14 March 2020, 09:19 WIB

Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif


Ihfa Firdausya | Humaniora

MENTERI Sosial Juliari Batubara menginginkan fungsi rehabilitasi sosial di Kementerian Sosial (Kemensos) benar-benar bisa dirasakan manfaatnya. Menurutnya, para penerima manfaat harus memiliki peluang untuk diberdayakan.

"Khususnya program-program rehabilitasi bagi orang-orang yang memiliki permasalahan sosial. Seperti disabilitas, NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya), anak, dan lansia," ungkap Mensos dalam acara Temu Media di Bogor, Jumat (13/3) malam.

Dia mengungkapkan bahwa pemberdayaan para penerima manfaat dari program-program rehabilitasi sosial di bawah Kemensos harus diperhatikan. Mensos pun meminta kepala-kepala balai lebih proaktif mengundang dunia usaha.

"Baik itu dari BUMN, swasta, maupun pemerintah daerah untuk melihat kemampuan dari para penerima manfaat di balai-balai kami sehingga kami harapkan begitu selesai di balai-balai kami (mereka) bisa bekerja," jelasnya.

Dalam kunjungan ke salah satu balai rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan Napza (narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif) di Ciseeng, Bogor, kemarin (13/3), Kepala Biro Humas Kemensos, Wiwit Widiansyah menyebut terdapat sekitar 41 balai rehabilitasi sosial di bawah Kementerian Sosial. Sementara itu, untuk rehabilitasi Napza, terdapat 5 balai di bawah Kementerian Sosial.

"Antara lain di Ciseeng Bogor, Bambu Apus Jakarta, Baturaden, di Medan, terbaru di Takalar, Sulawesi Selatan," katanya.

Awak media berkesempatan menyambangi salah satu di antaranya, yakni Balai Rehabilitasi Sosial NAPZA Galih Pakuan, Ciseeng, Bogor, Jumat (13/3).

"Balai inilah yang memang cukup prestisius karena menjadi role model buat balai-balai yang lain," ungkap Wiwit.

Di tanah seluas kurang lebih 8 hektare, Balai Rehabilitasi Galih Pakuan, bisa menampung sekitar 380 orang. Menurut Kepala Balai, Wahidin, saat ini terdapat 153 orang yang menjalani proses rehabilitasi di Galih Pakuan.

Sejak Januari 2020, katanya, total sekitar 284 orang telah keluar masuk Balai Rehabilitasi Sosial Napza Galih Pakuan.

"Kami fokus ke pelayanan Napza. Penerimaan di sini ada rujukan dari kepolisian, keluarga ataupun lembaga lain," ujarnya pada kesempatan yang sama.

Sarana yang dimiliki Galih Pakuan pun terbilang cukup lengkap. Antara lain empat gedung asrama, ruang kesenian, lapangan upacara, lapangan sepak bola, ruang poliklinik, masjid, ruang komputer, ruang fitnes, perpustakaan, dan masih banyak lagi.

Berbagai jenis terapi pun disiapkan. Seperti terapi fisik, terapi psikososial, terapi mental spiritual, dan terapi penghidupan (livelihood).

"Kita Galih Pakuan siap menerima klien 24 jam," ungkap Wahidin.

Muhammad Yusuf atau akrab disapa Bro Cupi, 38, merupakan salah satu produk binaan Galih Pakuan yang cukup membanggakan. Katanya, tempat tersebut berhasil mengubah hidupnya setelah malang melintang di 13 tempat rehabilitasi.

"Saya seorang recovering addict, kalau dibilang mantan (pecandu) saya belum mantan karena pecandu itu endingnya di liang lahat, baru recovery-nya done," ungkapnya.

"Jadi selama saya masih hayat di kandung badan, saya masih memaintain recovery, saya masih bilang diri saya recovering addict. Karena saya bisa jatuh kapan saja. Mudah-mudahan tidak, mudah-mudahan didukung terus sama Kemensos," imbuh pria berperawakan tinggi-besar itu.

Bro Cupi sudah mencicipi heroin dan putau sejak ia masih SMP di tahun 90-an. Dia mengaku setelah itu hidupnya banyak dihabiskan di tempat rehabilitasi.

"Galih Pakuan adalah rehabilitasi saya yang ke-13. Saya di sini sudah 6 tahun, sebelumnya saya bisa dibilang jadi gembel di luar 2 tahun, tidur di terminal Lebak Bulus," ungkapnya.

Di Galih Pakuan dia bisa memantain dirinya untuk jadi recovering addict. Hingga dalam setahun terakhir Bro Cupi dipercaya menjadi salah satu konselor di tempat tersebut.

"Saya jalani program, saya clean up. Dalam proses itu saya jalani semua sendiri, tidak ada orang tua, tidak ada dukungan-dukungan, cuma pure dukungan dari Galih Pakuan," tuturnya.

"Yang saya lakukan (sebagai konselor) ya program, bawain seminar, atau apa yang sudah dapet di 13 rehab itu saya bagi kepada teman-teman di sini," imbuhnya.

Dia menyesali keterjerumusannya pada dunia narkoba. "Saya sudah kehilangan anak, istri, semua sudah ninggalin saya, orang tua juga tidak mau bertemu dengan saya beberapa tahun. Benar-benar sendiri," katanya.

Keinginannya saat ini adalah melawan stigma masyarakat kepada para pecandu tersebut. Menurutnya, mereka membutuhkan bantuan berbagai pihak untuk bisa keluar dari adiksinya.

"Saya titip pesan bagi media untuk bantu menghancurkan stigma di luar sana. Kasian teman-teman yang mau pulang, tapi dijauhi oleh masyarakat karena dia pecandu," pungkasnya. (Ifa/OL-09)

BERITA TERKAIT