16 March 2020, 15:46 WIB

Pandemi Covid-19 Dimanfaatkan Investor untuk Beli Saham


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Ekonomi

PASAR modal dalam negeri yang terus mengalami penurunan akibat menyebarnya virus korona atau Covid- 19 justru diartikan tiga perusahaan besar sebagai momentum baik untuk membeli saham.

Ketiganya yang merupakan investor besar pengelola dana publik, yakni BPJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK), Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) serta Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Baca juga: Covid-19 Menyebar, Ini Arahan OJK bagi Kegiatan Industri Keuangan

“Kondisi saat ini sebetulnya waktu yang sangat tepat untuk masuk di bursa, kami bertiga tidak mau kehilangan momentum untuk masuk ke pasar. Jangan dilihat kondisi pasar sekarang, tapi long time horizon sesuai profil dana kita”, kata Suheri, Ketua ADPI pada Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) saat Pembukaan Perdagangan BEI oleh Investor Pengelola Dana Publik pada Senin (16/03) di Bursa Efek Indonesia,Jakarta, Senin (16/3).

Dirinya optimistis fundamental ekonomi indonesia masih baik dan akan semakin membaik sehingga berani untuk masuk ke pasar saham. 

"Ini kita lakukan bukan karena desakan atau intervensi dari manapun, tetapi atas kesadaran sendiri berdasarkan pertimbangan bisnis rasional. Industri Dana Pensiun komit untuk memulihkan pasar finansial Indonesia saat ini” ujar Nur Hasan Kurniawan, Ketua Umum Perkumpulan DPLK.

Sementara itu, Direktur Utama BPJAMSOSTEK, Agus Susanto, mengatakan kondisi pasar yang saat ini dinilai menjadi hal yang mengkhawatirkan itu jelas harus disikapi berbeda bahkan sebagai seorang investor. 

“Kondisi pasar yang sedang lesu saat ini dipengaruhi oleh banyaknya investor yang keluar dari bursa saham nasional, namun kami justru melihat ini sebagai peluang yang baik untuk masuk”, kata Agus. 

Ia menilai sesudah ada penurunan drastis, maka akan muncul keuntungan drastis pula nantinya.

Agus mengatakan, terhitung Desember 2019, BPJS Ketenagakerjaan mencatat dana kelolaan mencapai Rp431,6 triliun. Dana kelolaan tersebut dialokasikan pada instrumen fixed income seperti deposito dan surat utang dengan persentase 71,4%, saham sebesar 19,09%, reksa dana sebesar 9,34%, dan sisanya pada investasi langsung seperti properti dan penyertaan.

Dengan mengelola dana publik durasi jangka panjang, ketiganya yakin para peserta dapat keuntungan banyak dari dana digelontorkan nantinya. Saat ini saja industri dana pensiun (DPPK dan DPLK) saat ini mengelola aset Rp289 triliun per Desember 2019.

Dalam kesempatan itu BEI pun mengajak investor domestik memegang kendali pasar modal dalam negeri. Seluruh investor domestik perlu bahu membahu agar bisa menjadi tuan di negeri sendiri. (OL-6)

BERITA TERKAIT