14 March 2020, 04:00 WIB

Jambu Biji untuk Antivirus


Syarief Oebaidillah | Humaniora

JAMBU biji merah, kulit jeruk, dan daun kelor dianggap sebagai salah satu tanaman yang memiliki senyawa penting yang mampu menghambat dan mencegah infeksi virus korona baru (covid-19). Temuan awal itu dipaparkan oleh gabungan peneliti dari Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor (IPB) di Kampus FKUI, Jakarta, kemarin.

Anggota tim peneliti UI Rafika Indah Paramita mengutarakan berdasarkan hasil skrining,­ aktivitas terhadap ratusan protein dan ribuan senyawa herbal terkait dengan mekanisme kerja virus diperoleh beberapa golong­an senyawa yang berpotensi untuk menghambat dan mencegah virus korona menginfeksi manusia.

“Golongan senyawa tersebut antara lain hesperidin, rhamnetin, kaemferol, kuersetin, dan myricetin yang terkandung dalam jambu biji yang berdaging buah merah muda, kulit jeruk, dan daun kelor,“ beber Rafika.

Analisis itu dilakukan dengan menggunakan teknologi big data dan machine learning dari basis data herbal DB Laboratorium Komputasi Biomedik dan Rancangan Obat Fakultas Farmasi UI. Ada 1.377 senyawa herbal yang dipetakan dengan metode struktur dan ligan, kemudian dikonfirmasi hasilnya menggunakan metode pemodelan molekuler.

Dekan FKUI, Ari Fahrial Syam, berharap temuan awal itu bisa meredam kepanikan masyarakat dan tetap mengedepankan pencegahan dengan menjaga stamina tubuh dengan mengonsumsi tumbuhan herbal asli Indonesia yang bermanfaat. “Namun, temuan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut,” kata Ari.

Sebelumnya, pakar biologi virus dari Universitas Gadjah Mada, Profesor Budi ­Setiadi Daryono, juga mendorong pemerintah menindaklanjuti penelitian formula empon-empon atau rempah-rempah yang terdiri atas jahe, kunyit, temulawak, serta serai sebagai pe­nangkal virus korona.

Saat dipercaya menjadi pe­nangkal virus korona, daun ke­lor yang banyak dibudidayakan di daerah Blora, Jawa Tengah, semakin dicari. Kondisi ini tak jauh berbeda dengan jahe merah­ yang harganya naik hingga 5x lipat menjadi Rp80 ribu per kilogram.

Ditambah

Sejak diumumkannya kasus positif virus korona di Indonesia pertama kali pada 2 Maret 2020, hingga kemarin, jumlah pasien yang terinfeksi terus bertambah menjadi 69 orang, termasuk dua anak balita.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengakui pasien yang positif korona paling banyak tinggal di Jakarta karena pasien 01 melakukan interaksi di daerah Kemang, Jaksel. Sembilan rumah sakit di Jakarta kini dijadikan rujukan untuk pasien covid-19, termasuk RS PI Sulianti Saroso dan Rumah Sakit Pertamina Jaya.

Mulai Senin (23/3), RSPI Sulianti Saroso tidak akan lagi menerima pasien umum. “RS tidak melayani lagi rawat inap,” kata Dirut RSPI Sulianti Saroso, Mohammad Syahril.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto meminta seluruh pengurus tempat ibadah, baik masjid, gereja, pura maupun wihara, melakukan tindakan pencegahan penyebaran virus korona dengan menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh ruangan dan lingkungan sekitar. (AD/AS/OL/JH/SL/JI/DW/RF/Ata/Ins/Ssr/Pra/H-2)

BERITA TERKAIT