17 March 2020, 12:45 WIB

Telaah Makna dan Sisi Bahasa Social Distancing


Melalusa Susthira K | Weekend

SOCIAL distancing menjadi respon dari pejabat dan otoritas kesehatan dalam menghadapi covid-19. Langkah itu diambil sebagai upaya yang terbukti efektif untuk memperlambat pandemi yang dapat menyebar antarmanusia tersebut. Secara sederhana social distancing ialah memastikan adanya ruang atau jarak yang cukup antara orang-orang, membatasi sejumlah pertemuan publik, meminimalkan kontak orang-orang satu sama lain, dan menghindari kerumunan masal.

Social distancing bertujuan untuk membantu menghentikan penyebaran kuman, termasuk virus seperti covid-19, yang dapat dengan mudah menyebarkannya ke orang lain melalui kontak jarak dekat baik secara langsung ataupun tidak. Penularan utama Covid-19 diketahui melalui tetesan kecil (droplet) dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi - seperti batuk atau bersin. Untuk itu, social distancing diharapkan akan membantu memperlambat penyebaran virus sekaligus diharapkan menunda waktu puncak transmisinya hingga berganti musim panas atau kemarau. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mengimbau agar menjaga jarak aman setidak-tidaknya satu meter, guna membantu menghentikan penyebaran virus covid-19. Social distancing dianggap perlu untuk membantu melindungi kelompok yang lebih rentan dalam masyarakat seperti lansia atau pengidap penyakit kronis, karena orang di luar kelompok rentan sekalipun dapat menjadi pembawa virus covid-19 tanpa menunjukkan gejala.

Sebagai bagian dari social distancing, sekolah-sekolah, tempat kerja, dan area publik pun ditutup untuk sementara waktu guna membantu memberi lebih banyak ruang kepada orang-orang, dan merekomendasikan lebih banyak bekerja di rumah atau mengalihkan kelas tatap muka menjadi daring. 

Selain itu, orang-orang mungkin juga diberitahu untuk menghindari berjabatan tangan, menghindari mengunjungi tempat-tempat keramaian umum, hingga pertemuan skala besar. Pemerintah pun dapat mempertimbangkan untuk mengurangi operasional transportasi publik dan menutupnya sementara waktu di daerah-daerah dengan banyak kasus covid-19 yang dikonfirmasi.

Merujuk pada hal tersebut, para ahli menyebut bahwa tidak apa-apa untuk pergi keluar rumah sebentar misalnya, mencari udara segar dan berolahraga. Intinya, social distancing bukan melulu tetap berada di dalam ruangan, namun untuk menghindari kontak jarak dekat dengan orang-orang. Saat meninggalkan rumah untuk membeli kebutuhan mendesak, perhatikan untuk rutin mencuci tangan atau mendesinfeksi tangan dengan hand sanitizer berbasis alkohol dan hindari menyentuh area wajah, seperti mata, hidung, dan mulut. Selain itu pilihlah waktu yang kiranya tidak di jam ramai untuk meminimalisir kontak, dan bila perlu membawa cairan disinfektan untuk mengelap permukaan publik yang dipegang. 

Adapun pegiat bahasa Indonesia, Ivan Lanin, menyarankan bahwa padanan bahasa Indonesia dari social distancing yang tepat ialah penjarakan sosial. Ia menyebut penjarakan sosial bermakna penjagaan jarak sosial, yang diambil dari kata dasar "jarak", bukan "penjara". Meski tepat secara arti, sambungnya, ketaksaan "penjarakan" membuat padanan itu masih perlu didiskusikan lebih lanjut. 

"Sebagai alternatif, kita bisa pakai perenggangan sosial atau penjarangan sosial. Ada yang menggunakan padanan "pembatasan sosial", tetapi istilah "pembatasan" terlalu generik. Untuk padanan yang lebih sederhana, kita bisa pakai "jaga jarak (sosial)". Jaga jarak sudah kita lakukan terhadap kendaraan lain ketika di jalan tol dan sebaiknya juga dilakukan terhadap mantan," jelas Ivan dalam akun Instagram pribadinya @ivanlanin, Senin (16/3). (Express/Thenewyorktimes/BBC/M-1)

BERITA TERKAIT