15 March 2020, 23:00 WIB

Korona dan Perang Intelijen Berbasis Bioteknologi


Widhoroso | Megapolitan

PERANG di masa depan diprediksi bukan lagi mengandalkan senjata konvensional seperti bom melainkan lebih cenderung perang intelijen dengan berbagai cara. Salah satunya menggunakan senjata biologis atau bioteknologi.

"Perang intelijen dengan bioteknologi membutuhkan riset yang panjang. Namun ada keunggulannya yaitu sulit terdeteksi dan bisa berdampak destruktif yang lebih masif dan sistemik," jelas pengamat intelejen Suhendra Hadikuntono, Sabtu (14/3).

Hal itu diungkapkannya terkait adanya anggapan pandemik virus korona baru (Covid-19) yang bermula dari Wuhan Tiongkok disebut merupakan operasi intelejen. Apalagi pandemik Covid-19 ini berbarengan dengan memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta momentum keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Menurutnya, semua analisis intelijen bisa saja dilakukan, asal bisa dibuktikan dengan data dan informasi akurat dan bukan sekadar analisis yang memancing polemik dan kegaduhan.

"Saya mencium ada kepentingan geopolitik global yang mendapat keuntungan dari melambatnya ekonomi Tiongkok dan negara-negara kawasan Asia. Ibarat blessing in disguise, berkah dari bencana ini di sisi lain memperlihatkan solidaritas negara-negara di kawasan regional dan global semakin kuat dan solid," terangnya.

Ke depan ia berharap berbagai institusi intelijen yang ada seperti di imigrasi, Bea Cukai dan sebagainya berkoordinasi dengan BIN selaku koordinator intelijen negara guna meningkatkan daya tangkal dan deteksi dini. Ia menngingatkan pentingnya peningkiatkan kapasitas sumber daya manusia yang baik aparat intelijen maupun kontra-intelijen secara signifikan.

"Pengetahuan aparat intelijen tentang situasi politik dalam negeri semata sangat tidak cukup dan harus ada up-grade kemampuan deteksi dan perkembangan geopolitik global. Ini diperlukan agar serangan asing dengan menggunakan bioteknologi dapat kita deteksi dan kita cegah-tangkal," ujarnya.

Ia menambahkan saat pemerintah fokus menangani wabah virus korona baru (Covid-19) lembaga intelijen negara harus sigap menangkal semua kepentingan yang akan memperkeruh suasana atau mengail di air keruh.

"Secara logika seharusnya aparat intelijen negara mempunyai kemampuan untuk mengamankan politik negara. Kegagalan pihak intelijen dalam mengantisipasi berbagai peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu tidak boleh terulang kembali," tandasnya. (RO/R-1)

BERITA TERKAIT