17 March 2020, 13:05 WIB

Humor Tanggung Bautista dalam My Spy


Fathurrozak | Weekend

Dave Bautista kembali beraksi dalam film drama komedi. Setelah terakhir ia membintangi Stuber bersama Kumail Nanjiani, kali ini ia bersama seorang bocah berumur 9 tahun, Sophie (Chloe Coleman) di My Spy.

Dave Bautista dalam Stuber meninggalkan kesan yang kurang mendalam, bahkan bisa dibilang gagal untuk mengantarkannya menjadi film komedi. Saya lebih menyukai perannya di waralaba Marvel, yang juga menjadi universe favorit saya, The Guardian of The Galaxy. Di GOTG, Bautista memiliki dimensi karakter lebih luas. Ia mampu membawakan peran sebagai pemarah tetapi juga menunjukkan spektrum emosi lainnya meski di GOTG ia berpenampilan seperti monster.

Kondisinya itu jomplang tatkala ia membintangi Stuber. Karakternya sebagai Vic tidak lebih ialah humor yang kedaluwarsa. Banyak bit-bit komedi yang berakhir dengan punchline melempem. Dalam My Spy, Dave Bautista hampir-hampir mengulang yang terjadi di Stuber. Namun, untungnya naskah My Spy relatif lebih baik, dengan kelengkapan aktor lain yang juga ikut memberi dimensi keutuhan film. 

Coleman, misalnya. Berperan sebagai Sophie yang terasing dari pergaulan di sekolah dan anak yang ditinggal oleh working mother, pertemuan dengan JJ (Bautista) merupakan pelampiasan.

JJ adalah agen CIA yang ditugaskan untuk memantau apartemen Kate (Parisa Fitz-Henley) yang tinggal bersama anaknya yang berusia 9 tahun, Sophie. Keduanya baru pindah dari Paris. Suami dan saudara suaminya terlibat dalam kejahatan perdagangan senjata. Tugas pemantauan ini akibat ulah JJ saat di Rusia yang gagal mengungkap secara penuh siapa saja yang terlibat dalam transaksi senjata nuklir. Ia hanya berhasil menggagalkan transaksi. Alih-alih mengungkap sisa kartel, dia malah menghabisi semuanya.

Setelah meretas rumah Kate dengan memasang beberapa kamera di titik rumah, aksi JJ dan mitra teknisinya, Bobbi (Kristen Schaal) terungkap oleh Sophie. Sophie pun balik mengancam keduanya dan berniat mengunggah video aksi JJ-Bobbi ke internet. Bila tidak ingin terjadi, JJ harus menjalin kesepakatan dengan Sophie untuk menemaninya bermain seluncur es, dan datang pada perayaan hari orangtua dan teman spesial di sekolahnya.

Peran Coleman sebagai bocah 9 tahun terlihat menonjol. Ia bermain cukup apik dengan segala kecerdikannya dan menjadi titik polar dengan JJ yang secara visual terkesan garang dan berbahaya. 

Pada dasarnya, karakter JJ memiliki tujuan untuk kembali menjadi agen CIA yang dipercaya bosnya. Kembali bekerja di lapangan. Pertaruhannya, bila JJ gagal mengembalikan kepercayaan lewat misi pemantauan, tentu ia bisa dipecat. Hambatan mencapai tujuan itu, justru datang dari Sophie. Membuat JJ terlibat kontak langsung dengan target. Namun, hambatan ini yang malah turut mengubah karakterisasi JJ. Dari kaku dan dingin, menjadi lebih hangat secara emosi sehingga kita bisa menikmati perubahan karakter yang terjadi.

Permasalahannya, unsur dalam penceritaan tidak ada yang menonjol. My Spy mungkin menjadi film tipikal drama-komedi keluarga dengan aktor mantan pegulat. Seperti John Cena dalam film terakhirnya, Playing With Fire, atau Dwayne Johnson di film terdahulunya, Tooth Fairy (2010) dan The Game Plan (2004). Ketiadaan bangunan kuat penceritaan membuat My Spy dengan tipikal film serupa tidak jauh berbeda. Malah, dengan kategorisasi usia penonton 13+, membawa My Spy berada dalam persimpangan, antara komedi dewasa yang tanggung dan film remaja yang tidak sepenuhnya setia pada klasifikasi usianya. (M-2) 

BERITA TERKAIT