6.

Namun, kenyataan tersebut tidak terlihat di lapangan. Setidaknya itulah yang dialami Media Indonesia. Dari halte Bundaran HI, Media Indonesia naik bus bertipe besar menuju Blok M.

Saat memasuki bus itu, kondisi di dalam terpantau padat. Semua bangku terisi dan penumpang berdiri juga cenderung berdesakan. Padahal jarak aman antarpenumpang yang diatur untuk meminimalkan penyebaran covid-19 ialah satu lengan.

Berdasarkan hitungan kasar, jumlah penumpang lebih dari 40. Artinya, kebijakan social distancing tersebut gagal. Bahkan di halte Tosari, yang terletak setelah halte Bundaran HI, jumlah penumpang bertambah. Alih-alih mengimbau penumpang tidak naik, petugas di halte justru mengajak penumpang dalam bus untuk berjalan ke tengah agar penumpang dapat bertambah.

Salah satu petugas halte berdalih bahwa pihaknya terus berupaya menginformasikan soal social distancing kepada penumpang.

"Kadang situasinya begini, sudah kita berusaha infokan, tapi pelanggan tetap memaksa masuk. Dari antrean pun kita sebenarnya harus 1 meter, cuma kadang situasinya," akunya.

Markus, 60, penumpang yang duduk di sebelah Media Indonesia, menilai bahwa kepadatan tersebut terjadi karena banyak orang yang terlalu memaksakan diri. "Nguber waktu mungkin. Ya apa boleh buat. Petugas mestinya bisa mencegah supaya enggak terlalu padat."

Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, mengatakan pembatasan jumlah penumpang tetap harus dilakukan. Untuk merealisasikannya, Yayat mengatakan jumlah petugas di lapangan diperbanyak.

MRT Jakarta

PT MRT Jakarta juga kembali mengoperasikan kereta moda raya terpadu (MRT) secara normal, yakni pukul 05.00-24.00 WIB. Namun, untuk menekan penularan covid-19, sejumlah aturan tetap diberlakukan.

Pihak MRT menyediakan hand sanitizer bagi calon penumpang di Stasiun Lebak Bulus. Selain itu, setiap calon penumpang harus melewati pengukuran suhu badan sebelum calon penumpang melakukan tapping kartu.

Menurut Corporate Secretary PT MRT Jakarta Muhammad Kamaluddin, jumlah penumpang di dalam satu kereta dibatasi jadi 60 orang. Artinya, satu rangkaian hanya dibolehkan memuat 360 orang. Jika terjadi kepadatan calon penumpang, akan diberlakukan sistem buka-tutup stasiun. "Tetap ditunggu di luar. Penumpang harus sabar menunggu di luar. Kalau di dalam stasiun sudah padat, kami buka-tutup lagi stasiunnya, kayak kemarin," terang Kamal. (J-1)

BERITA TERKAIT