16 March 2020, 15:45 WIB

Komunikasi Efektif Dokter-Pasien Kunci Kesembuhan Penyakit Kronis


Muhamad Fauzi | Humaniora

PENYAKIT kronis menyebabkan permasalahan kesehatan serius karena menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Dari setiap 57 juta kematian orang di seluruh dunia, 71 persennya (41 juta) diakibatkan penyakit kronis.

Berdasarkan sifat penularannya penyakit kronis, dibagi menjadi penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular yang bersifat kronis yaitu tuberkulosis,  HIV/AIDS, malaria, kusta, filariasis, hepatitis.  Adapun penyakit tidak menular yang bersifat kronis ialah diabetes, hipertensi, penyakit jantung, kanker, penyakit paru obstruksi kronis, Asma, dan lain-lain.  

Tidak semua penyakit kronis mengancam jiwa. Namun menjadi beban ekonomi bagi individu, keluarga, dan komunitas secara keseluruhan. Selain itu, kondisi penyakit ini tanpa pengendalian yang baik akan menyebabkan kematian dan kecacatan.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Dr. Arlinda Sari Wahyuni mengungkapkan, salah satu aspek penting dalam penatalaksanaan penyakit kronis yang memiliki durasi pengobatan yang panjang adalah perbaikan perilaku pengobatan yang terdiri atas tiga tingkatan yaitu compliance (cakupan dimana pasien mengikuti saran oleh seorang profesional kesehatan dan menggunakan obat), adherence (cakupan dimana perilaku pasien sesuai dengan saran dari dokternya), dan concordance atau perilaku pengobatan yang paling atau harmonisasi yaitu hubungan yang harmonis pada pelayanan kesehatan antara pasien, petugas dan dokter yang merawat. Adanya persetujuan antara pasien dan dokter dapat dicapai setelah ada komunikasi yang baik yaitu adanya kualitas interaksi dokter dan pasien dengan rasa respect (kepercayaan) dengan menerapkan prinsip partnership.

“Penatalaksanaan penyakit kronis memerlukan waktu yang relatif lama, yang harus tetap dimonitor dan dievaluasi secara objektif melalui penilaian dan pengukuran. Oleh karena itu, pasien harus memahami berbagai hal yang berkenaan dengan penyakitnya, agar penatalaksanaan dapat berjalan efektif, tidak putus di tengah jalan, dan dapat mencapai target, yaitu terkontrol atau terkendali. Hal ini sangat berkaitan dengan faktor edukasi, yang mengisyaratkan perlunya komunikasi efektif di antara pasien dan keluarganya dengan dokter dan petugas kesehatan yang merawatnya,” ujar Arlinda saat Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kedokteran USU yang disampaikan pada Rapat Terbuka USU, di Gelanggang Mahasiswa, Kampus USU, Medan (16/3).

Dalam Pidato Pengukuhan yang berjudul “Harmonisasi Perilaku Pengobatan Penyakit Kronis pada Layanan Primer di Indonesia”, yang diterima Media Indonesia,  Arlinda mengatakan, kualitas interaksi antara profesional kesehatan dengan pasien penyakit kronis di layanan primer merupakan bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan. Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan pasien adalah suatu hal penting untuk memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi tentang diagnosis. Pasien membutuhkan penjelasan tentang kondisinya saat ini, apa penyebabnya dan apa yang mereka lakukan dengan kondisi seperti itu.

Baca juga: ASN Boleh Kerja dari Rumah, Pelayanan Publik tak Boleh Terganggu

“Pada beberapa penelitian yang kami lakukan, kami mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang melibatkan antara interaksi dokter dan pasien seperti dokter menjelaskan secara lengkap mulai dari penyakit, penatalaksanaannya sampai pemantauan penyakit. Selain itu interaksi jelas terlihat ketika pasien mengkomunikasikan teknik atau cara menggunakan obat dengan benar, bahkan secara interaktif dokter meminta pasien untuk memperagakan cara penggunaan obat,” jalas Arlinda.

Disamping itu, tambahnya, dokter perlu berempati terhadap permasalahan dan mau mendengarkan keluhan pasiennya. Termasuk memahami masalah keuangan pasien dan memberikan penjelasan untung ruginya pengobatan yang diberikan secara ekonomi.  Bukan berarti pasien diberikan obat yang murah. Namun pemberian obat yang sesuai dengan standar dan menimbulkan kesembuhan yang optimal sekaligus mempertimbangkan aspek sosial ekonominya.

“Peran dokter terhadap pasiennya adalah juga sebagai motivator, semangat dalam memberikan penjelasan, serta selalu melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan tentang penyakitnya. Komunikasi dokter-pasien yang efektif ditandai dengan adanya proses yang interaktif antara dokter dan pasien, dimana terjadi penyampaian informasi yang timbal balik antara dokter dan pasien,”  tandasnya.

Menurut  Arlinda, teknik komunikasi dokter pasien yang berbasiskan pasien bukan hanya diterapkan pada praktek medis, namun juga merupakan salah satu target (dari tujuh target) pembelajaran Kurikulum Berbasiskan Kompetensi Fakultas Kedokteran di seluruh Indonesia yaitu setiap dokter yang dihasilkan harus mempunyai ketrampilan komunikasi efektif. (OL-13)

BERITA TERKAIT