17 March 2020, 08:15 WIB

Transportasi Massal kembali Normal


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

SETELAH mendapat arah­an dari Presiden Joko Widodo dan terjadi ­penumpukan ­penumpang angkutan umum, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akhirnya mencabut kebijakan pembatasan jam operasional serta jumlah armada tiga moda transportasi di bawah BUMD DKI Jakarta.

Mulai hari ini (Selasa, 17/3), bus Trans-Jakarta, kereta moda raya terpa­du (MRT), dan kereta lintas rel terpa­du (LRT) beroperasi normal. Bus Trans-Jakarta beroperasi 24 jam. MRT yang sempat di­batasi ­operasionalnya pukul 06.00-18.00 menjadi pukul 05.00-23.00. Demikian pula LRT yang akan kembali beroperasi pukul 05.30-22.00.

“Sesuai arahan Bapak Presiden terkait penyelenggaraan kenda­ra­an umum massal untuk masyarakat, maka kami kembali me­nye­lenggarakan dengan frekuensi tinggi untuk penyelenggaraan penerangan umum di Jakarta,” ujar Anies dalam konferensi pers di Balai Kota DKI, kemarin.

Namun, Anies tetap member­lakukan social distancing, yakni membatasi jumlah penumpang di satu armada dalam satu kali putaran perja­lanan. MRT yang berkapasitas maksimal satu rangkaian mencapai 1.800 penumpang tetap hanya boleh mengangkut 360 orang. LRT hanya boleh mengangkut 120 orang dari maksimal 400. Adapun kapasitas bus Trans-Jakarta gandeng hanya boleh mengangkut 60 orang dan bus tunggal hanya boleh mengangkut 40 orang.

“Social distancing ini penting untuk tetap menekan penularan virus korona atau covid-19. Ia me­ngatakan akan tetap menerap­kan ada antrean di luar stasiun dan halte,” tambahnya.

Pemprov DKI kemarin menerapkan pembatasan operasional transportasi, seperti pemangkas­an jam operasional, jumlah rangkaian gerbong kereta MRT, serta armada Trans-Jakarta. Hal itu mengakibatkan penumpukan penumpang di sejumlah halte karena belum se­mua perusahaan meliburkan kar­yawan. Terjadinya pe­numpukan penumpang tersebut menyebabkan social distancing sulit diterapkan.

“Penumpang yang mengan­­­tre di halte Mangga Besar me­­num­­puk. Ketika belum ada pem­­­batasan, halte ini kerap le­­­­ngang. Tapi sekarang terjadi pembatasan, justru calon penum­­pang membeludak,” ujar ­Marthin, pengguna jasa bus Trans-J­akarta.

Ukur suhu badan

Sementara itu, PT Kereta Api Indonesia (persero) melarang penumpang dengan suhu badan 38 derajat celsius ke atas untuk melaku­kan perjalanan dengan kereta api. Nantinya, calon penumpang KRL dengan suhu badan 38 derajat celsius lebih akan dirujuk atau diarahkan ke pos kesehatan di stasiun untuk diperiksa.

“Pelarangan ini dimaksudkan untuk meminimalisasi penyebaran virus korona di area ke­reta api. Pelarangan ini berlaku bagi penumpang KA Bandara Kualanamu dan Soekarno-Hatta (Railink) serta KRL,” ujar VP Public Relations KAI, Yuskal Se­tiawan, kemarin.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiya­di, menekankan bahwa pada kondisi saat ini, angkutan umum tidak harus beroperasi dalam kondisi penuh. “Kalau penumpang sudah men­capai 50% dalam satu arma­da, sudah harus jalan. Kami sebagai pemerintah berharap untuk pencegahan covid-19 butuh kerja sama semua pihak, kita harus kompak,” ujarnya.

Menko Bidang Maritim dan Investasi selaku Menteri Perhubungan Ad Interim Luhut Binsar Pandjaitan dalam siaran persnya juga ­menginstruksikan seluruh moda transportasi harus ­rutin ­dibersihkan menggunakan cairan disinfektan tiga kali dalam sehari.

Instruksi itu diberikan kepa­da jajarannya, yaitu Dirjen Perhu­bungan Laut, Dirjen Perhubung­an Udara, Dirjen Perhubungan Darat, dan Dirjen Perkereta­apian. (Hld/Ssr/ptr/HS/EI/X-7)

BERITA TERKAIT