15 March 2020, 06:00 WIB

Indria Laksmi Gamayanti: Menumbuhkan Empati Sedari Dini


Ardi Teristi Hardi | Weekend

PERILAKU kriminal seorang remaja usia 15 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat, yang menghabisi nyawa balita tetangganya baru-baru ini menciptakan kehebohan dan keresahan di masyarakat. Alih-alih menyesal, pelaku mengaku mendapat kepuasan atas tindakannya.

Banyak pendapat atas ketidakwajaran tersebut. Sebagian orang menuding tayangan televisi dan internet yang jadi biang keladi. Sebagian lagi mengatakan si pelaku ialah psikopat. Ada pula pendapat yang mengklaim tak ada anak yang jahat.

Kasus tersebut sejatinya ialah satu dari sederet kasus kekerasan oleh anak di bawah umur. Untuk mengetahui perspektif dari segi klinis, ­terutama cara kita sebagai masyarakat untuk menghindarkan anak dari perilaku tersebut, Media Indonesia berbincang dengan Ketua Ikatan Psikologi Klinis Indonesia, Dr Indria Laksmi Gamayanti, di ­kantornya di Lembaga Pengembangan Diri dan Komunitas, Kemuning Kembar, Yogyakarta, Kamis (12/3) sore. Berikut petikannya.

Bagaimana pandangan Anda terhadap kasus pembunuhan balita oleh bocah usia 15 tahun di Jakarta yang menarik atensi publik baru-baru ini?

Ketika orang sudah tega menyakiti orang lain, apalagi sampai membunuh, pasti tidak bisa dikatakan sebagai perilaku yang umum. Menyakiti diri sendiri pun bukan perilaku yang umum.

Lalu, kenapa anak bisa seperti itu?

Itu bisa dimulai dari proses awal si anak hadir di dunia, dari kondisi emosional ibu saat anak berada di kandungan, situasi di rumah, hingga pola pengasuhan. Itu kalau kami menjadi catatan karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan anak akan terekam.

Seorang anak akan berbeda perilakunya bila dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda pula, misalnya, antara lingkungan yang menyenangkan dan lingkungan yang tegang, menyeramkan (banyak kemarahan). Terlebih lagi jika si anak tidak hanya melihat, tetapi juga mengalami kekerasan fisik ataupun kekerasan verbal, misalnya, sering dikatakan goblok, sering dicaci, dan disalahkan. Itu semua akan terekam pada diri dia.

Apa dampaknya pada anak tersebut?

Dalam menghadapi situasi, (anak tersebut) mungkin akan menggunakan cara pandang yang tidak ramah atau tidak menyenangkan, tetapi melihat situasi mungkin dengan kecurigaan atau mungkin dengan kemarahan.

Hal tersebut disebut adverse childhood experience, pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan atau masa kecil yang buruk.

Perilaku anak tersebut datang tiba-tiba atau ada prosesnya?

Tentu berproses dari pengalaman-pengalaman masa kecil. Kalau kita bicara perilaku, itu tidak seperti matematika, 7+7=14. Munculnya perilaku-perilaku itu sedikit-sedikit. Anak yang mengalami kekerasan sedikit dengan yang banyak tentu berbeda (perilakunya). Belum lagi, saat dia bertumbuh, bagaimana ­sikap lingkungan sekitar dia terhadap dia seperti apa? Otomatic recalling yang di memori biasanya pengalaman yang sering dialami ataupun tontonan yang sering ditonton. Itu (sesuai pengalaman atau tontonan) cara menyelesaikan masalah.

Bagaimana dengan perilaku yang suka menyakiti binatang?

Itu artinya empati tidak tumbuh atau tidak ditumbuhkan. Peran lingkungan sangat penting (untuk menumbuhkan empati). Misalnya, ada anak yang memotong sayap kupu-kupu, buat anak kecil itu rasa ingin tahu. Namun, orangtua bisa memberitahu (untuk menumbuhkan empati), itu tidak boleh, kasihan nanti kupu-kupunya nangis dan sebagainya. Ketika tidak ada bimbingan sama sekali dan perilaku itu memberikan kepuasan pada dia, perilaku itu pelan-pelan bisa menumpuk sehingga mungkin dorongan menyakiti orang lain atau sadis semakin kuat.

Kalau istilah di psikologi untuk orang semacam ini apa?

Pada anak-anak diagnosisnya belum tegak sekali. Kecenderungannya ada ke arah antisocial personality disorder yang berkembang menjadi empati berkurang dan lain-lain, tetapi perlu pemeriksaan lebih lanjut karena harus bertemu anaknya dan lingkungannya.

Apa yang harus dilakukan orangtua atau lingkungan ketika ada anak yang mengalami gangguan tersebut?

Kalau melihat ada perilaku anak yang menyimpang pada usia dini, orangtua minimal harus cepat melakukan introspeksi. Mengapa perilaku anak semacam itu? Selain itu, orangtua juga harus memberi tahu anak agar menumbuhkan empati.

Anak-anak yang tumbuh dengan kurang kasih sayang, biasanya mereka juga kurang empati karena dia juga tidak diberi empati.

Apakah perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan anak?

Anak usia di bawah dua tahun ­sebaiknya tidak terpapar audio-­visual devices (gadget). Dalam gadget, ada unsur gambar, warna, suara (stimulus-stimulus yang sangat kuat) sehingga anak menjadi terbiasa fokus pada stimulus yang begitu kuat. Ketika stimulusnya hanya satu, anak akan menjadi tidak responsif lagi. Oleh sebab itu, banyak anak sekarang yang sulit fokus.

Konten (yang ditampilkan) juga akan sangat membekas pada anak. Iya, kalau yang ditonton itu positif, bagaimana kalau negatif? Anak juga akan kecanduan, ingin meminta ditontonkan terus. Apa pun kalau sudah addict itu tidak bagus.

Apa yang paling penting ditumbuhkan pada diri anak-anak?

Yang paling dasar ialah menumbuhkan dan menguatkan kemampuan dasar, yaitu kemampuan kognitif atau berpikir, emosi, sosial, bahasa, serta motorik dan psikomotorik. Kemampuan dasar itu akan bertambah terus-menerus, tetapi usia lima tahun pertama itu penting sekali. Itu harus bersama-sama, seperti membangun rumah, fondasinya harus kuat.

Bagaimana cara menumbuhkannya?

Untuk anak-anak, menumbuhkan kemampuan dasar akan lebih bagus dengan cara natural, seperti diajak bermain, diajak beraktivitas, dan diajari hal-hal yang baik.

Orangtua harus menyempatkan waktu untuk berinteraksi secara intensif dengan anak walaupun orangtua dalam kondisi sibuk dan bekerja, pola komunikasi yang intensif dan hangat itu sangat penting.

Jika anak sudah telanjur berperilaku menyakiti orang lain, bahkan sampai termasuk kriminalitas, apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkannya?

Jika hanya dipenjara, itu tidak menyelesaikan masalah. Namun, dibiarkan juga menjadi masalah.

Tidak ada sesuatu yang ­instan, seperti sim salabim, dalam pem­bentukan perilaku. Misalnya, perilaku anak tujuh tahun merupakan proses kumulatif selama tujuh tahun.

Untuk itu, perlu kita lakukan ­pemeriksaan tentang penyebabnya, kemudian dianalisis, dan dilakukan psikoterapi. Mungkin banyak trauma-trauma yang harus ­ditelusuri dan dihilangkan trauma-trauma itu karena setiap perilaku pasti ada yang melatar­belakangi.

Apa yang harus dilakukan agar perilaku ini tidak muncul pada anak-anak lain?

Masyarakat dengan difasilitasi pemerintah agar lebih memperhatikan proses pengasuhan dan pendidikan. Anak-anak agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat, bukan hanya secara fisik, melainkan juga kejiwaan dan interaksi sosial.

Orang dewasa juga harus ­introspeksi karena tanpa disadari orangtua memperlakukan anak dengan keras atau cara-cara ­semestinya.

Apa perilaku seperti ini bisa benar-benar sembuh karena ada kekhawatiran masyarakat bahwa perilaku tersebut bisa kambuh?

Misalnya, jika sudah direhabilitasi secara intensif, sebelum keluar harus ada pemeriksaan lagi untuk memastikan perilaku dia. Pemeriksaannya pun harus hati-hati karena anak yang sudah berusia 16 tahun perilaku manipulatifnya sudah tinggi.

Dari pemeriksaan tersebut bisa dilihat apakah seseorang sudah aman dikembalikan ke masyarakat atau dia diberi aktivitas lain yang terkontrol.

Di sisi lain, ketika dia mendapatkan situasi yang tidak nyaman (­penolakan masyarakat), bisa ada luka batin lagi yang kemudian muncul (kambuh). Intervensi masyarakat (menjaga agar luka batin tersebut tidak kembali muncul) juga perlu. (M-2)

BERITA TERKAIT