15 March 2020, 09:30 WIB

Warga Inggris Berjuang dalam Hotspot Virus Korona


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

SAAT penyebaran virus korona baru (covid-19) di Inggris masih dalam tahap awal, warga Inggris di seluruh dunia telah hidup dengan dampak virus selama beberapa waktu.

Di Hangzhou, Tiongkok, hanya beberapa ratus mil dari Wuhan, kota tempat wabah berawal, perlahan-lahan kembali normal bagi Gav Munro, seorang seniman, dan istrinya, Juliet, setelah diisolasi di rumah selama lima minggu.

“Kami melakukan karantina sendiri pada akhir Januari, tetapi pada Februari itu sudah menjadi wajib dan kami dibatasi untuk satu orang per rumah tangga yang diizinkan keluar setiap empat hari,” kata pria berusia 47 tahun itu. “Pada malam pertama karantina, saya keluar naik sepeda listrik dan sangat sunyi. Saat itulah saya tahu ini serius.”

Tiongkok telah berurusan dengan krisis covid-19 sejak awal tahun. Sebulan yang lalu, daerah yang terkena dampak terburuk, Provinsi Hubei, melaporkan bebe­rapa ribu kasus baru dalam sehari. Pada Rabu, hanya ada delapan infeksi baru. Ini pertama kali provinsi mencatat pencatatan harian dalam satu digit.

“Selama masa karantina, saya berjalan-jalan di taman umum di kompleks apartemen,” kata Munro, yang telah tinggal di Tiongkok selama 13 tahun.

“Saya tidak merasa keadaan menakutkan karena orang tidak benar-benar panik. Anda pergi ke toko-toko dan orang-orang akan saling membantu,” tambahnya.

 

Andalkan aplikasi

Dengan adanya aplikasi yang memberi tanda atau kode QR merah, kuning­, atau hijau pada status kesehatan seseorang membuat Munro merasa terbantu. “Luar biasa,” akunya.

“Kode hijau berarti saya bisa beraktivitas seperti biasa. Kode kuning berarti seseorang dapat dikarantina selama tujuh hari, dan kode merah berarti 14 hari. Anda harus menunjukkan kode di setiap toko yang Anda kunjungi, tapi itu juga meyakinkan saya bahwa saya berada di tempat yang aman,” terangnya.

Di Korea Selatan, yang sekarang menjadi negara keempat yang paling terkena dampak setelah Tiongkok dengan 7.869 kasus, ada harapan bahwa negara tersebut sedang mendekati titik balik.

Di provinsi North Gyeongsang Utara, dekat pusat wabah negara di Daegu, Amanda, 25, seorang guru bahasa Inggris, mengatakan banyak acara di bulan April telah dibatalkan.“Banyak tanda pembe­ritahuan di mana-mana mengingatkan kita untuk memakai masker, mencuci tangan, dan menggunakan hand sanitizer,” katanya.

Di beberapa tempat, seperti apotek, warga tidak bisa masuk tanpa mengenakan masker. “Membeli masker juga dibatasi dua per orang untuk memastikan ketersediaan cukup untuk semua orang,” jelasnya.

Sementara itu, Lauren Doling, 49, yang bekerja sebagai guru dan tinggal di Rosate, Italia, mengatakan dia merasa terisolasi karena tidak bisa meninggalkan Lombardy.

Di dekat Dolo di Provinsi Vene­sia, Jodie, 42, berusaha menjaga putranya yang berusia delapan tahun agar tetap asyik selama minggu ketiga di dalam ruangan.

“Kami hanya di rumah tidak melakukan apa-apa,” kata Jodie. “Kami biasa mengakses YouTube dan Fortnite, tapi dia tentu belum seharusnya memainkan itu.” ujarnya. (The Guardian/Haufan H Salengke/I-1)

BERITA TERKAIT