16 March 2020, 09:10 WIB

Hikmah Sunyi Perpus Ajip Rosidi


Bayu Anggoro | Humaniora

BANGUNAN di Jalan Garut No 2, Kota Bandung, ini memang beda. Tidak seperti umumnya di daerah itu yang banyak berdiri rumah tinggal, gedung berlantai tiga itu merupakan perpustakaan pribadi yang dibangun budayawan Ajip Rosidi.

Sesuai dengan nama pemilik, bangunan yang didominasi warna cokelat ini diberi nama Perpustakaan Ajip Rosidi yang dibuka sejak 2015. Meski warga umum diperbolehkan masuk dan digratiskan, sekilas gedung yang menyimpan lebih dari 40 ribu ini terlihat sepi.

Di lantai tiga sebagai ruangan inti karena menyimpan puluhan ribu buku, hanya terdapat seorang pengunjung yang tengah asyik membaca buku koleksi. Petugas Perpustakaan Ajip Rosidi yang juga pustakawan, Melisa Sabrina, membenarkan sepinya pengunjung meski terdapat banyak jenis koleksi buku.

Melisa menyebut pengunjung pun sebatas mahasiswa yang tengah mencari buku untuk tugas kuliah. Padahal, perpustakaan buka mulai pukul 09.00-17.00 (Senin-Jumat) dan 09.00-16.00 (Sabtu). Buku-buku karya Ajip Rosidi yang merupakan budayawan kenamaan asal tatar Parahyangan banyak dicari mahasiswa untuk dijadikan referensi tugas kuliah. "Tentang sastra Sunda, puisi. Ada juga yang mencari naskah drama," katanya.

Di situ juga juga ada Alquran kuno yang ditulis tangan yang usianya sudah ratusan tahun. Koleksi majalah Sunda, Mangle, yang sudah berusia lebih dari 50 tahun pun bisa didapat. Mulai edisi 1960-an hingga 2000 awal masih tersusun rapi di dalam rak.

Fahrizal, 22, mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung mengaku sudah tiga kali mengunjungi Perpustakaan Ajip Rosidi. Meski banyak menyimpan buku tentang budaya dan seni Sunda, baginya di rumah membaca ini tidak sulit untuk mencari buku tentang pengetahuan yang diinginkan. Suasana perpustakaan yang tidak ramai, bagi Fahrizal, ternyata bisa menjadi nilai lebih tersendiri.

"Ambil hikmahnya. Bagi saya, perpustakaan ini nyaman karena tak terlalu ramai," pungkasnya. (BY/H-1)

BERITA TERKAIT