16 March 2020, 02:20 WIB

Korona Mereda Tiongkok Menggeliat


MI | Internasional

SETELAH hampir dua bulan warga Tiongkok dikurung, kehidupan mereka mulai menggeliat setelah wabah korona (covid-19) mereda.

Sekolah, pabrik, ruang publik, dan tujuan wisata mulai dibuka kembali. Di provinsi barat laut Qinghai, yang sebagian besar berada di dataran tinggi Tibet, sekitar 144 sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan mulai dibuka kembali pada hari ini, Senin (16/3). Lokasi pariwisata di Provinsi Yunnan, Sichuan, dan Guizhou secara bertahap juga kembali beroperasi.

Pelonggaran beberapa pembatasan perjalanan juga berarti kepulangan bagi beberapa penduduk Provinsi Hubei yang telah terdampar selama berminggu-minggu. Salah satunya ialah Wu Haijian.

Setiap tahun, peternak lebah berusia 36 tahun itu melakukan perjalanan ke Yunnan pada akhir November untuk membiakkan lebah madu.

Wu dan teman-temannya, yang juga terjebak di Yunnan, mulai menelepon pihak berwenang setempat, meminta izin untuk kembali ke Hubei mulai 1 Maret.

Persetujuan akhirnya diberikan pada hari ini dan Wu  dipersenjatai dengan sertifikat kesehatan dari Yunnan dan surat penerimaan yang diberikan pihak berwenang di Hubei  berangkat dengan truknya yang memuat lebih dari 150 sarang lebah malam itu. ”Saya merasa lebih baik. Akhirnya, saya kembali ke rumah,” katanya.

Demikian juga Wang Faji, pekerja migran di Guangzhou. Ia naik bus ke kota metropolis selatan dari kota asalnya di Guizhou, daerah yang dilanda kemiskinan di barat daya Tiongkok. ”Epidemi telah memengaruhi hidup saya, tetapi tidak parah. Satu-satunya harapan saya ialah meminta gaji saya kembali,” katanya.

Pada Selasa (10/3), Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan kunjungan pertamanya ke Wuhan, ibu kota Hubei, sejak wabah korona dimulai di sana lebih dari dua bulan lalu. Itu ialah sinyal bahwa Tiongkok telah memenangi perang melawan epidemi.

Perusahaan di wilayah berisiko rendah secara bertahap dapat melanjutkan bisnis, sementara di daerah berisiko tinggi, layanan publik, dan pasokan kebutuhan sehari-hari diizinkan untuk dibuka kembali.

Tian Xi, 33, sukarelawan dari Yayasan Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pembangunan Hijau Tiongkok di Beijing, pergi ke Wuhan pada hari pertama Tahun Baru Imlek, dua hari setelah kota dikunci.
”Situasi dalam seminggu terakhir lebih baik karena kami telah menerima lebih sedikit permintaan bantuan,” kata Tian.

”Sekarang pertempuran telah berlanjut ke babak kedua dan saya harap ini akan segera berakhir,” jelas Tian. (SCMP/Haufan Hasyim Salengke/I-1)

BERITA TERKAIT