14 March 2020, 04:30 WIB

Cegah Tanah Longsor dengan Soil Bioengineering


Ferdian Ananda Majni/H-3 | Humaniora

PADA Januari 2020, bencana banjir dan tanah longsor di Kabupten Lebak, Banten, memakan 20 korban jiwa dan berdampak pada 149 ribu jiwa di 182 desa di kawasan tersebut. Belum lagi kerusakan pada rumah warga serta ­infrastruktur lain, seperti jembatan dan jalan raya.

Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisasi tanah longsor yang diakibatkan perubahan lingkungan tersebut, salah satunya ialah soil bioengineering. Teknik ini dikembangkan Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Pusat Litbang Hutan (Puslitbanghutan) dalam menyongsong 107 Tahun BLI KLHK.

Teknik itu mengutamakan peran dari ­ve-getasi, baik pohon, rumput, maupun semak dalam penanganan pengurangan kerawanan tanah longsor. “Pada prinsipnya, bagaimana supaya jumlah air hujan itu sebanyak mungkin diinfiltrasikan atau diserapkan ke dalam tanah, yaitu dengan memperbanyak vegetasi,” ujar peneliti Puslitbang Hutan Prof Chairil Anwar Siregar (CAS) dalam diskusi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Karena sebagian besar air sudah terserap, imbuhnya, air limpasan tidak terlalu banyak. Kecepatannya pun dapat diperlambat dengan bangunan sipil teknis kehutanan.

“Jadi prinsip selanjutnya untuk memperlambat run off atau air limpasan, sehingga daya ‘rusak’ air terhadap tanah berkurang,” kata pria yang akrab disapa Prof CAS.

Berkaca pada kejadian tanah longsor di Bogor dan Lebak, Prof CAS mengungkapkan, tingkat kelerengan tanah berpengaruh besar terhadap tanah longsor. Oleh karena itu, keberadaan vegetasi diperlukan untuk memperlambat run off (air limpasan), memperkecil daya abrasi, sekaligus menjaga kestabilan lereng.

“Tanah longsor terkait dengan kemiringan lereng (slope), dan ini hal yang paling kritis, karena pada malam hari temperatur turun, molekul air membesar, partikel tanah terangkat, dan saat siang hari temperatur tanah kembali normal, dan terjadi perpindahan partikel tanah (soil creep),” sebutnya.

Jika hal ini terjadi di tanah datar, tanah akan kembali ke tempat semula. Tetapi, jika di tanah miring, dengan dukungan gravitasi, pasti tanah akan meluncur.

Peneliti BLI KLHK Budi Hadi Narendra meng­ungkapkan, kestabilan lereng ini dipengaruhi kondisi morfologi, khususnya kemi­ringan lereng, kondisi batuan atau tanah penyusun lereng, dan kondisi hidrologi atau tata air pada lereng. “Teknik soil ­bioengineering dapat menstabilkan kelerengan.”

Berdasarkan hasil kajian hasil kajian Nugraha et.al (2016), pada prinsipnya metode ini berusaha menutupi permukaan lereng yang terbuka dengan tanaman agar akar tanaman dapat meningkatkan kohesi tanah sebagai suatu sistem konstruksi alami penstabil lereng. “Akar juga dapat menyerap air dalam tanah melalui proses transpirasi sehingga dapat menurunkan tegangan air pori,” terangnya.

Bidara laut

Sebagaimana halnya jenis tanaman vetiver yang sedang ramai dibicarakan saat ini, tentunya peranan akar pohon sebagai pencengkeram­an juga menyetabilkan tanah pada lereng, meski tetap bergantung pada faktor lain, seperti sistem morfologi, ­penguatan, distribusi akar, dan interaksi antara ­akar-tanah.

“Bidara laut termasuk yang cocok untuk ditanam di daerah rawan tanah longsor karena selain perakarannya sesuai, jenis pohon ini ukurannya juga tidak besar sehingga tidak terlalu membebani lereng. Akan lebih bagus dikombinasikan dengan vetiver, karena akan membentuk kanopi berstrata atau bertingkat, yaitu tajuk vetiver di lapisan bawah dan bidara di lapisan atas. Tajuk yang berstrata juga akan lebih berperan efektif dalam pengurangan erosi,” paparnya.

Ia menegaskan, soil bioengineering menjadi lebih kuat ketika vegetasi yang ditanam ­tumbuh menjadi besar. Ketika tanaman menjadi lebih besar, sistem perakarannya jadi lebih banyak. Tanah semakin kuat dan ­kestabilan ­lereng kian kukuh. (Ferdian Ananda Majni/H-3)

BERITA TERKAIT