17 March 2020, 14:50 WIB

Kina, Tanaman Obat Penyembuh Korona Diabaikan


Depi Gunawan | Humaniora

Di tengah maraknya isu virus korona (Covid-19) masuk ke Indonesia, masyarakat berburu mencari obat-obatan untuk menangkal virus yang berasal dari Kota Wuhan Tiongkok ini.

Salah satunya Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Emil) yang mengimbau perguruan tinggi meriset bukti empiris klorokuin fosfat pada tumbuhan kina (Chinchona).  Tanaman yang biasa digunakan untuk pengobatan malaria ini disebut-sebut juga bisa mencegah pertumbuhan dan memblokade virus korona.

Tapi sayangnya, budidaya pohon kina jumlahnya terus menyusut. Saat ini, perkebunan kina yang masih tersisa hanya di kawasan Bukit Unggul, Kabupaten Bandung yang berada di bawah pengelolaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII.

Berdiri diatas lahan 708 hektare, perkebunan sekaligus pabrik pengolahan kulit kina yang beroperasi sejak tahun 1927 itu kini tinggal menyisakan sekitar 683.000 tegakkan atau 15 persen pohon dari jumlah ideal 1.000 pohon per hektar.

"Jumlah pohon kina di Bukit Unggul terus merosot seiring menurunnya produktivitas kualitas pohon karena pohon kina hanya diambil kulitnya saja," ungkap Asisten Afdeling Bukit Unggul, Tatang Hidayat saat ditemui di lokasi,  Selasa (17/3).

Disaat manfaat kina yang semakin meningkat karena dapat menangkal berbagai macam penyakit, pihak perusahaan mengambil kebijakan tidak lagi melakukan penanaman. Untuk itu, pihaknya melakukan berbagai upaya agar terus bisa berproduksi dengan jenis tanaman yang masih ada.

Baca Juga: UEFA Minta Rp5 Triliun untuk Tunda Piala Eropa 2020
Baca Juga: KPK Periksa Tiga Orang Terkait Kasus Suap di MA

"Pohon yang dipanen sekarang juga sisa penanaman tahun 2011 lalu, kalau pohon yang ada sekarang mati, produksi juga akan terhenti," ucapnya.

Manager perkebunan Bukit Unggul, Yanyan Cahyana menerangkan, karena terbatasnya jumlah pohon kina, kini pihaknya hanya bisa mengolah kulit kina dalam sebulan sekali.

"Yang diambil dari pohon kina hanya kulitnya saja, tak jarang jika teknik pangkasnya salah, pohonnya jadi mati," kata Yanyan.

Saat masa jayanya, Bukit Unggul menanam 4.439.500 pohon dengan asumsi 6.500 pohon per hektar dan mampu menghasilkan 100 ton tepung kina kering. Tetapi sejak PTPN VIII menjadikan kina sebagai komoditi penunjang di bawah komoditi utama teh, karet dan sawit, produksi kebun Bukit Tunggul terjun bebas hanya mampu mengolah 5 ton tepung kulit kina.

Menurut dia, kurang diliriknya kina sebagai komoditi utama karena beberapa faktor, salah satunya sisi bisnis perusahaan menimbang profit budidaya kina yang tergolong lambat menghasilkan laba.

Berbeda dengan teh dan sawit yang relatif butuh masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 3 tahun, pohon kina harus melalui TBM selama 7 tahun baru perusahaan bisa menghasilkan uang.

Faktor lain yang menurunkan minat perusahaan yaitu kalahnya pamor kina sebagai bahan obat malaria. Padahal, senyawa kina juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku minuman bersoda, kosmetik dan obat.

"Lantaran produksi yang hanya sebulan sekali, berpengaruh pada keberlangsungan ekonomi perusahaan. Bandingkan dengan jaman dulu yang karyawannya mencapai 400 orang, kini paling hanya tersisa 40 orang saja," ungkapnya.

Dengan adanya wacana kina sebagai obat korona, Yanyan berharap geliat budidaya pohon ini kembali bergairah. Pengelola kebun dan pabrik pengolahan kulit kina di Bukit Unggul mengaku siap mengangkat kembali pamor kina yang pernah mengangkat nama Indonesia pada jaman Hindia Belanda.  "Tentunya kami sangat siap," jelasnya. (OL-13)

 

BERITA TERKAIT