15 March 2020, 21:57 WIB

Ini Dasar Denny JA Diganjar Sastrawan Tingkat ASEAN


Cahya Mulyana | Politik dan Hukum

PENDIRI Lembaga Survei Indonesia Denny Januar Ali mendapatkan penggargaan sebagai sastrawan tingkat ASEAN dari Badan Bahasa dan Sastra Sabah Malaysia. Alasannya, Denny mampu membumikan warisan budaya ini dengan baik dan diterima khalayak.

Hal itu dipaparkan Presiden Badan Bahasa dan Sastra Sabah, Malaysia Datuk Jasni Matlani. Menurut dia, pengambilan keputusan terhadap kategori tersebut sangat komprehensif dan dasar yang kuat.

"Penghargaan sastra untuk kemanusiaan dan diplomasi ASEAN ini merupakan satu anugrah sastra tertinggi yang diberikan oleh kerajaan (pemerintah) Negeri Sabah," katanya melalui keterangan resmi, Minggu (15/3).

Penghargaan ini, kata dia, diberikan melalui Badan Bahasa dan Sastera Sabah kepada seorang pengarang dan tokoh sastra yang memberikan sumbangan besar baik kepada perkembangan sastra ataupun terhadap isu kemanusiaan, untuk tingkat ASEAN.

Badan Bahasa dan Sastra Sabah adalah sebuah badan bebas yang didukung penuh oleh kerajaan negeri Sabah. Badan ini bertanggung jawab melaksanakan kerja-kerja pengembangan sastra di Sabah dan disekitar.

Badan ini berdiri pada tanggal 19 Maret 1970. Sudah lima puluh tahun badan ini mengurus soal sastra. Kemudia pemilihan Denny JA sebagai penerima anugerah ini pada tahun 2020 adalah berdasarkan karisma dan sumbangannya yang amat besar.

"Ia mendekatkan sastra kepada khalayak yang lebih luas melalui genre puisi esai. Kami berpandangan puisi esai bukan saja menjadi cara baru sastra berkomunikasi dengan audience," paparnya.

Ia mengatakan lebih penting lagi tema puisi esai itu kental dengan isu kemanusiaan, seperti soal masyarakat tanpa diskriminasi. Tema yang diangkat di banyak puisi esai bukan saja sesuai dengan kondisi Indonesia tapi juga sesuai dengan kultur Asia Tenggara.

"Gagasan yang di bawa oleh Denny JA itu semakin diterima dan turut dirasakan impaknya di negara ASEAN. Bahkan para penyair dari aneka negara ASEAN sudah mengekspresikan hubungan antar kultur, masyarakat dan negara, dalam puisi esai," jelasnya.

Ia menganggap puisi esai sangat penting kerana memperkaya cara bertutur dalam sastra. Kemudian hal itu memberi pilihan kepada masyarakat untuk menuliskan puisi dengan riset dan catatan kaki.

Karya Denny JA, kata dia, tak hanya mengelaborasi sisi psikologis individual, tapi juga memaparkan isu sosial. Terlebih kini puisi esai sudah dikembangkan menjadi film.

Puisi esai yang panjang, berbabak, yang umumnya berupa historical fiction, memang lebih potensial diangkat ke layar lebar. Puisi esai adalah buah dunia sastra yang juga selalu berinovasi sesuai perkembangan zaman.

"Oleh sebab itu kami berpendapat beliau sangat layak menerima anugerah ini," pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT