17 March 2020, 12:54 WIB

Yunita Lestari Ningsih Setia di Jalur Popok Bekas


Bagus Suryo | Nusantara

SEORANG pekerja sedang mencangkul tanah menyiapkan lahan tanaman pisang tepat di sebelah rumah Yunita Lestari Ningsih,41, warga Jalan Ikan Tombro, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Pekerja itu suruhan tetangga yang lahannya bersebelahan dengan rumah Yunita. Saat itu, cangkul pekerja membentur tumpukan tas plastik. Setelah dicek, ternyata isinya sampah popok bayi. Bagi Yunita, peristiwa enam tahun silam itu tidak terlupakan.

"Saat itu, tahun 2014. Anak saya baru saja lahir, berumur seminggu," tegas Yunita Lestari Ningsih membuka pembicaraan dengan Media Indonesia, Selasa (3/3).

Sang pemilik tanah pun komplain dan tak terima. Sebab, jumlah sampah tak tanggung-tanggung, ketika diangkut sampai sebanyak dua gerobak. Yunita yang merasa sebagai tertuduh pun membela diri. Sebab, pembuang sampah popok bayi yang jumlahnya cukup banyak itu bukan dirinya.

"Pemilik tanah menuduh saya. Mengira saya yang membuang popok, padahal, tidak mungkin, anak saya saja baru berumur seminggu. Tapi sampah popok sebanyak dua gunung," katanya.

Setelah diusut dan ditelusuri, ternyata yang mengubur sampah popok bayi itu tak lain adalah kakak Yunita sendiri.

"Yang menanam sampah popok bayi itu kakak saya. Anak kakak saya saat itu berumur 12 tahun. Jadi, popok itu sudah berumur 12 tahun tidak terurai di dalam tanah. Tas plastik hanya tercabik, sedangkan popoknya utuh di dalam tanah," ungkapnya.

Saking banyaknya sampah popok bayi sampai ia kebingungan membuangnya. Diputuskan untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah sementara, tapi tumpukan sampah di tempat itu sudah menggunung, apalagi lokasinya bersebelahan dengan warung makanan. Terpikir akan membuang sampah ke sungai, ternyata, sungai pun penuh dengan sampah dan popok. Di tengah kebingungan dan belum ada solusi, Yunita yang menjabat sebagai Ketua Kader Lingkungan RW 4 Kelurahan Tunjungsekar punya ide brilian. Ia pun mengurungkan niat membuang sampah ke sungai dan membawa pulang kembali dua gerobak sampah popok bayi tersebut.

Kebingungan justru menginspirasinya berbuat lebih bijaksana, menjadikan sampah bernilai ekonomis dan memiliki manfaat luas. Semula ia kebingungan, tapi tak menyerah. Sampah itu pun dicuci saban hari, dijemur, lalu dipotong untuk dibuat bunga dan bros. Alhasil, sampah popok bisa bermanfaat.

"Sejak 1 Januari 2015 saya tetapkan menjadi program kader lingkungan untuk kampung bersinar. Unggulan programnya adalah pengelolaan popok bayi bekas."

Program itu mengusung spirit perubahan perilaku dari sebelumnya membuang sampah secara sembarangan menjadi didaur ulang.

Yunita adalah pegiat lingkungan yang sangat konsisten. Ia terus bersemangat dan memiliki keyakinan kuat dalam menyadarkan masyarakat agar hidup lebih bermakna dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.

Kiprahnya mampu menginspirasi warga lainnya hingga merambah di semua kecamatan, bahkan warga Kabupaten Malang dan Kota Batu. Namun, mengubah mindset dan culturalset tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kendati demikian, penyadaran perilaku hidup bersih dan sehat getol ia lakukan melalui pertemuan ibu-ibu PKK termasuk saat pengajian.

Cantuka Kreatif 

Ada yang menarik dari sosok Yunita. Sebelum menggeluti sampah popok bayi, pada tahun 2011, ia bersama masyarakat mendirikan wadah Cantuka Kreatif. Wadah beraktivitas bagi ibu-ibu warga setempat itu bergerak di bidang lingkungan hidup atas inisiasi Pemerintah Kota Malang. Cantuka Kreatif berada di tingkat RW beranggotakan dua perwakilan kader lingkungan masing-masing RT, kemudian dipilih dua orang lagi untuk dikirim ke kader kelurahan sampai tingkat kota.

"Nama Cantuka Kreatif itu bermula dari kesalahan saat membuat kartu nama. Kita maunya nama Cantik Kreatif. Tapi saat pesan kartu nama, salah. Nama itu hasil kekeliruan pencetakan kartu nama, dan dipakai sampai sekarang."

Dalam wadah Cantuka Kreatif, motivasinya mengubah barang bekas atau limbah menjadi produk ekonomis. Saat itu, tahun 2011, belum mengenal popok bayi. Semula hanya menangani semua sampah nonorganik, plastik, baju bekas, botol dan sepatu.

"Kita punya bank sampah sejk 2011. Cantuka Kreatif itu unit tersendiri mengolah sampah yang tidak bisa dijual ke bank sampah pusat."

Proses perjalanan usaha kecil menengah ini ternyata kurang berkembang, bahkan merugi. Penyebabnya lantaran biaya produksi mengolah sampah menjadi kerajinan tangan tak sebanding dengan hasilnya. Apalagi pengeluaran lebih besar untuk pertemuan dan operasional. Biaya produksi melonjak untuk pertemuan dan operasional. Sekali keluar uang Rp100 ribu, itupun belum untuk membayar pekerja Rp20 ribu per orang per hari. Pekerja tugasnya memilah sampah dan membantu menyiapkan bahan kerajinan tangan. Kerajinan tangan yang dihasilkan diantaranya pot bunga, bros, keranjang, hiasan dinding. Namun hanya sedikit pembelinya.

Yunita pun memutar otak, mencari cara bagaimana popok bayi bisa diolah. Lewat penelitian selama 4 tahun, ia akhirnya mendaur ulang sampah popok bekas itu.

"Saya melakukan penelitian sendiri selama empat tahun sekaligus uji coba mulai pencucian, mengolah sampah popok sampai membuat kerajinan tangan. Berapa banyak sih yang memakai popok setiap hari, terus apakah ibu-ibu itu mau mencuci popok? Biasanya popok yang digunakan dalam sehari dua  sampai empat kali, aturannya kan pemakaian popok harus 4 jam sekali." 

Semua data dan aktivitas penggunaan popok dicatat mulai dari posyandu sampai rumah ke rumah. Bahkan perilaku ibu-ibu dalam memahami aturan pakai popok bayi pun tak luput dari pengamatannya. Kesimpulannya, dalam sehari, ibu rumah tangga bisa menggunakan popok pada bayinya selama 12 jam, setelah itu dibuang ke sungai karena merasa sungkan dengan tukang sampah. Biasanya, popok juga ditimbun atau dibakar.

"Bahaya membuang popok di sungai bisa menurunkan baku mutu air, mencemari lingkungan. Popok itu tidak hancur meskipun dipendam 12 tahun. Kalau dibakar, asapnya sangat berbahaya. Baik ditimbun, dibakar dan dibuang, itu bisa merusak lingkungan."

Dari hasil penelitian di posyandu binaan puskesmas, di empat kelurahan terdapat total sekitar 2.000 balita. Mereka dari Kelurahan Tunjungsekar, Mojolangu, Tasikmadu, dan Tunggulwulung. Dari sekitar 2.000 balita tersebut menghasilkan sekitar 4.000 popok per hari. Bagi Yunita, sampah popok bayi bukan sekadar limbah tanpa arti, justru memiliki potensi dan bernilai ekonomis.

Mengolah popok menjadi bahan kerajinan sangatlah mudah. Tahapannya setiap hari, popok yang baru dipakai harus langsung dicuci agar tidak bau kotoran. Cara higienis mencuci popok bekas itu dilanjutkan dengan merendam dalam air dan deterjen, dibilas dengan air mengalir. Tahap akhir perendaman dengan menggunakan desinfektan selama 5 sampai 10 menit. Takarannya tiap lima liter air, desinfektannya satu tutup botol.

Agar hasil kerajinan tidak menimbulkan jamur atau bakteri penyakit, popok yang akan dibuat kerajinan tangan tersebut dilakukan uji mikroskopik di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang. Hasilnya, media daur ulang popok ini buruk untuk perkembangan bakteri,jamur dan kapang sehingga layak digunakan.

Ia kian gencar sosialisasi dan edukasi hasil penelitian tentang pengelolaan sampah popok bekas ke ibu-ibu PKK. Memang, tidak mudah meyakinkan warga.

"Dari 100 orang yang ikut sosialisasi, awalnya hanya dua orang ibu yang bersedia mencuci popok."

Ia mengedukasi dengan memberikan contoh, bahwa popok bekas bisa diolah menjadi tas tangan dan berbagai jenis kerajinan tangan. Dari situlah makin banyak yang percaya dan mengikuti jejak baik Yunita. Kuncinya, ibu-ibu yang memiliki balita harus bersedia mencuci popok bekas pakai.

"Menyadarkan masyarakat itu tantangannya adalah perubahan pola pikir dan budaya agar tidak jijik pada popok."

baca juga: Bupati Bangka Barat Ajak Masyarakat Gotong Royong Hadapi Covid-19

Bermula dari modal Rp500 ribu, lanjutnya, hasil daur ulang limbah popok beromzet Rp25 juta. Uang hasil jualan digunakan untuk mengembangkan usaha, membeli peralatan dan bahan baku. Usaha popok ini berawal dari sosialisasi yang dilakukan oleh kader lingkungan di Posyandu membidik ibu ibu yang mempunyai bayi. Hasilnya, dalam waktu 3 bulan saja sudah bisa menutup kerugian usaha di Cantuka Kreatif. Kebangkrutan dari membengkaknya biaya produksi sejak 2011 bisa ditutup dari hasil mengolah sampah tersebut.

"Selama 3 bulan saat saya memegang popok pada tahun 2015, hasil penjualannya bisa mengcover kebangkrutan Cantuka Kreatif. Ibu-ibu senang membuat kerajinan, ada 26 macam bunga dari daur ulang popok," ujarnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT