14 March 2020, 15:20 WIB

Cegah Virus Korona, KPAI Minta Sekolah Diliburkan


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyarankan pemerintah agar segera meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah untuk sementara waktu guna mencegah penularan virus korona (Covid-19) pada anak-anak.

Alasan, dalam proses pembelajaran guru dan para peserta didik akan berada di dalam ruangan pada waktu yang cukup lama serta terjadi interaksi dengan banyak orang selama berada di lingkungan sekolah dan saat menuju serta pulang sekolah.

"Sekolah harus segera diputuskan untuk diliburkan (bisa diistilah anak belajar di rumah), mengingat dan mempertimbangkan bahwa  anak dapat tertular corona dari orang dewasa dan anak juga bisa saling menularkan," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam pernyataan resmi, Sabtu (14/3).

Retno menyarankan kegiatan belajar mengajar bisa dilaksanakan melalui metode daring atau pembelajaran jarak jauh selama sekolah diliburkan dalam jangka waktu tertentu.

"Para guru tetap dapat memberikan penugasan dan melakukan penilaian jika dilakukan secara daring. Bagi wilayah yang fasilitas untuk pembelajaran daring terbatas, bisa menggunakan aplikasi yang lebih mudah diakses, misalnya menggunakan aplikasi WhatsApp dalam memberikan penugasan atau komunikasi tanya jawab kepada para siswanya," pesannya.

Retno menjelaskan, anak terutama balita memiliki imunitas yang rendah dan masih dalam masa pertumbuhan. Namun, hampir semua rekomendasi baik dari WHO maupun pemerintah terkait corona, belum membahas detail terkait masalah anak. Padahal, penanganan anak berbeda dengan orang dewasa.

"Perlu diingat bahwa, anak balita tidak mungkin diisolasi tanpa orang tuanya. Ketika anak diiisolasi dengan orang tuanya, maka orang tuanya juga harus mendampingi," ujarnya.

Selain menyarankan pemerintah agar meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah, KPAI juga merekomendasikan agar pemerintah menyiapkan rumah sakit rujukan khusus anak dan pelibatan Ikatan Dokter Anak Indonesia karena memperlakukan pasien anak positif corona tentu saja berbeda dengan memperlakukan pasien dewasa.

"Ketika sudah ada anak yang kena, semua faktor harus dipertanyakan. Mulai dari apakah Indonesia sudah memiliki ruang isolasi pasien anak, atau adakah rumah sakit rujukan khusus anak, dan sebagainya. Selain itu, penting melibatkan dokter anak ketika sudah ada pasien anak," tuturnya.

Kemudian bagi para orang tua yang sekolah anaknya sudah diliburkan, maka harus dipastikan bahwa anak-anak tetap berada di rumah, diberikan makanan bergizi seimbang, istirahat cukup, dan terus mengedukasi dan mendampingi anak-anak agar berlaku sesehat mungkin di rumah.

"Yang penting, harus dipastikan bahwa selama libur, anak-anak memiliki kegiatan rutin yang positif, seperti bermain dan belajar," pungkasnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT