14 March 2020, 09:45 WIB

Pengusaha Diimbau untuk Tetap Tenang


Mir/Hld/X-10 | Ekonomi

KETUA Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso meminta kepada peng­usaha agar tidak panik terkait merebaknya covid-19 yang mulai merangsek ke pasar saham Indonesia.

“Saya imbau kepada peng­usaha, terutama yang punya portfolio di pasar global, tidak perlu panik. Karena Indonesia mencoba yang terbaik, berbagai hal kita lakukan dan agar dampaknya bisa minimal,” ujar Wimboh di Jakarta, kemarin.

“Kita punya protokol yang transparan, bagaimana step-step yang dilakukan OJK dan bursa untuk perdagangan di pasar modal. Kalau ini sampai terjadi penurunan berikutnya, kita punya step-step-nya,” sambungnya.

Ia menambahkan, merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dan mengekor pada melemahnya nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir disebabkan sentimen negatif. Apalagi setelah ditetapkan virus korona sebagai pandemik, sentimen negatif terjadi di hampir seluruh pasar saham dunia.

Untuk melawan sentimen negatif tersebut, imbuh Wimboh, Indonesia telah memberi ruang yang lebih lebar kepada para pengusaha agar mendapatkan kenyamanan bermain di pasar saham Indonesia.

“Upaya ini saya rasa bukan hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia harus melakukan hal yang sama. Sebab, semua bisnis ini ada keterkaitannya sehingga ini effort bukan hanya di Indonesia, tapi juga global,” tutur Wimboh.

Ketidakpastian yang disebabkan virus korona, lanjutnya, harus disikapi responsif dan tepat. Itu diperlukan untuk memberi napas dan ruang bagi pengusaha.

Kemarin, IHSG ditutup menguat 11,82 poin atau 0,24% ke posisi 4.907,57. Adapun kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 7,63 poin atau 0,99% menjadi 777,27.

Saat pembukaan perdagangan saham, sempat terjadi pembekuan sementara perdagangan (trading halt) pada sistem perdagangan di BEI pada pukul 09.15 WIB akibat penurunan IHSG melampaui 5%. Namun, perlahan pelemahan indeks berkurang hingga akhirnya ditutup menguat.

Pelemahan dan merosotnya IHSG juga terjadi di Wall Street dan negara yang dianggap sebagai tax haven country seperti Jepang.

“Ini karena memang persoalannya pada psikologis keamanan, karena adanya aspek kesehatan yang dianggap masih ­mengancam. Jadi fokus kita sekarang ialah dari bidang ekonomi, terus memperhatikan dengan teliti perkembangan ini,” ujar Menteri Keuangan Sri Mul­yani, kemarin. (Mir/Hld/X-10)

BERITA TERKAIT