16 March 2020, 08:50 WIB

Di Depan Bupati Belu Pasien DB Meninggal


Palce Amalo | Humaniora

BUPATI Belu, Nusa Tenggara Timur, Willy Lay, berniat menjenguk pasien demam berdarah (DB) yang dirawat di RSUD Atambua, Kamis, pekan lalu. Di ruang perawatan anak, sedang dirawat puluhan pasien, termasuk Maria yang tergolek lemas di tempat tidur.

Dia dilarikan ke rumah sakit karena menderita demam, sakit kepala, dan hilang nafsu makan lebih dari satu hari. Niat Willy menjenguk pasien DB lantaran korban DB terus meningkat setiap harinya pada pekan itu.

Namun, baru saja masuk ruangan, tangis orangtua, kakak, dan adik Maria pecah. Gadis kecil itu mengembuskan napas terakhir. "Pas saya datang, dia putus napas. Kita sedih sekali," ujar Willy. Setelah diusut, ternyata Maria sakit lebih dari satu hari, tetapi tidak dilarikan ke rumah sakit.

Penyebabnya, orangtua Maria tidak punya cukup uang dan takut membawanya ke rumah sakit untuk berobat. "Saya sudah cek langsung, ternyata masyarakat takut datang ke rumah sakit karena tidak punya BPJS," jelas Willy. Akibatnya, warga yang sakit baru dilarikan ke rumah sakit saat kondisinya kritis.

Setelah kejadian itu, Willy langsung mengumumkan seluruh pasien DB yang dirawat di rumah sakit atau puskemas di Belu akan ditanggung pemda. "Tidak usah bayar supaya masyarakat yang sakit tidak takut datang ke rumah sakit. Yang ada BPJS dan yang tidak ada BPJS, ditangani," katanya.

Willy juga mengeluarkan edaran yang ditujukan kepada seluruh kepala desa, lurah, camat, dan instansi lainnya untuk membawa warga yang sakit ke fasilitas kesehatan agar langsung didiagnosis. "Langsung bawa ke rumah sakit, jangan pikir biaya."

Menurut Willy, kasus DB di Belu sudah bisa ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB). "Saya lebih senang KLB sehingga penanganannya lebih cepat dan terkendali, dan bisa minta bantuan dari pemerintah pusat," ujarnya. (Palce Amalo/H-1)

BERITA TERKAIT