17 March 2020, 09:35 WIB

Mengamankan Kondisi Mental di Musim Korona


Galih Agus Saputra | Weekend

Wabah penyakit menular seperti virus korona Covid-19 tak dapat dimungkiri memang cukup berbahaya bagi 'kesehatan fisik' manusia. Akan tetapi, banyak juga yang lupa bahwa di tengah kecemasan akan pandemi tersebut, kesehatan mental juga perlu dijaga.

Psikolog sekaligus pemerhati 'Pertolongan Pertama Pada Masalah Kesehatan Mental (Emotional First Aid)', Guy Winch, dalam ceramahnya di TED mengatakan bahwa kedudukan 'kesehatan mental' dan 'kesehatan fisik' pada dasarnya sama-sama penting.

Sebagai gambaran, ia mengatakan bahwa seseorang mungkin sering mengatakan 'biarkan berlalu, itu hanya di pikiranmu', ketika ada teman atau sahabat bercerita soal 'putus cinta'. Akan tetapi, lanjutnya, apakah kata-kata tersebut juga dapat dilontarkan kepada mereka yang tengah mengalami patah tulang kaki setelah jatuh dari sepeda?

Berangkat dari analogi tersebut, Winch sebenarnya ingin mengatakan bahwa masalah 'kesehatan mental' dan 'kesehatan fisik' manusia memiliki urgensi setara. Membiarkan orang berlarut-larut pada kecemasan yang dialaminya ialah seperti menyayat-nyayat luka yang sudah terlanjur menganga, dan oleh karena itu tidak boleh dibiarkan berulang terlalu lama.

Begitu juga dengan kasus pandemi Covid-19, seseorang jangan sampai terlalu larut dalam paranoia. Rasa takut dan cemas berlebih hanya akan memperburuk kesehatan mental, yang juga memengaruhi imunitas tubuh. 

Ada beberapa kiat yang diharapkan dapat membantu kita menjaga kesehatan mental, seperti dikutip dari situs www.mentalhealth.org.uk. Berikut di antaranya:

1. Hindari spekulasi
Informasi ialah salah satu kebutuhan mendasar manusia. Hanya saja, jika ia diselubungi banyak spekulasi atau rumor, pada akhirnya hanya akan memunculkan kecemasan dan ketakutan yang berlipat ganda. Dalam kondisi seperti ini, seseorang perlu mengakses informasi yang berkualitas, baik dari instansi pemerintah, dinas kesehatan, atau media massa yang memang sudah terkenal dengan validitas atau presisi informasinya.

2. Galang dukungan emosional
Dalam keadaan takut, cemat, atau penuh tekanan, cobalah tetap terhubung dengan teman, sahabat, rekan kerja, atau keluarga. Mengobrol dengan mereka melalui saluran seperti surel, apliaksi percakapan, atau media sosial dengan tema lucu atau menyenangkan dapat menjadi 'dukungan emosional'. Perlu diingat kembali bahwa selama bercakap Anda harus menolak untuk menyepekulasikan masalah atau membumbuinya dengan hal yang bersifat sensasional.

3. Libatkan anak dalam percakapan

Melibatkan keluarga dan anak-anak dalam rencana atau obrolan bertema kesehatan adalah hal yang baik dan penting. Penggambaran yang jelas disertai antisipasi dapat membuat mereka lebih terampil dalam mengatasi pandemi yang sedang dihadapi.

4. Tetap waspada
Merasa rentan dan trauma ialah kasus yang kerap dijumpai dalam kesehatan mental. Kebanyakan orang barang kali kerap menghindari hal ini dan tidak memikirkan solusi. Akibatnya, trauma itu akan berulang ketika ia tiba di  suatu momen yang mengingatkan peristiwa yang pernah dialami.

Maka dari itu, penting bagi sesorang untuk mengakui trauma atau perasaan tersebut. Ia harus dapat mencari jalan keluar dengan cara mengelola trauma itu, sehingga semakin waspada dengan persoalan yang tengah dihadapinya saat ini.

5. Tunda kesimpulan
Jangan terlalu cepat menilai dan membuat kesimpulan tentang apa atau siapa yang harus bertanggung jawab atas penyebaran 'wabah baru' ini.

Bagi seseorang yang tengah berada dalam ruang isolasi, penghakiman barang tentu dapat menjadi persoalan yang sangat menakutkan. Menjaga pikiran sembari menunggu penelusuran para ahli dalam periode tertentu lebih jauh berharga bagi kesehatan mental pada diri sendiri, dan akan lebih baik jika diikuti dengan relaksasi atau olahraga ringan (workout) yang dilakukan secara mandiri. (M-2)

 

BERITA TERKAIT