14 March 2020, 05:00 WIB

Geopark Meratus Mulai Bersolek


Denny Susanto | Nusantara

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) mengembangkan secara serius sejumlah geosite di wilayah Geopark Pegunungan Meratus untuk dijadikan wisata andalan daerah.

Dengan menyandang posisi strategis sebagai gerbang ibu kota negara di Kalimantan, diharapkan Kalsel dapat memberikan peng­aruh positif bagi pembangunan di sektor pariwisata.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalsel, Nurul Fajar Desira, meng­ungkapkan pengembangan sektor wisata diharapkan dapat mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) di luar sektor tambang.

“Geopark Pegunungan Meratus ditargetkan bisa menjadi global geopark Unesco pada 2021 mendatang. Untuk itu, beberapa geosite akan dibenahi menjadi objek wisata andalan,” jelas Nurul, beberapa waktu lalu.

Saat ini, Geopark Pegunungan Meratus berstatus sebagai geopark nasional yang mencakup 67 geosite dan tersebar di 10 kabupaten/kota. Geosite terbanyak terdapat di kawasan Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah.

Adapun tempat yang ditetapkan sebagai geosite, antara lain hutan, goa, air terjun, danau, perbukitan, pegunungan karst, dan lembah, termasuk kawasan pendulangan intan Cempaka Kota Banjarbaru.

Menurut Kepala UPT Geopark Pegunung­an Meratus, Fajar Desira, beberapa geosite yang menjadi andalan Kalsel, antara lain kawasan pendulangan intan Cempaka Kota Banjarbaru, Tahura Sultan Adam Mandiangin Kabupaten Banjar, dan kawasan batu plateogranit di Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu.

Di samping wisata alam dan budaya, Kalsel juga mulai mengembangkan wisata minat khusus berupa wisata pertualangan, seperti rafting, tubing, cycling, dan water sport.

Direktur Borneo Riam Outdoor (BRO) Kalsel, Bandi Chairudin, mengatakan cikal bakal wisata pertualangan sudah ada sejak lama. Namun, baru menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia, termasuk Kalsel. BRO merupakan salah satu operator di bidang wisata pertualangan.  

Akses memprihatinkan

Akses menuju kawasan air terjun Batu Tilam di Desa Kebun Tinggi, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, memprihatinkan karena keterbatasan sarana infrastruktur jalan yang hingga kini belum memadai. Padahal, keindah­an kawasan wisata air terjun itu sangat memukau.

Untuk sampai ke kawasan itu, pengunjung harus melintasi jalan tanah, berlubang, dan tanjakan yang curam. Di musim hujan, hanya mobil double gardan dan motor trail atau motor dengan modifikasi khusus yang bisa melintas.

Kepala Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Riau, Ridho Ardiansyah, saat mengunjungi lokasi air terjun Batu Tilam mengatakan untuk membangun dan mengembangkan tempat wisata di Desa Kebun Tinggi itu, pihaknya akan bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Kampar dan pemerintah pusat. (RK/RF/AS/N-3)

BERITA TERKAIT