17 March 2020, 11:08 WIB

Menteri LHK Dukung Program Atasi Sampah Dengan Pembangkit Listrik


mediaindonesia.com | Humaniora

KETERANGAN FOTOMESIN PENGUBAH PELLET MENJADI GAS: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya (kiri) memasukkan pellet ke dalam mesin pengubah pellet menjadi gas disaksikan Gubernur NTB Zulkieflimansyah (kedua kiri) saat meninjau tempat pengolahan sampah menjadi “pellet refuse derived fuel” (RDF) di Dusun Kebon Kongok, Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, NTB, Minggu (8/3/2020). Pemprov NTB bekerjasama dengan PLN mengolah sampah di TPA Kebon Kongok menjadi pellet refuse derived fuel (RDF) sebagai campuran batubara untuk bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). (ANTARA/Ahmad Subaidi)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar berkunjung ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jerangjang, di Kebun Kongok, Desa Taman Ayu, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

PLTU Jeranjang adalah salah satu upaya PLN lewat anak perusahaanya, yakni Indonesia Power yang bertekad untuk mendukung program pemerintah untuk memerangi sampah melalui PLTU.

Pembangkit listrik tersebut memaksimalkan pemanfaatan sampah di TPA Kebon Kongok untuk digunakan sebagai bahan bakar pembangkit. Sebelum digunakan sebagai bahan bakar pembangkit, sampah tersebut diolah terlebih dulu menjadi pelet. Kegiatan ini dilaksanakan melalui program Jeranjang Olah Sampah Setempat (JOSS).

Membangun sektor energi

Menteri LHK ketika itu disambut oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Zulkieflimansyah beserta jajarannya dan Direktur Utama Indonesia Power M Ahsin Sidqi. Ia diajak untuk melihat proses pengolahan sampah menjadi energi.

M Ahsin menjelaskan secara detail tentang cara pengolahan sampah menjadi energi. “Nantinya sampah yang ada di TPA Kebon Kongok ini kita peuyeumisasi untuk dijadikan pelet, pelet ini selain bisa untuk menggatikan batu bara bisa juga untuk dipergunakan untuk masyarakat,” ujar Ahsin.

M Ahsin juga menjelaskan bahwa bila penggunaan batu bara secara penuh, dalam satu jam kondisi maksimal, PLTU Jeranjang membutuhkan 200 ton batu bara sebagai bahan bakar. Dengan substitusi sebesar 3%, maka dibutuhkan 600 kilogram pelet setiap jam sebagai pengganti batu bara. Selain itu, mesin-mesin yang digunakan untuk membuat pelet merupakan bagian dari program CSR PLN.

Setelah melihat dari demo mesin pembuat pelet, Siti Nurbaya berpesan agar program tersebut harus diterapkan dan diaplikasikan di seluruh Indonesia.

“Program ini sangat bagus untuk mendukung program pemerintah yang sedang gencar melawan sampah plastik dan juga untuk membangun sektor energi dari energi baru dan terbarukan. Terima kasih kepada Pemprov (NTB), PLN dan Indonesia Power yang sudah berjuang, saya harap program ini bisa mengurangi sampah khususnya di wilayah Lombok Barat ini,” tutur Menteri LHK.

Kunjungan Menteri LHK ke Lombok pun dilanjutkan dengan proses penanaman pohon bersama. Pohon Klucung dan Pohon Raju Mas dipilih karena tanaman tersebut merupakan pohon endemik dari Pulau Lombok. (S1-25/OL-09)

BERITA TERKAIT