17 March 2020, 00:10 WIB

The Fed Potong Suku Bunga Acuan Jadi 0,25%


Nur Aivanni | Internasional

BANK Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve dan bank-bank sentral lainnya, Minggu (15/3), mengumumkan serangkaian tindakan berani untuk menopang kepercayaan yang terpukul oleh pandemi virus korona baru (covid-19), ketika jumlah kematian di seluruh dunia melewati 6.000 jiwa.

Dihadapkan dengan penutupan ekonomi yang meningkat akibat pandemi, The Fed memangkas suku bunga utama menjadi hampir nol pada kisaran 0%-0,25%.

The Fed juga mengumumkan pembelian aset besar-besaran, membuka jendela pinjaman diskon untuk bank-bank, dan mendesak mereka untuk menggunakannya demi membantu bisnis dan rumah tangga.

Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya telah berulang kali memarahi bank sentral independen itu karena tidak bertindak lebih agresif, memuji langkah tersebut.

“Apa yang terjadi dengan The Fed ialah berita yang fenomenal,” kata Trump pada pengarahan rutin gugus tugas virus korona. “Saya bisa memberitahumu, saya sangat senang,” kata Trump, seperti dikutip dari AFP, kemarin.

Langkah masif terhadap kekuatan finansial itu diambil untuk menahan kejatuhan ekonomi karena perusahaan-perusahaan terpaksa menutup pintu mereka dalam ekonomi global yang sudah lamban.

Bahkan dengan langkah-langkah tersebut, kata Gubernur The Fed Jerome Powell, kuartal kedua akan menjadi kuartal yang lemah dengan output mungkin sedikit menurun.

“Setelah itu menjadi sulit untuk dikatakan. Itu akan bergantung lagi pada jalur virus itu,” kata Powell.


Harus bekerja sama

Ketua IMF Kristalina Georgieva menyatakan pemerintah global harus bekerja sama untuk menyediakan pengeluaran besar-besaran seperti dalam krisis keuangan 2008 untuk membantu perekonomian menahan kerusakan akibat pandemi virus korona.

“Ketika virus menyebar, kasus untuk stimulus fiskal global yang terkoordinasi dan tersinkronisasi semakin kuat dari jam ke jam.” ujar Kristalina.

Sementara itu, investor telah menarik hampir US$42 miliar dari pasar negara berkembang sejak awal krisis, “Aliran ­keluar terbesar yang pernah mereka catat,” ujarnya.

Sementara itu, Jerman akan memperkenalkan kembali kontrol perbatasan dengan Prancis, Austria, Swiss, Luksemburg, dan Denmark mulai Senin (16/3) pagi.

Hal itu diungkapkan Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer, Minggu.

“Penyebaran virus korona berkembang dengan cepat dan agresif. Salah satu langkah paling penting ialah memutus rantai infeksi,” kata Seehofer.

Keputusan itu diambil setelah Robert Koch Institute, yang bertanggung jawab atas kesehatan masyarakat di Jerman, telah menyatakan wilayah perbatasan Prancis Alsace-Lorraine sebagai daerah berisiko.“Ini memicu banyak pertanyaan dan keresahan di negara-negara tetangga,” ­tukasnya.

Jerman sejauh ini mencatat 4.838 kasus infeksi covid-19 dan 12 kematian yang dikonfirmasi.
Adapun Malaysia melaporkan 125 kasus covid-19 baru pada Senin (16/3) sehingga total kasus di negeri jiran itu 553 orang.

“Sembilan puluh lima kasus baru terkait dengan pertemuan agama atau tablig di sebuah masjid di Sri Petaling,” kata Menteri Kesehatan Adham Baba.

Sekitar 14.500 warga Malaysia dan 1.500 orang asing menghadiri pertemuan ke­agamaan massal di masjid itu antara 27 Februari dan 1 Maret. (AFP/CNA/Hym/I-1)

BERITA TERKAIT