18 March 2020, 03:30 WIB

Jarak Sosial


M Alfan Alfian Dosen Universitas Nasional, Jakarta | Opini

KATA kalau bukan telah menjadi konsep jarak atau penjarakan sosial atau social distancing mendadak populer belakangan ini. Ia hadir seiring merebaknya wabah atau pandemi covid-19. Demikian pula dengan istilah lockdown. Kendati terkait dengan konteks kondisi perekonomian, keduanya menunjukkan pertimbangan pilihan dan konsekuensi kebijakan yang berbeda.

Ketika memberikan pidato di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (16/3), Presiden Jokowi menekankan pentingnya pelaksanaan social distancing. Dalam konteks ini, yang dimaksudkan ialah memberikan jarak dengan orang lain. Dengan cara itu, serta mengurangi berada di kerumunan orang banyak, Presiden menilai bisa mengurangi risiko tertular virus korona. Dikatakannya, kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah di rumah perlu terus digencarkan.

Jadi, jelas kiranya bahwa jarak sosial yang dimaksud sangat berimpitan maknanya dengan jarak satu orang ke orang lain secara fisik. Secara ilmiah kedokteran, hal itu sangat masuk akal dan bisa diterima. Dengan menjaga jarak fisik maka satu sama lain mengantisipasi kemungkinan penularan virus korona. Metode penularan virus ini memang sangat spesifik, mudah berjangkit dan berkembang eskalatif. Maka, segala hal yang berkaitan dengan kontak fisik, apalagi melibatkan kerumunan, harus dihindari.

Meski demikian, pandemi membuat--kalau bukan memaksa--kita untuk membangun jarak sosial dalam pengertian nonfisik. Dalam konteks ini, jarak sosial berkebalikan dengan pengertian di atas. Dalam pengertian nonfisik, satu sama lain harus saling mendekat, menyatu dalam empati bersama. Empati ialah inti--kalau bukan basis--dari solidaritas, kebersamaan, dan kegotongroyongan. Tanpa adanya empati, solidaritas sosial kemanusiaan yang lebih luas tak akan terbangun. Padahal, kita memerlukan itu menghadapi perkembangan virus korona.

Sangat alamiah

Konsep jarak sosial nonfisik itu sangat alamiah. Berbagai filsuf memandang bahwa pada hakikatnya kondisi alamiah manusia itu satu sama lain saling membutuhkan sehingga itulah yang mendasari kolektivitas. Bahkan, dalam konteks perkembangan manusia yang akhirnya berjalan secara egois di bidang masing-masing, hakikatnya dia tak bisa bekerja sendiri. Dia perlu kolaborasi dengan yang lain.

Dalam kapitalisme yang berbasis individualisme, manusia lebih banyak dipandang sekadar faktor produksi. Konsekuensinya basis nonfisik sering diabaikan. Manusia, sekadar dilihat dari potensi fisiknya sebagai tenaga kerja yang, apakah ia bisa produktif atau tidak. Dari sisi ini, robot bisa lebih efektif dan tidak banyak protes. Para kapitalis tentu lebih suka robot ketimbang manusia dalam urusan pekerjaan fisik.

Robot tak memerlukan kalkulasi perasaan, tak ada faktor empati di dalamnya. Jarak sosial fisik bisa berlaku untuk robot, tapi bukan yang nonfisik. Robot atau benda-benda sejenis bisa menularkan penyakit manakala di situ turut menjadi alat perkembangan virus atau bakteri. Manusia pun bisa membasminya dengan menyemprotkan disinfektan atau yang serupa. Satu sama lain antarrobot tak bisa berkomunikasi alamiah sebagaimana dilakukan manusia.

Bahasa robot atau mesin ialah bahasa pemrograman. Tergantung ia mau diprogram bagaimana, tetapi jelas manusia tidak bisa menghadirkan dimensi perasaan di dalamnya. Kecuali di fiksi-fiksi. Karena nyaris menjadi monopoli manusia, karena dalam perilaku binatang sering kali mereka juga bisa berempati dengan binatang lainnya, maka jarak sosial nonfisik justru mutlak harus didekatkan dalam situasi semacam ini.

Kita semua melihat, bagaimana gerakan empati, mendekatkan jarak sosial nonfisik, melanda banyak negeri saat ini. Di Italia, negara di Eropa yang paling fenomenal wabah korona tetap bisa berempati satu sama lain dari balkon dan jendela apartemen. Mereka saling menyapa tetangga kiri-kanan dengan bertepuk tangan. Itu simbol solidaritas sekaligus saling memberi semangat untuk sabar dan bertahan. Walaupun jarak sosial secara fisik terpisah jauh, mereka berupaya menunjukkan kedekatan secara nonfisik.

Dalam pengertian secara fisik, kita tak boleh menyepelekan jarak sosial. Konsep ini tetap membolehkan beraktivitas, tetapi satu sama lain harus berjarak fisik satu setengah meter dari yang lain, kendati sementara pakar ada yang kurang sependapat. Praktik jarak sosial secara fisik tetap penting dalam kerangka pencegahan. Implementasi jarak sosial tentu membutuhkan sejumlah prasyarat. Selain konteks sarana-prasarana yang menunjang, juga kesadaran satu sama lain.

Pererat jarak sosial nonfisik

Konsep ini berbeda dengan lockdown, penutupan total atas kawasan atau wilayah tertentu. Manakala dikaitkan dengan konteks kebijakan politik, implementasi jarak sosial lebih bertumpu pada anjuran atau imbauan. Namun, ketika suatu negara atau wilayah tertentu menerapkan lockdown, ia bukan lagi anjuran atau imbauan, tapi kewajiban. Meski demikian, secara praktik, satu sama lain menunjukkan hal yang berbeda. Ini bisa kita lihat di beberapa negara Eropa bahwa penerapan lockdown tidak selalu berarti membatasi interaksi sosial secara ketat.

Namun, secara psikologis dua konsep itu, apakah jarak sosial atau lockdown, punya konotasi masing-masing. Dalam konteks ini, lockdown barangkali punya dampak psikologis yang lebih tinggi dalam mendorong daya cemas kolektif masyarakat sebab barangkali lockdown akan segera dipahami masyarakat sebagai isolasi total sehingga mereka tak bisa berinteraksi dan beraktivitas.

Kebijakan lockdown di satu tempat barangkali bisa cepat memicu kecemasan yang berlebihan, tetapi justru itu bisa bermuara pada kepanikan-kepanikan atau chaos yang tidak perlu.

Bagi masyarakat dengan kebiasaan sehari-hari bekerja secara interaktif nyata alias membutuhkan peran fisik, konsep jarak sosial fisik dipandang lebih relevan. Dalam konteks inilah, kita menghargai kebijakan pemerintah yang tidak menerapkan kebijakan lockdown. Namun, pilihan pada social distancing berkonsekuensi terus-menerus pada kebutuhan pengawasan dan evaluasi.

Ini semua bergantung pada perkembangan. Manakala virus korona justru semakin menjadi-jadi setelah kebijakan jarak sosial diterapkan dalam beberapa pekan, maka yang dipertimbangkan nomor satu ialah keselamatan manusia, bukan yang lain, dan lockdown bisa menjadi alternatif. Ini bukan hanya ujian sejarah eksistensi manusia, melainkan juga ujian kepemimpinan pihak-pihak yang memiliki otoritas.

Di atas semua itu, kembali ke judul, mari kita pererat jarak sosial nonfisik kita sebagai basis solidaritas melawan virus korona. Tak ada waktu lagi untuk berdebat dan saling menyalahkan, kecuali bergerak bersama-sama menangkal covid-19.

BERITA TERKAIT